Jendela Keluarga Berkualitas

Sederhananya Rumah Tangga Rasul

0

burung

Sebagaimana dengan suami lainnya, terkadang Rasulullah juga mendapat desakan dari istrinya agar memberikan harta benda yang cukup. Cuma jika kebanyakan kita menurut begitu saja, sampai-sampai tega melakukan korupsi agar permintaan istrinya terpenuhi, Rasulullah tidak begitu.

Rasulullah tetap hidup sederhana, dan tidak mau korupsi seperti kebanyakan orang, meski 2 superpower dunia saat itu, Romawi dan Persia, sudah hampir berada di kakinya. Beliau tetap tidur di atas tikar sehingga berbekas di punggung beliau, dan di kamarnya cuma ada segantang gandum. Hal ini tentu sangat beda dengan para pemimpin negara-negara Islam sekarang yang hampir semua hidup mewah dengan tinggal di istana, naik mobil mewah, bahkan punya pesawat pribadi, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Rasulullah bahkan terpaksa menjauhi istri-istrinya selama sebulan, agar mereka sadar, dan tidak meminta harta benda yang beliau tidak punya. Beliau memberikan pilihan pada istri-istrinya, jika ingin harta benda dunia, silahkan bercerai, tapi jika ingin keridhaan Allah dan Rasulnya, maka Allah akan memberikan pahala yang besar.

Hadits yang mengisahkan krisis Rumah Tangga Rasulullah SAW:

“Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w disuruh untuk memberikan pilihan kepada isteri-isterinya, Rasulullah mulai dengan aku.

Rasulullah bersabda: Aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu dan aku harap kamu tidak terburu-buru mengambil suatu keputusan sebelum kamu pertimbangkan dengan kedua orang tuamu. Kata Aisyah r.a aku sudah tahu bahwa kedua orang tuaku sama sekali tidak menghendaki berpisah dengan Rasulullah apalagi menyuruhku. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia berfirman: Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Jika kamu sekalian inginkan kehidupan dunia dan segala perhiasannya, maka marilah akan kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik dan jika kamu sekalian inginkan keredaan Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu pahala yang besar (Al Ahzab:28-29).

Aku berkata: Jadi tentang soal inikah aku disuruh untuk meminta pertimbangan daripada dua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan RasulNya serta kesenangan di negeri Akhirat. Ternyata isteri-isteri Rasulullah s.a.w yang lain juga mengikuti apa yang aku lakukan itu” [Bukhari-Muslim]

“Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab r.a katanya: Ketika Nabi s.a.w menjauhi isteri-isteri Rasulullah, aku masuk ke dalam masjid. Aku melihat orang ramai menghentak-hentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Itu terjadi sebelum isteri-isteri Nabi diperintah supaya memakai hijab. Umar berkata: Aku yakin ada kejadian penting pada hari itu. Aku terus menemui Aisyah r.a dan bertanya: Wahai puteri Abu Bakar! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Aisyah r.a menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putera al-Khattab? Kamu nasihati saja puterimu sendiri.

Aku segera menemui Hafsah r.a dan aku berkata kepadanya: Wahai Hafsah! Apakah perbuatan yang telah kamu lakukan sehingga menyakiti Rasulullah s.a.w? Demi Allah, aku tahu bahawa sesungguhnya Rasulullah s.a.w tidak menyukaimu. Seandainya tidak ada aku, pasti Rasulullah s.a.w telah menceraikan kamu. Mendengar ucapan itu lalu Hafshah menangis tersedu-sedu. Aku bertanyakan kepadanya: Di mana Rasulullah s.a.w berada? Dia menjawab: Di tempat pengasingannya. Aku terus menuju ke sana. Di situ aku bertemu dengan Rabah pelayan Rasulullah s.a.w yang sedang duduk di samping pintu sambil melunjurkan kedua kakinya pada sekeping papan. Untuk menemui Rasulullah s.a.w mesti melalui tangga. Dari jauh aku memanggil Rabah: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w lalu memandang aku tanpa berkata apa-apa. Aku mendekatinya dan berkata: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah s.a.w. Sekali lagi Rabah hanya diam sambil matanya memandang ke arah kamar Rasulullah s.a.w kemudian beralih memandangku tanpa berkata apa-apa.

