Waduh, Jika Anak Berbohong; Bagaimana Menanganinya?

0 103

Ketika anak-anak sudah mulai mempunyai teman-temannya sendiri, pengaruh dari luar pun menjadi sesuatu yang tak terelekan. Maka, berbohong pun akan mudah sekali hinggap dalam dirinya. Tidak perlu panik. Kita perlu mengetahui mengapa dia berbohong dan bersama mengajaknya untuk tidak pernah berbohong lagi.

Literatur sosiologi sudah menyatakan bahwa bohong dimasa kecil akan berdampak pada masa dewasa nanti. Perilaku bohong ini justeru sering kita jumpai pada sa’at ini. Dengan pentingnya posisi jujur bukan berarti kita membolehkan sebagai orangtua sa’at menjumpai anak berbohong untuk bersikap reaktif dan keras. Karena sikap yang salah justeru akan menjadikan mereka lebih suka atau tertantang untuk melakukannya kebohongan kembali.

Ada beberapa dorongan yang menyebabkan anak untuk berbohong diantaranya :

1. FAKTOR IMAJINASI, setiap anak mempunyai pribadi yang berbeda-beda, begitu juga dalam soal minat dan harapan. Keadaan yang berbeda ini menyebabkan seorang anak sering berangan-angan tentang keinginannya yang belum terpenuhi. Dari nagan-nagan tersebut bisa menyebabkan anak akhirnya berfantasi. Dan bisa jadi fantasi itu berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

2. KONFLIK DIRI, keadaan yang sangat mendesak terkadang menyebabkan seorang anak mencari lasan atau jawaban untuk menyelamatkan diri dari kondisi yang tidak menyenangkan.

3. MENIRU, tidak dapat dipungkiri anak akan meniru perilaku orang di sekitarnya. Jika orangtua memberikan alasan dan mengatakan sesuatu yang bersifat bohong untuk mengindari suatu kegiatan didepan anaknya, maka berarti secara tidak sadar orang tua telah memberikan contoh untuk berbohong.

4. Menghilangkan kejenuhan dan mendapatkan perhatian. Jika seorang anak sedang jenuh dan tidak tenang karena tidak ada sesuatu yang bisa ia lakukan, maka ia akan merangkai cerita yang seru untuk menghibur temannya.

Ada beberapa sikap yang harus kita lakukan jika menghadapi anak kita sedang berbohong :
1. Tidak menuduh anak berbohong bila tidak mempunyai bukti. Setiap orang butuh diberi kepercayaan, begitu pula anak-anak kita. Dahulukan prasangka baik dengan mendengarkan alasan-alasan yang dikemukakan. Jika tidak mendapatkan kepercayaan ia akan menolak untuk berkomunikasi.
2. Menjadi pendengar yang baik, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak.
3. Jika mengetahui anak berbohong, langsung jelaskan faktanya tidak perlu menunggu sampai dia mengaku, apalagi memaksa ia untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Tindakan ini hanya akan mendidiknya lebih canggih untuk berbohong.
4. Kontrol emosi sa’at mengetahui anak berbohong. Emosi yang berlebihan dan memenggil anak sebagai pembohong tidak akan menyelesaikan masalah, malah makin membuat anak takut dan berbohong lagi. Berikan jaminan bahwa jika ia bereterus terang kita akan mema’afkan dan tidak menghukumnya.
5. Mengevaluasi diri, apakah kita terlalu keras kepada anak, sehingga tersumbat jalur komunikasi dengan anak.
6. Jika anak berbohong karena imajinasi maka ajari anak untuk membedakan antara hal realistik dan imajinasi tanpa menyalahkan sikap bohongnya tersebut.

7. Memberikan pengertian kepada anak, bahwa satu bohong akan selalu diikuti oleh bohong-bohong berikutnya. []

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline