Abdullah Bin Zubair Syahid Kebanggaan Ibunya

0

 

, Abdullah Bin Zubair Syahid Kebanggaan Ibunya“Jika ada orang besar, lihatlah siapa wanita dibelakangnya”. Begitu kata pepatah. Asma’ adalah slah satunya.  Asma’ binti Abu Bakar adlah seorang muhajirin yang agung.  Ia seorang wanita yang mempunyai nama besaar, karena kecerdasan akal, kebesaran jiwa serta kemauannya yang luar biasa.

Selama enam bulan, pengepungan Makkah makin diperketat. Hajjaj memerintahkan tentara Syiria naik ke gunung-gunung sekitar Makkah, mendirikan benteng-benteng serta melepaskan peluru-peluru meriam batu dari bukit Abi Qubais.  Penduduk Makkah menjadi bingung, panic hingga tentara Abdullah bin Zubair tidak dapat lagi menguasai keadaan. Sebagian besar telah menyerah karena terbius janji muluk Hajjaj dengan gemerincing dinar sedang sebagian lagi tidak taat.  Bahkan ada yang meminta perlindungan keamanan kepada tentara Syiria.

Melihat keadaan yang memilukan itu Abdullah bin Zubair datang menghadap Asma’ binti Abu Bakar ibunya.  Dengan kerisauan hatinya, Abdullah meminta pendapat ibunya, apakah sebaiknya ia menyerah saja, meminta jaminan keamanan seperti para pengikutnya yang membangkang atau tetap terus melanjutkan peperangan.  “Sesungguhnya istirahat itu ada dalam kematian,” desah Abdullah.

“Wahai anakku, mungkin engkau mengkhawatirkan kematianku.  Ketahuilah, aku tidak ingin mati sebelum dua alternatif di depanmu telah datang kenyataannya.  Apakah dirimu mati terbunuh lalu aku bersabar, mengharap pahala kelak di sisi Allah swt atau kamu dapat mengalahkan musuhmu.”

Asma’ adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan pemberani.  Kata-kata yang dilontarkan kepada ankanya, menyiratkan makna yang dalam tentang sikapnya yang tegas, kebesaran jiwanya dan keberaniannya.

Dan demi mendengaar kobaran semangat ibunya, Abdullah kembali berperang walaupun pengikutnya tinggal sedikit.  Hari demi hari pertempuran makin sengit.  Namun, kekuatan pendukungnya makin lemah saja.  Hanya ia seorang yang memiliki semangat tempur.

Sembilan hari, setelah pertempuran tadi, Abdullah kembali lagi kepada Asma’ manakala tentaranya makin banyak menyeberang ke pihak musuh.  Ketika itu, malam menyelimuti bumi Makkah.

“Wahai Ibu, kini manusia telah menghinakan diriku, pengikutku semakin menipis.  Bahkan, kedua anakku, keluarga kita banyak yang sudah syahid.  Kekuatan kami mungkin hanya bisa bertahan sampai hari ini saja.  Sedangkan musuh masih menawarkan dunia bila kuturuti kehendak mereka.  Bagaimana pendapat Ibu?”

Wanita sabar itu menghadapi peristiwa tragis putranya.  Anak yang disayanginya, tangkai hatinya, rangkaian jantung yang sejak kecil diasuh, dibelai-belai untuk tempat bergantung di hari tua.  Tapi hak dan kehormatan lebih dapat dirasakan oleh seorang ibu yang tulus.  Sekalipun kulitnya sudah kendur tapi imannya tidak pernah luntur.  Bahkan imannya makin mengakar kuat, menghujam dalam hatinya yang bersih.

“Demi Allah, wahai anakku, Aku lebih tahu tentang urusanmu.  Jika kamu tahu dirimu berada dalam kebenaran dan di situlah tujuannya, teruskanlah!  Karena itulah sekutumu, kawan-kawanmu terbunuh.  Jangan engkau biarkan lehermu dipermainkan oleh budak-budak Umayah!  Namun jika tujuanmu hanya duniawi semata, maka kamu termasuk hamba Allah yang paling buruk, kamu telah membinasakan dirimu sendiri juga mereka yang terbunuh karena membelamu telah kamu jerumuskan demi ambisimu itu.  Jika katamu Engkau berada dakan kebenaran, namun ketika terlihat pengikutmu jadi melemah dan kaupun ikut melemah, maka ini adalah pekerjaan pengecut.  Bukan watak satria dan bukan ulah orang yang berpegang teguh pada agama.  Berapa lama usiamu di dunia?  Apakah dirimu merasa kekal di alam fana ini?  Mati terbunuh adalah lebih baik!”

“Ananda cemas kalau tentara Syiria mempertontonkan tubuhku, mempermainkan mayatku,” tutur Abdullah bimbang.  “Wahai anakku, sesungguhnya kambing yang sudah disembelih tak akan sakit walau kulitnya disayat!” tukas Asma’.  Mendengar ucapan sang ibu, Abdullah tergugah.  Semangatnya berkobar, menggelora.  Diahampiri ibunya, dan dengan penuh kasih dikecup keningnya seraya berkata, “Demi Allah, inilah pikiran sebenarnya dari ibuku dan sesuai dengan pendapatku.  Demi zat yang menggugah semangatku hari ini, kini dunia bukan lagi kecenderunganku, yang mendorong untuk perang tiada henti hanyalah murka Allah karena mereka telah berani menginjak-injak kemuliaan Baitullah.  Namun sekali lagi Ananda inginkan agar Ibu menambah penerangan hatiku yaitu bila aku terbunuh hari ini, janganlah ibu bersedih.  Serahkanlah semua ke hadirat Allah swt”.

“Kuharap kepada Allah agar bela sungkawaku atas musibahmu nanti merupakan kebaikan,” jawab Asma’ mantap.  “Semoga Allah membalas kebaikan ibu.  Jangan tinggalkan do’a untuk Nanda”, pinta Abdullah.  “Tidak anakku.  Do’aku senantiasa menyertaimu.  Ya Allah, Kasihilah sepanjang malam ini guna munajat puteraku kehadliratMu.  Karena ia termasuk penghilang dahaga bagi penduduk Makkah dan Madinah dan berbakti kepadaku juga ayahnya yang telah Kau ridhoi sepanjang hidupnya,”  Asma’ berdo’a.

Pagi itu juga Abdullah bin Zubair keluar ke medan laga.  Dengan sebilah pedang putih, ia melawan gelombang tentara Syiria.  Simbol pahlawan kini telah disandangnya.  Ia jatuh diahadapan puluhan tentara Syiria.  Tatkala rebah ke bumi datanglah tentara-tentara Syiria mengeroyoknya, membunuhnya bersama-sama.  Ia syahid dengan pedang masih di tangannya terbayang ibunya dimatanya.  Abdullah bin Zubair mati syahid, dan nilai yang tinggi pun diperoleh ibunya. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.