Ada Apa dengan Film India?


, Ada Apa dengan Film India?Siapa tak kenal serbuan film India sekarang ini di televisi? Film dan gaya hidup para artis dalam film ternyata mempunyai pengaruh besar terhadap para penontonnya, terutama kaum remaja yang masih rentan.

Baru-baru ini seorang peneliti Dr GP Nazar membuktikan bahwa film produksi Bollywood tak baik ditonton para remaja. Film India yang dalam banyak adegannya menyuguhkan kebiasaan minum minuman beralkohol dicontoh para remaja. Pengaruh film produksi Bollywood ini tentu saja tak hanya bagi para remaja India. Karena film-film India itu juga digemari di kawasan Uni Emirat Arab.
Para remaja di kawasan Arab sangat menikmati adegan demi adegan dengan segala latar belakang kemewahannya dalam film-film Bollywood.

Dalam studi penelitiannya, DR GP Nazar menemukan ada 59 film Bollywood yang sudah diberi kode khusus karena menampilkan banyak adegan penggunaan minuman beralkohol. Ironisnya, sedikitnya 4.000 remaja yang masuk dalam data penelitian telah menyaksikan film berkode khusus tersebut.

Para remaja tersebut memiliki kemungkinan 2,78 kali lebih rentan tertarik mencoba minuman beralkohol. Melihat kenyataan tersebut, Nazar meminta kepada pemerintah agar mewujudkan undang-undang yang melarang visualisasi minuman beralkohol di film-film demi menjaga anak bangsa.

Kaum Muslim jelas mendapat tanggung jawab berat menyelamatkan Indonesia dari dekadensi moral karena mayoritas penonton adalah kaum Muslim pula. Sikap kritis terhadap tayangan TV perlu ditampilkan, bagaimanapun orang membuat stasiun TV dan menyusun acaranya tidak terlepas dari perhitungan dagang, jika bicara soal dagang orang cenderung lebih mengutamakan untung –tentu dalam arti materi– tanpa atau sedikit mempedulikan dampak moral. Sadar atau tidak sadar para pemilik modal melaksanakan agenda imperialis.

Gerakan imperialis menetapkan bahwa penjajahan dapat dilaksanakan melalui media elektronik –hampir pasti menjadikan kaum Muslim sebagai target utama, di Indonesia telah tersedia para anteknya yang siap melaksanakan program tersebut. Kegagalan imperialis Barat dalam perang salib (1095-1291) disimak dengan cermat. Kaum Muslim sulit dijajah kalau imannya belum diperlemah atau moralnya belum dirusak. Media elektronik dapat berperan ampuh menyebarkan faham yang mengagungkan nikmat lahir atau duniawi, yang lazim disebut hedonisme. Tepat peringatan Muhammad menjelang akhir hayat bahwa kaum Muslim akan takluk karena cinta dunia dan takut mati. Dua perasaan itulah yang menjadi target bidik untuk di tumbuh-kembangkan oleh imperialis Barat.

Tetapi maksud akhir agama bukanlah untuk menuntun orang menggembirakan dengan surga dan menakuti dengan neraka, tetapi menuntun manusia untuk hidup dan mati sesuai kehendak Tuhan sebagai rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan kepada kita, termasuk nikmat hiburan. Dan hal tersebut memiliki peluang berguna menyikapi berbagai tayangan TV yang telah merambah ruang privat kita yaitu kamar tidur atau (mungkin) WC kita.

Nah, bagaimana dengan Anda soal film India ini? [Sumber: sahrull-kehidupanku]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.