Kemudian dengan suara yang agak kuat aku berkata kepadanya: Wahai Rabah! Izinkan aku untuk menemui Rasulullah. Katakan kepada Rasulullah, bahawa kedatanganku adalah untuk membicarakan tentang Hafshah. Demi Allah! Jika Rasulullah memerintahkan aku supaya memukul tengkuknya akan aku laksanakan perintah Rasulullah itu. Akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku segera masuk menemui Rasulullah s.a.w aku melihat Rasulullah sedang berbaring di atas tikar. Lalu aku duduk di samping Rasulullah. Aku lihat Rasulullah menurunkan kain yang satu-satunya digunanya oleh Rasulullah. Ketika itu aku melihat bekas tikar pada pinggang Rasulullah. Kemudian aku layangkan pandanganku ke sekitar kamar. Tidak banyak barang yang ada di situ kecuali hanya segantang biji gandum terletak di sudut kamar, sebidang kulit yaitu belulang binatang yang belum sempurna disamak dan beberapa barang lain yang tidak berharga sehinggalah aku menitiskan air mata.

Melihat keadaan itu Rasulullah bertanya: Kenapa kamu menangis, wahai putera al-Khattab? Dengan suara tersedu-sedu aku menjawab: Wahai Nabi Allah! Bagaimana aku tidak menangis melihat keadaan kamu yang sangat menyedihkan ini dan tikar yang memberi kesan padamu? Jauh sekali dengan apa yang dinikmati oleh Kaisar dan Raja-raja di sana, sedangkan kamu wahai Rasulullah s.a.w hanya memiliki ini. Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai putera al-Khattab! Mahukah kamu sekiranya akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Sudah tentu aku mau.

Setelah melihat wajah Rasulullah s.a.w sudah mulai kelihatan berseri-seri tidak seperti waktu pertama kali aku masuk, aku memberanikan diri untuk bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah yang memberatkan kamu tentang wanita-wanita yaitu isteri-isteri? Jika kamu ceraikan isteri-isteri kamu sekalipun maka Allah serta seluruh MalaikatNya, Jibril, Mikail, aku, Abu Bakar dan seluruh orang mukmin akan tetap bersama kamu. Aku berharap mudah-mudahan perkataanku itu dibenarkan oleh Allah. Kemudian turunlah ayat takhyir yang menyuruh untuk memilih: Yang bermaksud: Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan begitu pula Jibril dan orang-orang mukmin yang baik serta selain dari itu Malaikat malaikat adalah penolongnya pula. Pada saat itu Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah memang bersepakat untuk mempengaruhi isteri Nabi s.a.w yang lain.

Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Adakah kamu akan menceraikan mereka? Rasulullah menjawab: Tidak! Kemudian aku jelaskan kepada Rasulullah, bahawa sewaktu aku sedang berada di masjid, aku melihat orang ramai masih lagi menghentakkan kaki ke tanah sambil berkata: Rasulullah s.a.w telah menceraikan isteri-isterinya. Kemudian aku berkata kepada Rasulullah: Adakah perlu aku memberitahu mereka bahwa sebenarnya kamu tidak menceraikan isteri-isteri kamu? Rasulullah bersabda: Baiklah, jika kamu mau. Lalu aku berbicara dengan Rasulullah tentang berbagai perkara, akhirnya aku lihat Rasulullah benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan Rasulullah sudah mampu tersenyum dan tertawa. Kemudian kami sama-sama turun dari kamar melalui tangga. Aku berhati-hati semasa menuruni tangga itu, tidak seperti Rasulullah yang kelihatan seperti berjalan di atas tanah dan tangannya tidak berpengang pada apa-apapun. Sebaik saja sampai di bawah. Aku berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Sesungghnya kamu berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya satu bulan itu memang ada dua puluh sembilan hari. Aku terus menuju ke masjid dan berdiri di pintunya dan dengan suara yang kuat aku berteriak: Rasulullah s.a.w tidak menceraikan isteri-isteri Rasulullah. Kemudian turunlah ayat: Yang bermaksud: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, lalu mereka menyiarkannya dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul serta pemimpin dikalangan mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka yaitu Rasul dan Ulul Amri. Aku adalah termasuk orang-orang yang ingin mengetahui. Maka Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menurunkan ayat takhyir (At Tahrim:4) [Bukhari-Muslim]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.