Fastabiqul Khairat (1)

0 959

muslimah cantikDi dunia ini kita hidup hanya sementara. Jadi, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin. Nah, salah satu caranya yaitu dengan melakukan fastabiqul khairat. Fastabiqul khairat secara harfiah memiliki arti berlomba-lomba dalam kebaikan. Manusia diperintahkan untuk berlomba dalam berbuat kebaikan terhadap manusia dan alam sekitarnya. Kebaikan ini akan mendatangkan pahala dan kebahagiaan di akhirat kelak.

Dalam Islam, istilah fastabiqul khairat ini merujuk pada firman Allah SWT sebagai berikut:

“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan,” (QS. Al-Maidah ayat 2).

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan,” (QS. Al-Baqarah ayat 148).

Yang namanya berlomba-lomba itu berarti siapa lebih cepat, “fastabiqul” bermakna berlomba adu cepat dan “khairat” itu berarti lebih baik.

Jadi memang siapa lebih cepat (dalam mengerjakan kebaikan) maka dia lebih baik (dari manusia lainnya) dan karenanya maka disukai oleh Allah SWT. Sebaliknya yang menunda-nunda dan lambat dalam mengerjakan kebaikan akan kurang disukai oleh Allah SWT apalagi yang sampai tidak mau mengerjakan suatu kebaikan seperti perintah Tuhan dan menjauhi larangannya (amar ma’ruf nahi munkar) sangatlah dimurkai oleh Allah SWT.

Demikianlah pemaknaan bebas dari istilah fastabiqul khairat.

Memang suatu kebaikan tidak boleh ditunda pelaksanaannya. Manusia saja menganggap menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan.

Tentu Anda pernah merasakan bagaimana lama dan menjemukannya mengurus sesuatu misalnya KTP, atau mengurus izin yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Anda tentu merasa kesal.

Bayangkan apabila hal yang sama Anda lakukan kepada Allah Azza Wa Jalla yang menguasai alam semesta.

Bagaimana murkanya Allah SWT kepada hamba yang dengan sengaja telah membuat Beliau menunggu.

Sebenarnya Allah SWT tidak membutuhkan kebaikan tersebut, justru kebaikan tersebut adalah untuk manusia itu sendiri.

Namun karena sifat Maha Penyayang, maka Dia memerintahkan manusia untuk berbuat baik dan menjadi semakin baik dari hari ke hari agar mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:

“Hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”.

Maka barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia adalah orang yang celaka.

Sementara orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin disebut sebagai manusia yang merugi atau mengalami kerugian karena tidak mau berusaha maka dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Barang siapa yang sudah baik hari ini dibanding hari kemarin tetapi hari esok ternyata kembali menjadi lebih buruk seperti hari kemarin, maka dia tergolong manusia munafik yang kufur nikmat karena telah diberikan rizki dan pengetahuan mengenai kebaikan namun ternyata memilih kembali berbuat buruk/jahat.

Dan sebaik-baik manusia adalah yang hari ini lebih baik dari hari sebelumnya dan esok akan lebih baik dari hari ini serta menjadi semakin baik pada hari-hari berikutnya sampai ajal menjemputnya. Itulah yang disebut dengan khusnul khatimah, karena istiqomah dalam berbuat kebaikan.

Allah SWT berfirman: ”Dan carilah pada apa-apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu, kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu lupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Al-Qashash ayat 77).

Kebahagiaan negeri akhirat adalah keinginan dari kita semua, hal ini tidak akan pernah terwujud dan sulit untuk meraihnya kalau setiap diri tidak berusaha membuka jalan ke arah kenginan tersebut.

Allah tidak menyukai dan tidak menyuruh umat manusia memfokuskan diri soal akhirat semata dengan meninggalkan dan mengesampingkan jatah kenikmatan dan kesenangan hidup di dunia ini.

Hendaknya setiap diri harus bisa mempergunakan kenikmatan maupun kesenangan dunia sebagai kendaraan untuk mendapatkan kebahagiaan negeri akhirat dengan segenap kemampuan yang diberikan-Nya.

Firman Allah SWT: “Rabbana aatina fiddunya hasanatan wa filakhirati hasanatan waqiina ‘azabannar,” (QS. Al-Baqarah ayat 202). Artinya: “Berikanlah aku kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkanlah dari panasnya api neraka”.

Ayat tersebut mengandung arti, bahwa kebaikan di akhirat dan dijauhkannya seseorang hamba dari panasnya api neraka itu hanya dapat dicapai apabila di dalam kehidupan dunianya seseorang hamba telah mendapatkan kebaikan terlebih dahulu yaitu dengan cara mempraktekkan “fastabiqul khairat”.

BERSAMBUNG

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline