Inilah Salah Satu Wanita yang Membuat Rasul Bahagia (1)

0 30

,  ,Inilah Salah Satu Wanita yang Membuat Rasul Bahagia (1)Berita tentang kedatangan seorang nabi di Jazirah Arab, pembawa ajaran agama dari langit yang baru telah tersebar sampai di kalangan rakyat Mesir. Berita itu diperkuat oleh kedatangan utusan Rasulullah SAW, Hathib bin Abi Balta’ah yang menyampaikan surat kepada Muqauqis.

Setelah membaca surat dari Rasulullah SAW itu, dengan hati-hati dan penuh hormat Muqauqis menyimpan surat tersebut dalam sebuah kotak yang terbuat dari gading. Lalu ia minta agar Hathib bin Abi Balta’ah menjelaskan pribadi dan sifat-sifat Rasulullah SAW, apa saja yang diperbuat dan bagaimana keadaan para pengikutnya. Ia mendengarkan penjelasan Hathib bin Abi Balta’ah dengan penuh perhatian.

Setelah berpikir beberapa saat, Muqauqis berkata: “ Aku telah mengetahui bahwa seorang nabi akan datang. Menurut perkiraanku, dia akan muncul di Palestina sebab di sana banyak nabi bermunculan. Namun kenyataannya nabi terakhir itu muncul di negeri Arab. Jika aku memeluk agama Muhammad, orang-orang Qibti tidak akan menyetujuinya.”

Tak lama kemudian ia memanggil sekretarisnya untuk menjawab surat Rasulullah SAW. Bunyi surat itu: “Surat Tuan telah saya baca, dan saya memahami dan mengerti apa yang Tuan maksudkan. Sejak lama saya telah mengetahui akan datangnya seorang nabi yang saya perkirakan akan muncul di negeri Syam. Utusan Tuan kami hormati sebagaimana layaknya. Dan bersama ini saya kirimkan dua wanita yang punya kedudukan tinggi di Qibti. Selain itu juga saya kirimkan sejumlah pakaian dan ternak. Selamat Sejahtera bagi Tuan.”

Maria Al-Qibtiyah lahir di desa Hifn, dekat kota kuno Anshina di sebelah timur sungai Nil. Di belakang namanya ada gelar Al-Qibtiyah, karena ia berasal dari suku Qibti, Mesir, yang beragama Kristen ortodoks. Ayahnya bernama Syam’un, asli Qibti, sedangkan ibunya berdarah Romawi beragama Nasrani. Ketika menginjak remaja, ia dan saudaranya Sirin, diambil oleh Muqauqis sebagai dayang-dayang.

Berbeda dengan para istri Rasullah saw yang lain, Maria Al-Qibtiyah adalah seorang sariyyah, yaitu istri yang sah menurut syariat tapi tidak berstatus resmi sebagai istri sepenuhnya. Oleh karena ia adalah “hadiah” dari Gubernur Mesir, Muqauqis. Jadi status sosialnya hamba sahaya, tapi secara syariat sah sebagai istri. Di masa silam, masyarakat Arab menyebut istri seperti itu sebagai ummul walad, ibu si anak.

Kehadiran Maria Al-Qibtiyah ternyata membuat para isteri Nabi tidak senang. Menurut mereka, Maria Al-Qibtiyah tidak patut menjadi istri Nabi, karena ia keturunan budak (hamba sahaya). Namun hal itu langsung dijawab oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah At-Tahrim ayat 1, “ Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu, demi menyenangkan istri-istrimu?” Ayat itu juga merupakan ajaran kesetaraan, bahwa Islam tidak membedakan status sosial, etnis dan jenis kelamin.

Pernah suatu hari Maria Al-Qibtiyah yang berada jauh dari masjid menemui Nabi Muhammad SAW, lalu disuruh masuk ke rumah Hafshah, salah seorang istri Nabi yang sedang pergi ke rumah ayahnya Umar bin Khatthab.

BERSAMBUNG

(Visited 36 times, 1 visits today)

Anda mungkin juga berminat Lagi daripada pengarang

Tinggalkan Balasan