A Man Who Lost His Family Is A Man Who Lost His Soul

 

, A Man Who Lost His Family Is A Man Who Lost His SoulOleh: Fitra Arifin

Saya menyimpan tas di cabin locker kemudian duduk di sebelah seorang pria. Pria itu tersenyum dan kamipun bertukar sapa seperti halnya para penumpang lain di pesawat. Tangan kami sama-sama memegang ‘ticket to happiness’, istilah yang kami pakai untuk tiket pesawat yang membawa kami pulang setelah bekerja selama kurang lebih delapan hari di tempat yang ‘keras’.

Saat pesawat sudah memasuki ‘cruising state’, pria itu mulai bercerita bahwa dia akan menghabiskan waktu liburnya menemui kawan-kawan dan sepupunya lalu berwisata di east coast. Dia kelihatan sangat senang dan saya merasa ikut senang untuknya. Dia kemudian bertanya dimana saya tinggal dan apakah keluarga tinggal bersama saya.

Setelah menjawab, saya balas bertanya tentang keluarganya. Dia menunjukkan foto keluarganya di handphone-nya dimana terlihat dia duduk dikelilingi istri dan lima anak perempuannya, terlihat sangat bahagia…lagi-lagi saya merasa ikut bahagia untuknya.

Saya kemudian menunjuk anaknya yang paling kecil dan bertanya berapa umurnya, dia menjawab bahwa umurnya sekarang sudah tujuh tahun-an sementara foto itu diambil saat anaknya masih berumur tiga tahun. Dengan suara memelan dia kemudian bercerita bahwa sekarang mereka hidup terpisah, anak-anaknya hidup dengan ibu mereka.

Ketika bercerita tentang itu, saya menangkap gurat kesedihan mendalam pada wajahnya. Mungkin dalam pikirannya terlintas berbagai peristiwa yang membuat dia terpisah dari keluarga yang sangat dicintainya. Raut wajah duka pria itu membuat hati saya ikut memelas, saya ikut berduka untuknya.

Saya tidak bisa membayangkan jika sampai hidup terpisah dengan keluarga. Sekarang saja mengalami kerja FIFO (fly in fly out) dengan roster 8 hari kerja dan 6 hari libur rasanya berat sekali saat meninggalkan keluarga.

Dalam masa FIFO sementara ini terasa sekali bagaimana kerinduan terhadap keluarga dan bagaimana bahagianya ketika bertemu kembali dengan mereka. Memeluk dan mencium anak-anak, mengantar mereka ke sekolah, kadang memasak untuk mereka, dan membacakan cerita sebelum mereka tidur. Semua itu adalah rasa yang tidak bisa tergantikan oleh kesenangan lain seperti berlibur misalnya. Liburan pun bagi saya akan terasa sangat hambar tanpa kehadiran keluarga.

Dalam hati saya berdoa kalau teman seperjalanan saya ini dapat menemukan kembali belahan jiwanya, berkumpul lagi dengan keluarganya agar kehangatan cinta keluarga bisa kembali menyelimutinya. Saya tidak ingin melihat gurat kesedihan itu lagi jika bertemu dengannya dilain waktu. May God gathers you and your family again in goodness my friend.

Apapun alasannya, terpisah dari keluarga yang dicintai bukanlah hal yang mudah dijalani. Bagiku, anak-anak dan istri bagaikan jiwaku sendiri. A man who lost his family is a man who lost his soul. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.