Aduh, Cinta Monyet… Lupakanlah

0

Apakah Anda pernah mendengar kata “cinta monyet”? Ya, kata ini sering diungkapkan oleh seseorang kepada orang yang tengah merasakan asmara kepada lawan jenisnya. Yang menurut mereka, cinta monyet itu adalah perasaan jatuh cinta yang dimiliki oleh orang yang belum saatnya menjalin cinta. Sebenarnya, bagaimana asal mula cinta monyet itu?

Dalam perjalanan hidup anak manusia pasti pernah mengalami cinta monyet (baik itu bertepuk sebelah tangan atau bertepuk kedua tangan). Perasaan jatuh cinta saat remaja atau bahkan saat anak-anak.

Mungkin sudah banyak artikel tentang cinta dan berbagai literatur tips cinta yang membahasnya. Mengapa pria dan wanita jatuh cinta pada usia seperti ini?

Cinta monyet ini sebenarnya hanya sebuah sindiran yang digunakan untuk seseorang yang kurang mencintai pasangannya. Jatuh cinta sesaat dan kurang begitu mencintai.

Sebenarnya cinta monyet merupakan istilah yang “fenomenal” pada dasar warsa akhir tahun 1960-an sampai pada awal tahun 1980-an. Istilah ini dipakai oleh beberapa seniman (dalam bentuk puisi dan lagu), para psikolog untuk meneliti tingkah-laku, gaya dan cara bergaul anak-anak remaja pada dasar warsa tersebut diatas. Ketika itu terjadi perubahan besar dalam kehidupan anak-anak remaja Indonesia bahkan juga para pemuda-pemudi; dari yang terkungkung, anak sopan menjadi bebas dan liar, termasuk dalam menjalin hubungan pada lawan jenis. Dalam perubahan seperti itu, pada umumnya anak-anak sekolahan (dari SMP-SMA) mulai terbuka untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis (ketika itu, seorang siswa yang punya pacar akan dianggap tidak sopan, belum pantas; baik oleh orang tua, maupun para guru).

Akibatnya, anak-anak remaja pada masa itu, sembunyi-sembunyi berpacaran, dan merasa malu jika ketahuan orang sedang berpacaran, komunikasi lebih banyak lewat surat (bandingkan dengan keadaan sekarang; seorang remaja akan sangat terbuka mengungkapkan perasaannya dan merasa bangga memiliki seorang pacar tidak perlu disembunyikan, medianyapun lebih banyak).

Penjelasan kedua: Sikap orang tua termasuk guru, para seniman, para phsikolog menganggap bahwa para remaja dimasa itu belum tahu arti cinta. Menurut mereka (orang tua, guru, seniman, psikolog) situasi dan tren masa itu terjadi karena anak-anak sekolah tadi terlalu banyak menonton (TV, Video, film dari Eropa, India, dan Amerika) merambah dan memenuhi gedung-gedung bioskop di Indonesia. Katanya, fenomenal cinta monyet adalah gambaran gaya berpacaran anak remaja Indonesia (masa itu) dengan segala pola tingkah-laku yang serba tanggung dan malu-malu.

Ketiga: Analogi itu dilihat dari kebiasaan monyet selalu memperlihatkan sikap malu (sembunyi) meskipun ingin tahu.

Tipe cinta seperti ini berakhir bukan karena maut memisahkan. Tapi lebih karena sudah beda sekolah atau karena sudah menemukan pria idaman lain maupun wanita yang lebih cantik.

Walaupun semua itu akhirnya hanya menjadi kenangan. Menjadi buih-buih kecil yang terlupakan oleh waktu. Hanya, yang menjadi tips cinta seorang guru terhadap muridnya ialah berilah arahan agar anak didik lebih memperhatikan pendidikannya saja daripada menghabiskan waktu untuk menjalin cinta yang tak tahu ujung ceritanya. [tahukah-andaa]

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline