Anak 10 Tahun Yang Sering Membangkang

 

, Anak 10 Tahun Yang Sering Membangkang“Anakku sudah berusia 10 tahun. Ia adalah anak yang rajin. Akan tetapi, ketika saya menyuruhnya melakukan suatu hal, ia tidak mau melakukannya sambil berkata: “Aku tidak punya waktu, kenapa tidak menyuruh saudara yang lain?” Walau pun begitu, Alhamdulillah ia hafal al-Qur’an meski ia tidak berbuat baik pada kami. Salat dua hari dan meninggalkannya sebulan penuh. Apa yang harus kami lakukan?”

Ustazah Muna Yunus memberikan dua kaidah pokok dalam mendidik anak.

Pertama: Apa yang Allah ajarkan kepada kita: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,”(Qs ar-Ra’du: 11). Dengan pembiasaan dan menggunakan sarana pembinaan yang benar, manusia bisa mengubah dari satu karakter ke karakter yang lebih utama darinya. “Sesungguhnya ilmu hanya didapatkan dengan belajar dan kelembutan diperoleh dengan belajar berlaku lembut.”

Kedua: Keharusan bersabar ketika mendidik anak dan saat berinteraksi dengan urusan-urusan akidah dan ibadah. Kaidah ini seperti yang Allah tunjukkan kepada kita dalam ayat: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya,”(Qs Thaha: 132).

Dua kaidah tersebut diberikan untuk mengurai problematika pembinaan kita yang terikat dengan sulukiyyat (perilaku-perilaku), akhlaqiyyat (akhlak-akhlak) dan ibadat (ibadah-ibadah) dari urusan-urusan yang memungkinkan dilakukan. Akan tetapi, hal itu membutuhkan senjata sabar dan doa yang berkesinambungan, dan bukan yang menentang.

Anak berusia 10 tahun sedang melewati marhalah thufulah mutaakhkhirah, yaitu tahapan yang dikenal dengan pencarian jati diri sehingga kadang mereka tidak ingin dikekang dan berlepas diri dari kedua orangtua sebisa mungkin. Biasanya tahapan ini diikuti dengan sikap membantah terhadap perintah-perintah orangtua. Ada sebuah kajian yang menyimpulkan bahwa anak-anak tidak merespon lebih dari sepertiga permintaan orangtua kepadanya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan terhadap penolakan ini?

1)  Bersepakat dengan anak mengenai hal-hal tertentu. Ada sebuah kaidah dalam tarbiyah bernama ittifaq musbiq (kaidah yang mendahului). Artinya, harus ada kesepakatan di antara anak dan orang tua. Hal-hal yang disepakati antara lain apa yang diminta, apa yang diizinkan, apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, apa yang tidak diizinkan dan mana yang tidak disukai dari perilaku anak. Misalnya, sikap cuek dan berlagak bodoh terhadap perintah orang tua adalah hal yang tidak bisa diterima. “Apabila kamu mengulangi terus-menerus maka kamu akan dilarang menggunakan ini dan ini.” Lalu sebutkan bentuk-bentuk pelarangan yang ia sukai seperti larangan bermain dengan komputer. Di sini harus ada uslub hukuman dan jauh dari uslub ancaman yang tidak jelas. Kesepakatan ini harus jelas dan tidak bertujuan menipu anak.

2)  “Pandai memilih ruang pertempuran.” Pembinaan adalah pergolakan di antara kemauan anak dan tuntutan orang dewasa. Hendaknya kita memilih ruang peperangan yang sesuai. Dalam arti, memilih apa saja hal-hal pendidikan yang harus mendapat prioritas. Misalnya, apabila Anda sebagai seorang ayah melihat bahwa tema salat harus selalu diingat dan diulang-ulang perintah dan instruksinya, simpanlah potensi dan kemampuan Anda dalam hal ini. Anda tidak perlu terlalu memperhatikan perilaku yang tidak terlalu penting seperti mengatur tidur atau memperbanyak pembicaraan via telepon dengan teman-teman sehingga kesenangan anak tidak terganggu dengan guyuran perintah-perintah yang tidak ada habisnya.

3)  Bisa jadi sikap tidak menerima karena tidak ada kejelasan instruksi dan informasi. Instruksi dan informasi harus selalu ada.

a. Positif: “Maaf, bisakah kamu” dan”Jika kamu tidak keberatan.”

b. Detail: “Maaf, kalau bisa, kamu jangan lalaikan salat.

c. Jelas: “Maaf, kalau bisa, kamu salat sekarang sebelum keluar main.”

d. Imbauan: “Maaf, kalau bisa, kamu salat sekarang sebelum keluar sehingga tidak membuat kamu lupa salat?

e. Penuh cinta dan kasih sayang: “Maaf, ayo hai jagoan, ibu tunggu kamu agar kita bisa salat fardhu berjamaah.

f.  Penuh keberanian: “Semoga engkau menjaga salatmu. Jangan engkau kecewakan harapanku ini, Mas.”

4)  Hindari cara-cara: “Apa kataku tadi? Salat sekarang! Mengapa kamu tidak melakukan ini dan ini? Kenapa sih kamu? Aku tidak mengerti deh denganmu.” Semua ini adalah cara-cara yang bisa membuat anak tidak pede (percaya diri), dan akhirnya ia tidak mau menjawab dan cenderung melakukan pembangkangan dan penolakan.

5)  Berikan waktu kepada anak untuk menjawab dan jangan bebankan ia dengan permintaan-permintaan sekaligus.

6)  Berlaku adillah kepada semua anak. Perlihatkan keadilan tersebut tanpa takut dan bosan. “Maaf aturlah kamarmu seperti saudaramu itu membereskan ruang makan.”

7)  Berusahalah selalu untuk memahami sebab-sebab kenapa anak tidak mau menuruti perintah. Apakah ini muncul dari perasaan anak yang merasa ketidakadilan dalam pembagian tuntutan sesuai dengan usia atau perintah, ataukah ada ketidakjelasan perintah di belakang sikap tidak mengakui ini?

8)  Menyegerakan pujian ketika merespon. Pujian akan bertahap muncul bersama kecepatan respon.

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.