Kelembutan Sahabat Rasul pada Istrinya

0 239

 

untaDan di antara bentuk kelembutan sahabat bersama istri-istri mereka adalah hadits yang diriwayatkan dari Jabir ra ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apakah kalian memiliki hamparan (permadani)?” Aku (yakni Jabir) menjawab: “Mana punya kami?” Beliau berkata lagi: “Bukankah sudah ada hamparan itu?”

Aku berkata kepada istrinya (salah seorang sahabat lain): “Ya sudah gelarlah hamparan itu untuk kami.” Istrinya berkata: “Bukankah Rasulullah sudah bilang bahwa akan ada hamparan untuk kalian?” Maka akupun membiarkannya (menggelar hamparan tersebut). (HR. Bukhari dan Muslim).

Disebutkan oleh Imam Bukhari bahwa Ibnu Umar memanggil Abu Ayyub. Lalu Abu Ayyub melihat di rumah Ibnu Umar sebuah tirai yang tergantung di tembok. Ibnu Umar berkata: “Kami didahului oleh istri kami.” Abu Ayyub berkata: “Orang yang pernah aku khawatirkan selama ini tidak aku khawatirkan terjadi atas dirimu,” (HR. Bukhari dalam Kitab Nikah, juz 11, hal 158).

Bentuk lain kelembutan para istri terhadap suami-suami mereka adalah kelembutan para istri nabi (ummahat mukminin) terhadap Rasulullah saw dan doa mereka untuk beliau. Diriwayatkan dari Anas  ra bahwa: “Rasulullah saw membuatkan roti dan daging untuk Zainab binti Jahsy. Lalu aku dikirimi makanan itu untuk mengundang orang-orang. Maka datanglah suatu kaum lalu mereka makan dan pergi, datang lagi yang lain, kemudian makan dan pergi. Lantas Nabi shallallahu alaihi wasalaam keluar menuju kamar Aisyah sambil berucap: Assalamualaikum ahlil bait warahmatullah.’ Aisyah menjawab: Wa’alaikassalam warahmatullah. Bagaimana keadaan keluargamu? Semoga Allah memberkahimu.’ Lalu beliau menuju kamar-kamar istri beliau yang lain. Beliau juga berucap seperti yang diucapkan kepada Aisyah. Dan merekapun menjawab seperti ucapan yang dikatakan Aisyah. Dalam riwayat Muslim disebutkan: ‘Maka beliau mengucapkan salam kepada mereka dan mendoakan mereka. Dan mereka pun juga mengucapkan salam kepada beliau dan mendoakan beliau,’” (HR. Bukhari).

Aisyah ra meringankan beban Rasulullah saw. Ia berkata: “Ketika Rasulullah saw teringat gugurnya Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawawah, beliau duduk bersedih. Aku melihatnya dari balik pintu rumah. Sekonyong-konyong datanglah seorang laki-laki dan berkata: Sesungguhnya istri-istri Ja’far…(sambil menyebut-nyebut tangisan mereka). Lalu Nabi menyuruh laki-laki untuk melarang mereka (ketiga istri sahabat yang syahid). Lalu pergilah orang itu. Kemudian datang untuk yang kedua kalinya dan menyebut bahwa mereka tidak menaatinya. Beliau saw berkata: “Laranglah mereka.” Ketiga kalinya ia datang sambil berkata: Demi Allah mereka telah menguasai kami ya Rasulullah. Aisyah berkata: ‘Aku mengira laki-laki ini mengatakan:  ’Tutuplah mulut-mulut mereka dengan tanah—kiasan untuk menutup mulut mereka agar mereka bungkam.’ Aku (yakni Aisyah) berkata: “Semoga Allah memarahimu. Engkau belum melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah kepadamu. Dan engkau tidak akan meninggalkan beliau lepas dalam kesusahannya,” (HR. Bukhari dan Muslim). []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline