Aku Bukan Aisyah

, Aku Bukan AisyahOleh: Sofistika Carevy Ediwindra, Sampoerna School of Education

Awalnya saya merasa biasa saja. Eh, lama-lama risih juga.

Masih ingat dengan film Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik? Film yang sempat booming dan laku keras di pasar film tanah air ini mengisahkan dua tokoh utama bernama Fahri dan Aisyah. Di sini saya tidak hendak mengulas isi film yang jelas Anda hampir semua mengetahuinya.

Begini ceritanya. Di perempatan dekat rumah kontrakan saya, ada ‘mas-mas’ yang memang sehari-harinya nongkrong di sana. Bukan sembarang nongkrong, mas-mas itu membantu mengatur lalu lintas kendaraan di perempatan. Maklum, meski terbilang jalan kecil, yang namanya di Jakarta tetap saja tak terhindar dari macet. Dari aktivitas atur-mengatur kendaraan itulah dia mendapat ‘tip’ dari para pengendara.

Nah, bukan juga saya mau mengulas tentang si mas yang sampai sekarang pun saya belum tahu namanya. Ceritanya, setiap saya melintas perempatan itu ada sapaan unik yang dia lontarkan pada saya. Ya, kaitannya dengan film AAC yang saya antarkan di awal. Si mas memanggil saya dengan panggilan “Aisyah.”

Awalnya saya kaget. Mungkin karena segan menanyakan nama, walhasil ia main comot nama tokoh di film AAC. Saya bukannya bangga atau bagaimana. Mungkin tidak hanya pada saya dia sematkan panggilan demikian. Ada analisis kecil-kecilan dari hal yang menurut saya unik. Semoga bisa diambil pelajarannya.

Pertama, efek film AAC merambah hingga tataran grass root masyarakat. Fenomena ini termasuk di luar kebiasaan menurut saya. Seperti kita tahu, film AAC itu berbasis Islam yang lumayan kental. Nah, mungkin efek kisah percintaan tokohlah yang membuatnya menarik buat masyarakat.

Si pembuat cerita ingin mengabarkan pada khalayak tentang tata hidup Islami salah satunya dalam hal cinta. Bagus menurut saya sebagai tandingan dari film yang menawarkan kisah cinta yang (maaf) ‘ecek-ecek’. Meski demikian, menghadirkan film berlatar percintaan islami memang penuh tantangan. Alih-alih pesan untuk memunculkan esensi utama tidak muncul malah berujung bias dan menjadi penjebak bagi masyarakat. Salah sedikit saja bisa-bisa menimbulkan penafsiran fatal tentang cinta-mencinta dalam Islam.

Kedua, pengibaratan Aisyah itu sendiri. Bagi saya, jika di-relate dengan tokoh Aisyah di film AAC atau bahkan Aisyah istri Rasulullah maka jauhlah saya dari mereka. Kita ambil saja Aisyah istri Rasul, wanita yang sudah pasti mendapat tiket surga. Maka saya, bagaikan pungguk merindukan bulan jika disamakan dengan beliau. Tetapi, sapaan Aisyah itu menjadi motivasi tersendiri buat saya. Yah, setidaknya sang mas-mas mengidentikkan saya dengan Aisyah, tokoh muslimah yang baik. Maka acuan itu menjadi lecutan untuk saya agar semakin mengingkatkan kualitas diri dan menebar manfaat buat sesama.

Ketiga, godaan. Bagaimanapun panggilan Aisyah ya semacam iseng-iseng dari sang mas. Tapi bisa dibilang saya sangat bersyukur. Jika tampilan saya masih seperti dulu (belum berjilbab) maka panggilan yang mencuat berkisar, “Suit, suit, cewek.!” demikian bunyinya. Tapi kini, ia berganti menjadi, “Assalamu’alaikum, Aisyah.” Kadang jengah, senyum, atau melengos saya tanggapi panggilan sang mas-mas.

Aku bukan Aisyah. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.