Jendela Keluarga Berkualitas

Wanita dari Bani Hilal

0 11

,  ,Wanita dari Bani HilalSuatu ketika Umar bin Khattab merasa lelah saat berpatroli berkeliling ke seluruh penjuru kota Madinah. Ia beristirahat dan menyandarkan tubuhnya ke sebuah tembok. Samar-samar ia mendengar suara seorang perempuan berkata kepada perempuan yang lain setelah ia yakin tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan mereka.

“Campurkan susu itu dengan air biasa!” kata perempuan pertama.

“Apa Anda tidak mendengar perintah Amirul Mukminin hari ini?” jawab perempuan kedua.

“Apa perintahnya?” tanya perempuan pertama dengan rasa ingin tahu.

“Khalifah Umar menyuruh pegawainya untuk mengumumkan kepada seluruh warga tentang larangan mencampur susu dengan air.”

“Sudahlah campurkan saja! Toh Umar dan pegawainya tidak melihat kita.”

“Demi Allah saya tidak akan mentaati Khalifah hanya di depannya saja, tetapi
mendurhakai dibelakang beliau!” tegas perempuan kedua.

Umar yang saat itu sedang beristirahat, mendengar percakapan kedua perempuan tersebut. Ia merasa kagum dengan ungkapan perempuan itu. Kekagumannya semakin bertambah ketika ia mengetahui bahwa perempuan miskin dibalik rumah sederhana itu selalu berprinsip mulia dan menjalankan perintah para pegawainya meskipun perintah itu baru diumumkan. Sementara itu ia tengah berada dalam kondisi yang sangat mendesak untuk mencampur susu dengan air yang dengan cara itu ia akan mendapat keuntungan lebih besar.

Dengan spontan Umar bin Khattab ingin menikahi sendiri perempuan tersebut, karena ia pantas mendapat suami yang berstatus khalifah. Akan tetapi, Umar sadar dirinya sudah tua dan tidak lagi produktif seperti pemuda belia. Pada saat itu Umar sedang bersama dengan pengawalnya bernama Aslam. Lalu Umar berbisik kepadanya, “Wahai Aslam, berilah tanda pada pintu rumah ini dan ingat-ingatlah letaknya!”

Keesokan harinya, Umar menyuruh Aslam untuk kembali ke lokasi rumah yang ditandai semalam. Ia menyuruhnya untuk memastikan siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara, dan apakah ia sudah bersuami atau belum.

Kemudian Aslam bergegas pergi ke tempat yang menjadi persinggahan semalam. Ia mengetahui bahwa yang berbicara semalam adalah seorang ibu kepada anaknya. Dengan kata lain perempuan yang diajak bicara adalah anaknya. Keduanya belum memiliki suami. Lalu Umar mengumumkan kepada putra-putranya dan mengumumkan siapa yang membutuhkan seorang perempuan untuk dinikahi?

Tiba-tiba putranya yang bernama ‘Ashim berkata, “Wahai Ayah, saya belum memiliki istri. Karena itu nikahkanlah ia dengan ku.” Umar pun berkata, “Pergilah, wahai anakku, dan nikahilah dia! Alangkah pantasnya ia mendapatkan seorang penunggang kuda dari bangsawan Arab!” Setelah itu, Ashim pergi dan menikahinya. [Sumber : Umar bin Abdul Aziz/Abdul Aziz Sayyid A/ Samara]

(Visited 6 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan