Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (1)

0

, Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (1)

Hanya dalam hitungan hari lagi, kita rakyat Indonesia akan segera memilih seorang pemimpin. Sebagai muslim, kita tentu saja tak sembarang memilih pemimpin. Ada adab-adabnya. Apa saja?

Beberapa Adab Memilih Pemimpin:

1. Niat yang Baik

Dalam menerima jabatan pemerintahan, hendaklah ia berniat semata-mata untuk menegakkan apa yang telah ditetapkan Allah, demi meraih ganjaran yang besar dan menggapai apa yang dijanjikan Allah kepadanya jika ia melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik. Sebab semua pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya. Rasulullah saw. bersabda:
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرىء ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ”

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung kepada niyatnya, dan bagi seseorang tergantung apa yang ia niyatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rosulnya [mencari keridhoannya] maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rosulnya [keridhoannya]. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau untuk menikahi wanita maka hijrahnya itu tertuju kepada yang dihijrahkan.” ” Sesungguhnya setiap perbuatan itu tergantung kepada niatnya” [1]

2. Pemimpin Diangkat Dari Kaum Laki-laki

Seorang wanita tidak boleh diangkat menjadi seorang pemimpin, baik untuk masyarakat umum maupun masyarakat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة

“Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan kepermimpinannya kepada seorang wanita.”[2]

3. Tidak Meminta Jabatan Pemerintahan

Orang yang meminta dan menginginkan sebuah jabatan pemerintahan, ia akan berusaha keras untukk mendapatkannya hingga dapat, kemudian ia akan merendahkan agamanya demi mencapai jabatan tersebut, serta melakukan apa saja meskipun perbuatan maksiat untuk mendapatkannya atau untuk mempertahankan kedudukan yang telah ia raih.
Rasulullah saw. telah mengingatkan :

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ.

“Kalian akan berambisi untuk menjadi penguasa sementara hal itu akan membuat kalian menyesal dan merugi di hari Kiamat kelak. Sungguh hal itu (ibarat) sebaik-baik susuan dan sejelek-jelek penyapihan.”[3]

Bahkan, beliau saw. pernah menolak permintaan salah seorang sahabat yang datang memohon agar diberi suatu jabatan.
Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّا- والله- لَا نُوَلِّي هَذَا الأمرَ أحدًا سَأَلَهُ وَلَا أحدًا حَرَصَ عَلَيْهِ.

“Kami – demi Allah – tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” [4]

4. Berhukum dengan Hukum yang Diturunkan Allah Ta’ala

Tugas ini merupakan kewajiban terbesar yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan penguasa. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَہُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka…. (Q.S. Al-Ma’idah: 49).

5. memberikan keputusan yang Adil Antara Sesama Manusia

Seorang pemimpin wajib bersikap adil terhadap rakyatnya dan memberikan perlakuan yang sama diantara mereka. Allah berfirman:

… ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ‌ۖ …

Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…(Q.S. Al-Ma’idah: 8).

Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ أَمِيْرِ عَشْرَةٍ إِلَّا يُؤْتَى بِهِ مَغْلُولَةً يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ، أطْلَقَهُ عَدْلُهُ أَوْ أوْبَقَهُ جَورُ

“Tidaklah seseorang memimpin sepuluh orang, melainkan ia akan didatangkan dalam keadaan tangn yang terbelenggu pada hari Kiamat, hingga keadilanlah yang akan melepaskannya dari ikatan atau kedzalimanlah yang akan membuat dirinya celaka.”[5]

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.