Aku dan Soulmate

0

, Aku dan Soulmate

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Namaku Revy. Revy saja? Tentu tidak. Tapi ada hal yang lebih penting. Harus kau gunakan ‘V’ dan ‘Y’ untuk dua huruf terakhir. Revy. Aku tak suka penulisan namaku salah. Sering menjadi Refi atau Revi. Dan dua orang itu bukan aku. Titik.

Nama panjangku? Ah ya. Panjangnya laksana kereta. Ah, lebai saja aku. Sebenarnya nama sederhana, biasa saja. Sofistika Carevy Ediwindra. Nama panggilanku ada di tengah, digandeng menjadi Carevy. Itu mengapa ada risiko orang memanggilku Sofi atau Sofistika. Aku kurang suka. Bukannya menolak itu namaku. Tapi terdengar aneh di telinga, ya, aku menyebutnya kurang familiar. Itu tentang aku, emm,, spesifiknya, namaku.

Aku bukan single fighter dan aku sangat benci sendiri. Bisa-bisa mati berdiri kalau harus sendiri. Dan bersyukurnya Allah selalu memberiku teman terbaik di setiap jenjang sekolahku. Ada Ikapti di masa SMAku, Iska di SMPku, dan Susi di jenjang SDku. Kini, kawan hatiku bernama Dina. Tapi aku memanggilnya Ayyash. Jangan tanya mengapa demikian. Itu akan menjadi satu bab tersendiri, haha.

Ayyash dan aku adalah yang bertahan. Kenapa aku sebut demikian? Dulu saat awalku kuliah, aku membersamai seorang kawan dari daerah yang agak dekat dengan daerahku berasal. Dengannya ada sekitar satu semester bersama. Nah, lalu aku ‘menemukan’ Ayyash. Kami beritikad bersama dengan didasari kesamaan akidah, visi, dan tujuan. Lalu kami ajak seorang kawan senior yang jua sinergis. Bersamalah kami bertiga. Kemudian, kami berpindah memperbesar kawanan dengan menambah dua personel baru yang tak jauh visi dan pandangan hidupnya alias satu organisasi dengan kami jadilah kami lima sekawan.

Dalam perjalanan rumah tanpa tangga kami, terjadi dinamisasi. Yang ke mana hampir selalu bersama adalah aku dan dia, Ayyash. Yang sering berdiskusi alot tapi terus bergerak bersama juga aku dan dia. Alhamdulilah, kami berlima bertahan hampir setahun. Sedangkan aku dan Ayyash setahun lebih beberapa hari. Mudah-mudahan tak terlalu lama karena kami bermaksud menghabiskan bulan ini hingga akhir. Kontrakan yang dulu penuh dengan manusia (walaupun cuma lima) dan barang kini lengang. Ya lengang namun tetap tak bisa dibohongi barang kami bejibun banyaknya. Barang itu di kamusku bermakna buku. Buku kami seabreg banyaknya.

Ya, kita bertahan dan akan tetap bertahan.

Aku dan dia hampir dibilang tak terpisahkan. Meski kami sudah berupaya memisahkan diri agar tak terlalu teridentifikasi sebagai dua sosok yang padahal satu atau sebaliknya. Kami pernah mencoba tak sekelas. Tetap saja. Kami duha bersama di musola. Kami ikut kajian, beberapa kali bolos kuliah lantaran ikut aksi, seminar, dll, bersama. Dia bagiku sudah seperti energi hidup. Dia memotivasi tanpa harus berkata banyak. Menghibur dengan kalimat pelipur, memberi tanpa harap terima kembali.

Ia lebih muda setahun dariku tapi kita satu tingkat. Kami sering bertengkar tapi dalam tengkar menunjukkan romansa. Mungkin mereka di luar sana geli atau juga banyak yang iri dengan kami. Kami sama-sama tidak suka rumah yang berantakan. Uring-uringan jadinya kepala jika melihat demikian. Hobinya menyingkat kata yang terkadang menjadi aneh namun tak jarang cemerlang luar biasa. Ada KOPER (Kontrakan Perjuangan), KOBAR (Kosan Barokah), SEMA (Sekum Madani), CIDAHA (Cinta dari Hati), JAMAS (Jarkom Humas), TIKAR (Tim Kaderisasi). Aneh kan? Telinga kalian geli tidak? Haha..

Aku dan dia berasal dari poros keluarga yang amat berbeda. Suku Bugis keluarganya membentuk ia menjadi sosok yang keras namun sangat dan sangat sensitif. Dia mudah menangis. Dia mudah tertawa. Dia suka menggombal kata-kata manis. Makanan kami berbeda. Bahasa kami tak sama. Di keluarganya ia tujuh bersaudara.Sedang ku empat saja. Ia suka sekali menceritakan setiap jiwa lima kakak dan satu adik bungsunya. Bahkan kakak ketiganya yang spesial dan kini sudah tiada kerap ia banggakan di hadapanku. Tapi aku kerap lupa nama kakaknya karena sebutannya untuk mereka tak familiar buatku.

Sebutannya Daeng. Ini membuatku mesti bertanya lagi dan lagi, “Siapa tadi kakakmu yang kau ceritakan?” Dan dia tak bosannya menjelaskan agar pemahamanku tidak bolak-balik atas kakaknya yang banyak itu. Ya, banyak, karena kakakku hanya satu semata wayangnya. Jangan pula tanya ayah ibunya. Keduanya ibarat bintang untuk Ayyash sahabatku. Ia juga berulang kali sebutkan ‘Ukhayya’nya. Ya, mungkin satu istilah dengan soulmate. Aku bahkan sering iri dia menceritakan ukhayyanya satu per satu di depanku. Ah, tak mengapa. Lagipula aku tak meminta dia membanggakan aku di depan siapapun. Aku hanya memintanya untuk ada di sisiku, memperbaikiku, membersamaiku.

Menangis bersama pernah kami lakukan. Aku tak mau sebutkan alasannya mengapa. Bahkan tak bicara berhari-haripun kami pernah. Hatinya yang lembut memang rentan terluka. Dan itu yang menjadi kekuatan sekaligus lemahnya ia. Aku sangat terharu saat di suatu hari, saat kita tengah ada di lingkaran konflik dan kejadian aneh waktu itu, dia menjawab tanyaku kenapa dia mau mengikutiku. Jawabnya, “Aku tsiqoh (percaya) padamu,” Duh, maknyess.

Cita-citanya sederhana. Pergi ke tanah suci, ke tanah kelahirannya di Makassar sana dan satu lagi yang mungkin saat dia membaca aku akan habis di hadapannya karena menuliskan ini; me***ah dengan orang Sunda, haha. Dia memiliki amahan bejibun. Di daerah tempat lahirnya, ia mengurus masjid dan anak Rohis SMAnya. Di sini, ia mengurus organisasi KAMMI dan tak lupa Rohis di kampusnya. Sedang aku? Hanya bagian kecil saja. Hal-hal itu yang membuatnya tiap pekan bertolak ke utara sana. Demi mengurus hal yang mungkin nampak sederhana di depan mata; membina. Ah, memang sering aku keluh padanya. Mengapa kerap dia tinggalkan aku. Dasar saja akunya yang manja. Tapi aku sering bilang padanya, “Ty, jika aku mengeluh atas pulang-pergimu, usah kau hiraukan. Pergilah saja. Karena itu yang buatku bangga padamu.” Dan dia pergi dengan manisnya.

Dialah Ayyash. Aku menyebutnya sahabat jiwa. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.