Akibat Terlalu Curiga (2)

 

, Akibat Terlalu Curiga (2)Memasuki malam hari mereka tidur. Pada sepertiga malam pertama Abu Darda bangun untuk salat malam. Namun oleh Salman dicegah dan disuruh tidur. Dan pada tengah malam Abu Darda bangun lagi untuk salat. Namun Salman menahannya pula. Pada sepertiga malam terakhir Salman yang bangun dan membangunkan Abu Darda untuk salat malam. Usai salat subuh Salman mentaujih saudaranya itu, “Wahai saudaraku, sesungguhnya dirimu punya hak yang harus kamu tunaikan; sesungguhnya tubuhmu punya hak yang harus kamu tunaikan; dan sesungguhnya isterimu pun punya hak di atas pundakmu yang harus kamu tunaikan. Maka tunaikanlah setiap hak itu untuk pemiliknya.”

Begitulah, mengikuti rasa curiga ada yang terlarang ada yang dibenarkan. Bahan baku kecurigaan sebenarnya prasangka buruk. Dan prasangka itu sama sekali tidak dapat menggantikan kebenaran. Karenanya Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki prasangka maka janganlah sok yakin.” Dan Allah swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sebagian prasangka itu dosa.” (Al-Hujurat 12).

Jadi, curiga jangan berlebihan. Para ulama menegaskan bahwa sikap dasar kita kepada sesama muslim adalah husnuzh-zhan (baik sangka) sampai ada bukti bahwa dia tidak layak mendapat prasangka baik kita. Dan sebaliknya sikap dasar kita kepada orang yang tidak beriman adalah suuzh-zhan (buruk sangka) sampai terbukti bahwa dia berhak memperoleh prasangka baik kita.

Namun tentu saja rasa saling percaya antar sesama muslim bukan berarti boleh mengabaikan aturan-aturan yang sudah Allah tetapkan. Misalnya dalam urusan utang piutang. Allah swt sudah menetapkan bahwa utang piutang, besar maupun kecil, harus dicatat. Tidak karena saling percaya kemudian mengabaikan hal itu. Allah swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (Al-Baqarah 282).

Contoh lain dalam urusan pergaulan. Tidaklah benar jika dengan alasan tidak punya kecurigaan seorang ibu atau ayah membiarkan anak gadisnya pergi—entah kemana—oleh seorang lelaki yang bukan mahram. Dalam urusan ini bukan urusan curiga atau percaya. Melainkan urusan mengikuti perintah Rasulullah saw. Di samping tentu saja, orang yang tidak mencurigakan bukan berati aman dari godaan syetan.

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.