Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (2)

0

, Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (2)

6. Tidak Menutup Diri untuk Memenuhi Kebutuhan Rakyat

Seharusnya seorang pemimpin tetap membuka pintunya untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakan dan pengaduan orang-orang yang teraniaya, mendekati dan mendengarkan keluhan mereka, serta tidak menutup diri dan mengunci pintu dari mereka yang ia pimpin. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan, keperluan, serta orang-orang fakir, melainkan Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan, dan hajatnya.” [6]

7. Senantiasa Menasihati Rakyatnya dan Tidak Menghianati Mereka.

Seorang pemimpin seharusnya senantiasa menasehati rakyatnya tentang kebaikan apa saj a yang ia ketahui berkaitan dengan urusan agama mereka. Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنْ أَمِيْرٍ يَلِي أُمُورَ الْمُسْلِمِيْنَ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنصَحُ لَهُمْ؛ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang pemimpin yang mengurusi urusan kaum Muslimin kemudian ia tidak pernah meletihkan diri untuk mengayomi dan menasehati mereka, melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” [7]

8.Tidak Menerima Hadiah

Jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang penguasa atau seorang pemimpin, hampir bisa dipastikan dibalik ini mereka ingin agar pemimpin tersebut dekat dengannya dan menyukai dirinya. Rasulullah saw. bersabda:

الهَدِيَّةُ إِلَى الإِمَامِ غَلُوْلٌ

“Hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah penghianatan.” [8].

Dikisahkan dalam sebuah hadits, bahwa seorang petugas Rasulullah saw. berkata: “Yang ini untuk kalian dan yang ini dihadiahkan untukku.” Lantas Rasulullah saw. bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ الْعَامِلِ نَسْتَعْمِلُهُ فَيَأْتِينَا فَيَقُولُ هَذَا مِنْ عَمَلِكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَنَظَرَ هَلْ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا.

“Amma ba’du, mengapa pejabat yang kami angkat berkata: ‘Yang ini dari hasil pekerjaan kalian sementara yang iani khusus dihadiahkan untukku?’ Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya lalu menunggu apakah ada orang-orang yang memberinya hadiah atau tidak ?” [9]

9. Mengambil Penasihat dari Kalangan Orang-Orang yang Baik.

Yang dimaksud orang-orang baik adalah mereka yang mampu mengingatkannya di saat ia lupa, membantunya di saat teringat, selalu mengontrolnya agar senantiasa bersikap baik dan berlaku adil, memberinya nasihat dan pengarahan serta mendorongnya untuk berbuat baik dan menjaga ketakwaan, sehingga semua urusan akan lurus.

Rasulullah saw. bersabda:

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى

“Tidak ada Nabi yang Allah utus dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat; teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik dan teman yang menyuruhnya berbuat jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat adalah orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala.” [10]

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.