Anak-Anak Penggemar Dongeng

0

 

dongengOleh: Dede Ahmad Permana

Kisah seorang anak kecil yang sangat terpengaruh oleh dongeng ayahnya tentang para bidadari yang mandi di telaga kala pelangi tiba –sebagaimana dituturkan Gola Gong dalam cerpennya berjudul Dongeng Sebelum Tidur – benar-benar mengingatkanku pada masa kecilku dulu. Masa kanak-kanak yang semarak dengan dongeng.

Selama masa SD, antara tahun 1984-1990 di Sagaranten, sebuah desa 60 km selatan kota Sukabumi, hari-hariku tak jauh dari dongeng. Baik dongeng yang disampaikan secara lisan, maupun tulisan alias buku. Di sekolah, guru kelasku pandai mendongeng. Di madrasah agama sore hari, ustadku juga rajin mendongeng. Di pengajian usai magrib, kyaiku juga kadang suka mendongeng. Dan di rumah, hampir tiap malam sebelum tidur, ibu biasa mengantar tidurku dengan dongeng. Itu belum termasuk dongeng-dongeng yang kubaca sendiri dari buku cerita rakyat.

Guru kelasku di SD, Pak Hermanto, kerap mendongeng di sela-sela jam belajar. Tak sungkan-sungkan, ia memperagakan prilaku tokoh-tokoh dalam dongeng. Gairah cinta Sangkuriang terhadap Dayang Sumbi misalnya, ia ekspresikan dengan kalimat-kalimat puitis serta mimik muka mengharap khas pengemis cinta, hehe.. Memaksa jiwaku yang masih belia untuk bertanya-tanya penasaran, “begitu toh, prilaku orang yang mabuk cinta..?!” Kedunguan Pak Pandir dan Pak Belalang juga ia praktekkan dengan bahasa tubuh yang menggelikan. Hingga kemudian Pak Hermanto digandrungi para murid karena dongeng-dongengnya yang mengesankan.

Setiap acara pesta kenaikan kelas, para siswa menampilkan drama. Temanya diangkat dari dongeng-dongeng harian Pak Guru. Tahun 1988, sewaktu naik ke kelas lima, aku berperan sebagai Sangkuriang yang mabuk cinta itu. Tiga kawan lain memainkan drama berjudul Paisan Kosong. Ide ceritanya juga berasal dari dongeng harian. Tahun berikutnya, drama kami bercerita tentang petualangan si Donca dan si Lunca, dua anak desa yang menemukan sabuk emas milik Sang Raja di sungai. Kedua anak itu berniat mengembalikannya kepada sang Raja. Akan tetapi, di perjalanan, mereka menemukan banyak rintangan. Aku berperan sebagai ayah si Donca, sementara seorang murid perempuan menjadi ibunya. Dialog kami kala itu terasa canggung. Berdua di panggung, ditonton banyak orang. Malu banget.

Akan tetapi, kisah petualangan dua anak jujur itu tertunda. Baru pada pesta kenaikan kelas tahun 1990, episode keduanya dilanjutkan. Ceritanya, Si Donca dan Si Lunca sudah sampai istana, tetapi mereka berhadapan dengan gulang-gulang alias ponggawa kerajaan. Dalam episode kedua ini aku berperan sebagai Sang Raja, hehe.. Lucu juga. Perjalanan kedua anak itu memakan waktu setahun.

Di rumah, aku mendapatkan dongeng dari ibu. Hampir tiap malam menjelang tidur, ibu memberiku dongeng. Ibu yang hanya lulusan SMP tahun 1977 di Rengasdengklok, sangat pandai bertutur. Seperti Pak Guru di sekolah, ibu juga kerap memperagakan tingkah laku sang tokoh. Meski ia harus turun sesaat dari tempat tidur. Jika dongengnya lucu, ia pun berlagak seperti halnya pelawak. Hingga aku tertawa ngakak. Jika dongengnya sedih, aku ikut meneteskan air mata. Kesedihannya kadang terbawa ke alam mimpi.

Dongeng-dongeng ibu lebih banyak bertutur seputar kisah anak-anak nakal dan anak-anak saleh. Anak durhaka terhadap orang tua akan mendapat balasan siksa di hari tua. Seperti yang ia tuturkan dalam dongeng Si Boncel, anak desa yang mengusir ayah bundanya yang renta kala Boncel sudah jadi bupati. Di Tanah sunda, kisah Si Boncel ini sangat terkenal, seperti halnya kisah Malin Kundang di Tanah Minang. Kisah Si Sabar, seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama ibu tirinya yang galak, dituturkan ibu penuh ekspresi. Ketabahan Si Sabar dalam menjalani hari-hari penuh siksa, membuatku terharu. Simpati pada anak yatim piatu, tiba-tiba hadir dalam benak. Juga kebencian pada ibu tiri. Imbas spontan dari dongeng. Ketabahan Si Sabar yang membuahkan ujung bahagia, kala akhirnya ia bisa menikahi puteri raja yang ia temui di telaga, benar-benar memacuku untuk selalu optimis bahwa kebaikan masa kecil akan membuahkan bahagia di hari tua. Ah, lewat dongeng, rupanya ibu sedang berusaha membesarkan jiwa anaknya.

Selain dari ibu, aku mendengarkan dongeng dari radio. Ikut-ikutan trend orang desa yang menggandrungi acara-acara dongeng Sunda di radio-radio kota Sukabumi. Pada jam tertentu, siaran dongeng radio terdengar dari hampir setiap rumah. Hingga di ladang pun, orang-orang di desaku bekerja sambil mendengarkan dongeng.

Tema-tema dongeng Sunda di radio lebih didominasi oleh kisah cinta dan cerita alam pesilatan. Dongeng kisah cinta Den Kalana dan Nyi Balebat yang penuh liku, atau petualangan Si Tumpeng dalam kisah Ti Nu Poek Ka Nu Caang di radio Fortuna, selalu dinanti orang-orang desaku dengan antusias. Barangkali mirip warga Betawi yang menanti sinetron Si Doel di RCTI. Di radio Fortuna, juru dongengnya adalah Mang Dina. Di radio Airlangga, ada Mang Dedi yang juga populer karena dongeng-dongeng humornya. Di radio Cianjur, ada Wa Kepoh yang terkenal karena dongeng laga yang berjudul Si Rawing. Aku juga pendengar setianya. Si Rawing adalah seorang pendekar kampung yang memiliki daun telinga satu. Satu lagi robek kesabet parang. Ayahnya, Wikarta, tewas dibunuh penjajah Belanda. Guru silatnya, Ki Debleng, adalah sosok yang sakti, tetapi suka melucu. Petualangan Si Rawing dalam membebaskan Tanah Sunda dari penjajahan asing diwarnai aneka kisah suka, duka dan juga kisah cinta. Barangkali mirip dengan petualangan Wiro Sableng. Sekitar tahun 1990, kisah Si Rawing diangkat ke layar perak. Sewaktu film itu diputar di desaku beberapa saat kemudian, ribuan penonton datang membludak. Keramaian orang menonton layar tancap malam itu mengalahkan pesta Agustusan.

Acara dongeng radio dimulai jam 13.15an usai berita RRI. Jika kebetulan ada laporan berita khusus, maka dongeng pun terlambat, atau tertunda sama sekali. Aku pun kecewa. Pulang sekolah aku kerap berjalan terburu-buru hanya karena takut ketinggalan acara dongeng. Kadang aku pulang ke rumah kawan, lalu mendengarkan dongeng bareng-bareng.

Aku sangat mengagumi kepiawaian sang pembaca dongeng, yang bisa membedakan suara masing-masing tokoh secara konsisten. Khusus untuk suara perempuan, Mang Dina memang jagonya. Ia bisa memperagakan suara wanita muda dan nenek tua, suara wanita kala tertawa senang atau tertawa sinis. Pun juga wanita menangis tersedu serta wanita marah. Suara kakek tua dan anak kecil juga terdengar beda. Dari suaranya, aku kadang menebak-nebak, “wah, kayaknya Nyi Balebat itu seorang gadis yang cantik. Den Kalana itu orangnya gagah dan tampan….”. Imajinasiku bermain-main dengan alur cerita atau suara tokoh dalam dongeng.

Di sekolah diniyah sore hari, aku juga punya guru yang rajin mendongeng. Ustad Oban, guru tetapku, biasa menyampaikan pelajaran Tarikh (sejarah) dengan gaya dongeng. Pun juga kyai yang mengajariku mengaji usai magrib, Mang Guru Ali. Kyai berusia setengah baya ini, tak hanya tekun mengajari kami alif ba ta tsa plus tajwidnya, tetapi juga rajin mendongeng. Tingginya pekerti Rasul, jahatnya karakter Abu Jahal, serta sikap teladan para sahabat, ia tuturkan secara demonstratif. Benar-benar seru sekaligus mengesankan. Kisah-kisahnya mudah melekat dalam benak dan sulit dilupakan.

Tak puas dengan dongeng lisan, aku pun memburu dongeng dari buku. Kebetulan ayahku seorang guru SD di desa tetangga. Ia kerap membawa buku cerita dari sekolahnya. Cerita anak-anak tentunya. Hingga lemari kecil di rumahku penuh dengan buku. Dan aku, selalu melahap habis semua buku cerita yang dibawa ayah. Usai mendengarkan dongeng radio, tak jarang aku membaca buku-buku cerita itu hingga tertidur pulas.

Tema-tema buku cerita yang dibawa ayah sangat beragam. Ada cerita sejarah seperti Jaka Tingkir, Kisah Nabi dan Sahabat, atau juga cerita lucu seperti Si Kabayan. Cerita tentang Sang Kancil dan Buaya juga kubaca. Hobiku pada dongeng di buku ternyata menumbuhkan tradisi baca. Aku pun keranjingan membaca dan pada tahapan berikutnya aku mampu membaca cepat.

Komik lucu serial Petruk-Gareng karya Tatang S pun tak kulewatkan. Puluhan judulnya kumiliki. Dibeli ayah jika kebetulan ke kota. Aku menyukai gambar-gambar kartunnya yang lucu, juga jalan ceritanya yang fantastic. Seperti kisah petualangan Gareng ke planet Pluto, pertemuannya dengan piring terbang alias UFO, serta kisah-kisah mistik Petruk si hidung panjang itu, kala ia berkelahi dengan para genderuwo. Membuat anganku melayang, membayangkan kemungkinan terjadinya persitiwa-peristiwa aneh itu di alam nyata. Tak jarang pula aku bergidik ketakutan lalu malamnya mimpi buruk.

Ah, emosiku sering terlarut seiring cerita dongeng. Dongeng lucu Si Kabayan kerap membuatku tertawa terbahak-bahak. Dongeng sedih ibu tak jarang membuatku terisak. Dongeng horor kerap menghantui malam-malamku hingga tidur tak tenang.

Maklum, dunia anak adalah dunia dongeng, dunia permainan, dunia pembelajaran. Maka dongeng bisa menjadi kisah teladan bagi anak, dongeng bisa menakut-nakuti anak, dongeng bisa merangsang imajinasi anak. Dongeng bisa jadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan bagi anak. Jika disampaikan secara proporsional, dongeng bisa mendongkrak rasa percaya diri dan mental positif sang anak. Dampak negatifnya, kegandrungan pada dongeng bisa membuat anak abai dari tugas belajar atau mengaji. Pokoknya, dongeng adalah segalanya bagi seorang anak.

Menyadari hal itu, aku menjadikan dongeng sebagai salah satu metode mendidik anak. Kala kuliah di IAIN Ciputat, aku sempat mengajar di sebuah Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA) selama tahun 1999-2001. Dari lima ustad yang ada, aku dikenal sebagai ustad pendongeng. Gara-gara aku kerap menyelipkan dongeng di tengah materi pelajaran Iqra. Setiap hari Jumat, para santri dari lima kelas, belajar bersama di aula. Pelajarannya berupa mewarnai gambar, kaligrafi dan mendongeng. Nah, untuk mendongeng ini, aku menjadi petugas tetapnya. Wuih, senang sekali. Aku senang memperhatikan mimik lucu anak-anak murid yang mungil, kala mereka terlarut oleh dongeng. Atau tawa lepas mereka yang tanpa beban, kala aku bertutur kisah jenaka. Kisah sedih Yusuf as yang dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur tua kututurkan dengan ekspresif. Imbasnya, butir-butir bening air mata, menetes dari sudut-sudut indah bola mata anak-anak manis itu.

Jika kebetulan pulang kampung, aku kerap menggantikan Mang Guru Ali mengajari anak-anak desa mengaji usai magrib di surau. Biar beliau istirahat. Nah, di sela-sela pelajaran Alquran, aku biasa menyelipkan dongeng. Berupa kisah para Nabi, para ulama sufi atau kisah hikmah lainnya, tetapi dengan sentuhan emosional sebisanya. Meniru guru kelasku di SD atau ibuku dahulu. Suara para tokoh juga kubedakan, seperti dalam dongeng radio. Dan anak-anak santri kecil itu, duduk melingkariku sembari terdiam terpana. Sisi-sisi buruk dan baik dalam cerita kututurkan secara jelas, agar mudah dicerna dan diapresiasi oleh alam pikiran mereka yang masih sederhana. “Firaun itu raja yang sangat jahat dan prilakunya jelek. Rambutnya kusut dan banyak ketombe, mukanya hitam karena jarang mandi..”. Dan anak-anak itu spontan komentar sambil nyengir, “Jorok yach, Firaun itu”, “Ih, amit-amit”, “Aku tak mau kayak Firaun”, dan seterusnya. Jika ada komentar-komentar begitu, aku sebagai pendongeng sangat merasa senang. Artinya, sikap kritis dan imajinasi dini mereka akan menajam secara perlahan.

Siang harinya, tak jarang anak-anak kecil itu berdatangan ke rumah, mencari aku. “Aya naon barudak?”, tanya ibu di beranda. “Aya Mang Dede teu Bu..?! Kami ingin dongeng..”, kata anak-anak manis itu. Ah, dongeng memang selalu dirindukan oleh anak-anak…

Jumat 13 Januari 2006

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline