Jendela Keluarga Berkualitas

Ayahku Seorang Tukang Batu

0

batuDi sekitar masyarakat sekarang ini, yang mencari nafkah untuk keluarga tidak hanya seorang ayah. Tapi itu tidak menjadi masalah, jika suaminya mengizinkannya. Biarpun seperti itu, tetap saja mencari nafkah itu kodratnya untuk seorang suami. Nah, seperti kisah di bawah ini. Seorang ayah yang bekerja sebagai tukang batu, untuk memberi nafkah keluarganya. Agar tidak penasaran, yuk ikuti penjelasan berikut.

Seorang ayah tanpa sengaja mendengar percakapan istri menasehati anaknya yang merasa rendah diri karena ayahnya seorang tukang batu (kuli).

“Nak apakah kamu tahu, bahwa gedung bertingkat, jalan tol, jembatan layang bisa digunakan butuh orang seperti ayahmu untuk mengerjakannya, memang ada para pengusaha dan investor untuk membiayainya.”

“Ada arsitek dan desain interior yang merancangnya dan juga ada para manager dan mandor yang mengawasinya.”

“Tapi tanpa ada orang seperti ayahmu yang menggali tanah, mengaduk pasir dan semen, menyusun batu kali untuk pondasi, kemudian menjadikannya sebuah tembok yang kokoh dan tidak mudah ambruk, semua impian mereka tidak akan terwujud tanpa orang-orang seperti ayahmu.”

“Disetiap rumah sakit, bank, gedung perkantoran, terdapat sidik jari dan butiran keringat ayahmu, yang melekat didinding bangunan itu,” lanjut si ibu dengan kasih sayang.

Si anak kemudian menghampiri dan memeluk ibunya sambil berkata, “Terimakasih ibu, engkau telah membuat saya percaya diri dan bangga mempuyai ayah seorang tukang batu”.

Si ayah yang mendengar percakapan mereka masuk dan berkata ”Terimakasih kalian telah membuat hidup ayah menjadi sangat berarti,” kata si ayah sambil mengelap air mata.

“Hargailah seseorang atas apa yang telah diperbuatnya untuk orang banyak, dan jangan lihat siapa orangnya.” [ia]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.