Jendela Keluarga Berkualitas

Kultum Peruntuh Iman

0

 

kultum-ramadhanOleh: Yusuf Maulana, Lahir di Cirebon dan ketika dewasa tinggal di Yogyakarta. Setia menekuni industri kreatif dalam dunia literasi. Senang menyimak komunikasi politik dan bertukar ide dengan aktivis mahasiswa.

Petang memeluk malam, lelaki dosen itu mendapat giliran kultum menjelang Tarawih ditegakkan. Lelaki yang juga takmir di masjid kampus negeri di Jawa itu mengangkat bahasan pentingnya bergegas dalam berbuka puasa.”Buka puasa itu cukup minum air putih!” ujarnya bersemangat di hadapan jamaah.

Suasana ceramah yang semula senyap dan penuh ilmu di awal-awal sang dosen naik mimbar seketika mengejutkan banyak jamaah.

“Tidak seperti yang saya lihat kemarin. Sudah Maghrib malah masih makan. Padahal, mahasiswa itu dari ……” Disebutlah nama organisasi mahasiswa Islam, yang pegiatnya sering memakai masjid itu.

Tidak sekali, tapi berkali-kali nama organisasi mahasiswa itu disebut.

Petang menjelang malam itu, nasihat di awal ceramah sang dosen sepertinya ingin menyajikan sebuah contoh. Contoh yang mestinya harus dilakukan mahasiswa aktivis Islam. Contoh ironi, mungkin. Mungkin untuk menguatkan dan memperingatkan jamaah yang banyak mahasiswa, berkali-kali nama organisasi itu disebut. Hingga,tak lagi sebagai sebuah nasihat seorang pendidik, seorang pencerah, apalagi ketua takmir, yang terujar.

Petang itu, entah dengan maksud apa, tausiyah yang dimukadimahi amat bagus, dilakukan dengan menyebut nama anak-anak muda sehitungan jari. Tapi, entah dengan motif apa, sang dosen agama itu seperti tak puas mengucap nama organisasi segelintir anak-anak muda yang boleh jadi kelaparan selepas aksi atau mungkin kuliah.

Anak-anak muda yang tak lebih dari hitungan jari itu menanggung malu. Di hadapan ratusan pasang mata, organisasinya disebut-sebut, kendati berbuka puasa dengan memilih makan bukan kebijakan lembaganya. Anak-anak muda yang boleh jadi punya rukhsah untuk menuntaskan makan ketimbang berjamaah Maghrib tidak diberi ruang untuk berdialog. Sayang, mereka yang segelintir dipermalukan justru oleh sosok yang mestinya selaku sang pencerah.

Namun mata hati jamaah petang menuju malam itu tidak sekelam suasana di luaran masjid. Masih banyak noktah terang di hati-hati jamaah. Pembongkaran kesalahan anak-anak muda aktivis itu justru bisa berbuah pahit bagi sang penceramah.

Ya, untuk sekaliber akademisi; untuk semumpuni seorang pendidik dan ulama; untuk sehebat aktivis partai reformis; untuk sedalam ilmu master hukum, semestinya tak perlu ada pembukaan aib sekaligus pemublikasian kedunguan dirinya. Apa mau dikata, niat baik untuk meluruskan anak-anak muda yang (mungkin) khilaf, cercaan di hadapan jamaah yang lebih butuh ketenangan alih-alih amarah, justru berbuah tak elok bagi sang penutur tudingan.

Saya tidak tahu apa yang kemudian diutarakan dia tatkala sekumpulan anak-anak muda dari organisasi yang baru saja dipemalukan itu mendatangi sang dosen. Meluruskan bagaimana adab mengkiritik dan sekaligus meminta maaf. Saya tidak tahu bagaimana paras muka lelaki peraih master hukum itu setelah mendengar permintaan maaf anak-anak muda itu.

Saya tidak tahu apakah dosen itu paham bahwa semestinya dialah yang meminta maaf dan  … perlu belajar pada anak-anak muda itu! []

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.