Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (3-Habis)

0

, Adab Memilih Pemimpin dalam Islam (3-Habis)

10. Bersikap Ramah Terhadap Rakyat

Seorang pemimpin hendaknya bersikap sebagai anak terhadap orang tua, sebagai saudara untuk yang sebaya, dan sebagai orang tua terhadap anak. Ia harus bersikap lembut, ramah serta menyayangi mereka dan tidak membebani mereka dengan urusan yang mereka tidak sanggupi. Pemimpin yang memiliki sikap seperti ini berhak mendapat do’a Rasulullah saw.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, bagi siapa yang menjadi penguasa ummatku lalu ia menyulitkan mereka, maka timpakanlah kesulitan kepadanya dan siapa saja yang menjadi penguasa ummatku lalu ia menyayangi mereka maka sayangilah ia.” [11]

11.Tidak Boleh Merusak Rakyat dengan Meragukan Kesetiaan Mereka dan dengan memata-matai Mereka.

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang pemimipin curuga terhadap rakyatnya, berarti ia telah merusak mereka.” [12]

Hal ini bisa merusak hubungan baik antar pemimpin dan rakyatnya. Lihatlah, pertentangan antara penguasa dan rakyatnya yang sudah merebak di seluruh negeri Islam pada saat-saat sekarang, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

12. Jujur dalam Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum Muslimin.

Hendaknya seorang pemimpin membantu Ahlus Sunnah dan orang baik, membasmi ahli bid’ah dan pembuat kerusakan, mengibarkan panji ‘amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah, serta berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan, agama, harta kaum Muslimin, dan sebagainya. Demikian juga ia berkesinambungan mengevaluasi semua pejabat dan pegawainya, memperhatikan bagaimana cara mereka menjalankan tugas, menyelesaiakn berbagai problema masyarakat, walaupun dengan membentuk tim khusus, misalnya, demi kemaslahatan, karena sesungguhnya ia akan mempertanggung-jawabkan semua bawahannya d hadapan Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi saw. dan para khalifah setelah beliau.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ

“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

HABIS

[1] H.R. Bukhari, Muslim, dari ‘Umar bin Khattab r.a.
[2]H.R. Bukhari (no.4425, 7099) dari Abu Bakrah
[3] H.R.Bukhari (no.7148) dari Abu Hurairah r.a.
[4] H.R Bukhari (no. 7149) dan Muslim (1733), lafadz hadits di atas diambil dari lafadz Muslim dari Abu Musa r.a..
[5] H.R. Albaihaqi dalam al-Kubraa (X/96) dari Abu Hurairah r.a., hadits ini tertera dalam Shahihul Jami’ (5695)
[6] H.R Ahmad (IV/231) dan At-Tirmidzi (1332) dari ‘Amr bin Murrah, At-Tirmidzi (1332) dari Maryam. Hadits ini tertera dalam Shahihul Jaami’ (5685)
[7] H.R. Muslim (142) dari Ma’qil bin Yasar r.a.
[8] H.R. At-Tabarani dalam al-Kabiir (XI/11486) dari Ibnu ‘Abbas r.a.,hadits ini tertera dalam Shahihul Jaami’ (7054).
[9] H.R. Muslim (1833) dari ‘Adi bin Umair r.a.
[10] H.R. Bukhari (6611, 7198) dari Abu Sa’ad r.a.
[11] H.R. Muslim (1848) dari ‘Aisyah r.a.
[12] H.R. Abu Daud (4889), Ahmad (VI/4), Hakim (IV/378), dari al-Miqdam, Abu Umamah dll.

[Sumber: jadipintar]

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline