Jendela Keluarga Berkualitas

Berbuka Di Jiran, Berlain Iman

0 17

 

,  ,Berbuka Di Jiran, Berlain ImanOleh: Yusuf Maulana

Sungguh tak ada halangan kita menerima undangan berbuka atau sahur di rumah pemeluk agama lain. Demikian pula bila ajakan dari pemeluk agama lain itu di tempat ibadah mereka. Aspek ibadahnya ada pada menepati jadwal berbuka dan bersahur. Soal menu dan tempat itu urusan teknis dunia.

Hanya saja, meski urusan dunia, tentu tetap memerhatikan soal yang tidak menabrak rambu syariat. Bolehnya menerima undangan tuan rumah beragama di luar Islam untuk berbuka atau sahur, ketika sudah yakin bahwa menu makanannya terjamin halal. Dari soal bahan hingga cara pengolahan. Kalau tuan rumah paham ini, dia akan paham saudaranya yang Muslim akan lebih aman lahir batin. Maka akan beli menu dari lapak yang dimiliki Muslim, atau paling tidak ada label halal MUI.

Saya yakin, ketimbang dicurigai akan ada apa-apa, jiran non-Muslim akan lebih transparan dan akuntabel manakala menu itu bukan racikan sendiri. Kecuali jelas-jelas ia punya dapur masak atau warung makan yang berlabel halal. Atau, ia sendiri memiliki selera seperti saudaranya yang Islam.

Soal berikutnya, bagaimana dengan harta si tuan rumah atau pengundang? Kalau ini tidak melihat non-Muslim atau Muslimnya. Kalau dari korupsi atau mengembat uang rakyat, meski Muslim, lebih aman tidak penuhi undangannya.

Termasuk dari pejabat atau tokoh yang punya masalah tidak beretika dalam usahanya. Mau contoh? Kalau Anda diundang tokoh partai yang kerap beriklan untuk jadi presiden RI, tapi soal warga yang disengsarai oleh salah satu usahanya diam saja, apakah Anda tetap datang? Ingat, di balik hartanya yang ratusan miliar, ada uang panas dari perilakunya. Berhati-hatilah.

Kalau tuan rumah non-Muslim yang mengundang kita berbuka atau sahur itu dananya jelas, ya ini tak jadi soal. Lain perkara kalau ternyata dana itu dari pos pengonversian pemeluk Islam, alias permurtadan. Ini tidak boleh diterima. Lho tahunya dari mana? Lihat saja kiprah si tuan rumah selama ini? Lebih banyak bicara kemanusiaan tanpa tendensi, ataukah berbicara kemanusiaan dengan motivasi ‘menyelamatkan gembala sesat’ di luar sana?

Jadi, kalau janda mendiang salah satu presiden kita berkeliling aktif sahur di tempat ibadah umat lain itu sah-sah saja ketika semua catatan di atas tercapai. Kita lupakan dulu acara pamer toleransi dan kampanye kerukunan, yang boleh jadi memiliki muatan nilai. Yang perlu ditelisik adalah seberapa tinggi komitmen keteguhan orang-orang macam itu untuk bertoleransi dengan sesama pemeluknya.

Ketika banyak kejadian memilukan di negeri Islam, bahkan di dalam negeri, adakah kepedulian tanpa seleksi? Atau, jangan-jangan bicara muluk-muluk soal kebhinekaan, perlindungan minoritas, kerukunan, dan wacana indah lainnya hanya sebuah proyek memanfaatkan Ramadhan?

Buktinya bukan di pemuatan dan pembelaan di media besar di negeri ini, melainkan dari konsistensi yang bersangkutan dalam menghadapi persoalan ketidakadilan. Tidak hanya giat membela saat yang jadi korban kalangan sasaran proyek yang dilakoninya selama ini saja, tapi juga warga lain yang jauh terpikir masuk di daftar proyek. Muslim Rohingya atau saudara seimannya di Ambon akankah terpikir di benak sosok semisal mantan ibu negara kita di atas? []

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan