Inspirasi Pak Bari

0 185

Oleh: Nur Afilin
Adzan Subuh belum berkumandang. Dari arah timur Gang Sutejo sosok Pak Tua itu berjalan tenang. Begitu sejajar, seperti biasa kami bersalam-jawab lantas berjabatan tangan.

“Badhe pangkat, Pak?1,” tanyaku retoris.
“Inggih, Mas. Pareng,2” jawabnya sambil berlalu melanjutkan perjalanan sucinya.
“Mangga, Pak,3” jawabku singkat.

Kami memang tidak sedang menuju masjid yang sama. Beliau akan ke Masjid Al-Mubarok, sedangkan aku memilih Masjid At-Taqwa.


Kejadian demikian bukan satu dua kali saja. PakBari. Begitu biasa kami sedesa ini memanggil beliau. Dan kini mustahil kami bisa berpapasan lagi dalam perjalanan Subuh. Meski sekarang saya sedang pulang ke desa, namun kini beliau pun telah pulang ke “desa” yang abadi.

Beberapa hari lalu Abah (ayah saya) memberi kabar duka itu via sms. Pak Bari sudah meninggal pada lalu. Tanpa menunggu lama, sore itu juga langsung diproses kemudian dikebumikan di pemakaman sebelah utara desa kami. Sore kemarin sepanjang perjalanan menuju rumah dari jalan pantura, Abah yang sengaja menjemput saya berkisah tentang akhir hayat Pak Bari.

Beliau meninggal di becak. Posisinya mirip penumpang yang sedang duduk tertidur. Awalnya tak ada satu pun yang mengetahui kepergiannya. Hingga menjelang waktu Ashar salah satu anaknya menghampiri. Bermaksud membangunkan untuk menawarinya minum teh manis panas, ternyata Pak Bari telah pergi menghadap Ilahi. Begitu Abah bercerita sekilas tentang detik-detik terakhir Pak Bari di dunia ini.

Bagi saya, Pak Bari adalah inspirasi. Sebagaimana banyak orang lain lagi yang saya akui amat menginspirasi. Khusus untuk di desa ini, beliau adalah salah satu inspirasi. Mengapa?

Pak Bari memang “hanya” wong cilik. Pekerjaannya dulu ialah menarik becak. Dulu? Ya, karena sudah lebih dari setahun ini (kalau saya tak salah taksir) beliau tak lagi menarik becak. Jelas kami semua memakluminya. Tenaga dalam usia senja tentu amat tak mendukung.

Inspirasi utama dari seorang Pak Bari ialah keistiqomahan dalam shalat Subuh berjamaah di masjid. Satu hal yang sulit bagi sebagian besar kaum Muslimin dewasa ini, termasuk saya pribadi. Tapi, dalam usianya yang tak lagi muda, rutinitas suci itu seakan sudah tersetting otomatis. Demikian yang disaksikan banyak orang di sekelilingnya.

Tak tanggung-tanggung beliau biasa jalan kaki dari rumah menuju Masjid Al-Mubarok di RW 01. Setahu saya, hanya shalat Subuh dan shalat Jum’at saja beliau ke sana. Terkadang beliau menyelingi ke Masjid Ash-Shofa di RW 05. Selebihnya, beliau biasa memakmurkan Masjid At-Taqwa kompleks TK ‘Aisyiyah di RW 03 dekat rumahnya. Saya belum tahu pasti motivasi beliau mengkhususkan Shalat Subuh hingga rela berjalan kaki cukup jauh setiap harinya. Namun, kalau kita coba menerka tentu itu bukan tanpa motif.

Bisa jadi Pak Bari mengerti konsep Subuh sebagai waktu istimewa. Jangankan shalat Subuh, dua raka’at shalat sunnah sebelum (qabliyah) Subuh saja Rasulullah SAW gambarkan lebih baik daripada bumi dan seisinya. Bagaimana dengan shalat Subuh berjama’ah di masjid itu sendiri? Dan Allah Mahakaya lagi Luas Karunia-Nya.

Bisa jadi juga Pak Bari meyakini melangkahkan kedua belah kaki ke masjid adalah salah satu aktivitas terbaik. Bukankah di masjid kita bisa mengawinkan ibadah individual dan sosial sekaligus? Shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an, silaturahim, dan bertegur sapa sesama jamaah bisa dengan mudah kita kerjakan.

Atau bisa jadi Pak Bari merasa prihatin akan nasib masjid sebagai rumah besar kaum Muslimin. Sebagaimana kita jumpai, saat ini masjid hanya ramai pada saat hari Jum’at. Bagaimana nasib shalat lima waktu yang hukumnya wajib? Hanya beberapa personel saja yang bertahan menyambangi masjid. Begitulah faktanya.

Pun bisa jadi Pak Bari tahu diri bahwa dirinya bukan lagi pemuda. Bukankah usia tua identik dengan “bau tanah”? Tapi, sebentar dulu, kawan. Bukankah sekarang tak kurang teman main seusia atau malah lebih muda dari kita telah menjumpai ajal? Lalu, apakah masih relevan jargon yang mengisyaratkan hanya orang tua saja yang harus totalitas dalam beribadah? Tidak maukah kita masuk sebagai satu dari tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah SWT di Yaumul Mahsyar kelak?

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: …. pemuda yang tumbuh dalam kebiasaan ibadah kepada Rabbnya….” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak kemungkinan lain. Yang sudah pasti, sekali lagi, di balik kegigihan Pak Bari tentu ada motivasi tinggi yang berhasil mengalahkan segala apologi dan “alibi”. Bukan perkara utama bagi kita untuk mengetahui jawaban “mengapa” dari Pak Bari. Menurut saya, mengambil inspirasi dari teladan beliau adalah lebih utama. Jika Pak Bari “saja” bisa, tentu kita seharusnya lebih bisa. Wallahu a’lambishshawab.

Pemalang, 20 Shafar 1435 H/ 23 Desember 2013

NB:
1Mau berangkat, Pak?
2Iya, Mas. Mari.
3Silakan, Pak.

Bisa juga dibaca di tautan berikut:
http://eramadina.com/inspirasi-pak-bari/

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline