Anak Bohong

0

 

, Anak BohongAyah dan anak hampir tak ubahnya seperti dua sisi uang logam. Begitu ayah, begitu pulalah anaknya. Begitu anak, begitu pulalah ayahnya. Keduanya sama-sama menunjukkan arah nilai yang sama. Tapi, seperti itukah kesepadanan seorang ayah ketika anaknya mulai berbohong?

Pertanyaan itu kerap menggelitik penasaran Pak Wawan. Bapak satu anak ini sedang bingung menafsirkan kelakuan anak tunggalnya. Apa iya anak usia tiga tahunan sudah bisa bohong. Masalahnya, korban bohong anak semata wayang Pak Wawan itu sudah merata seisi rumah: ayah, ibu, dan mbok Iyem.

Pernah, sang anak minta duit ke Pak Wawan. Awalnya, Pak Wawan curiga. Buat apa? Tapi, anaknya menjawab dengan meyakinkan, “Ibu nyuluh beli galam.” Saat itu juga, kecurigaan tergantikan dengan kebanggaan. Pak Wawan bersyukur pada Allah, betapa anaknya sudah tumbuh menggembirakan. Sayangnya, kebanggaan dan kegembiraan itu tak berlangsung lama. Isterinya menyangkal nyuruh beli garam. Jadi, buat apa duit itu?

Kalau Mbok Iyem punya pengalaman lain. Biasanya, ia dengan gampang menyodorkan makanan ke anak majikannya. “Makan ya, Nduk!” ucap Mbok Iyem merayu. Dan, si anak pun langsung menyantap. Tapi, kali itu agak beda. Entah kenapa, anak majikannya berujar, “Kata ibu, Dodo tak boleh makan dulu, Mbok. Pelut Dodo masih sakit. Dodo disuluh makan vitamin jeluk aja!” Kenyataannya, Mbok Iyem kecewa. Tak beda seperti yang pernah dialami Pak Wawan.

Berkali-kali Pak Wawan menelusuri jejak munculnya bohong itu. Tapi, hasilnya jauh dari memuaskan. Ia yakin tak pernah mengajarkan bohong. Begitu juga isterinya. Mbok Iyem juga ngaku tak pernah. Tetangga hampir tak mungkin. Masalahnya, anaknya jarang bermain keluar. Kalau pun keluar, selalu didampingi sang ibu atau Mbok Iyem. Teman sekolah? Anak tunggalnya masih terlalu muda masuk sekolah. Jadi?

Nah, itulah yang terus membuat pikiran Pak Wawan berputar tak menentu. Sulit menyumbat perilaku buruk anak kalau belum tahu sumber alirannya. Pak Wawan juga paham kalau jalan kekerasan bukan cara terbaik. “Rasanya nggak baik anak seusia itu diteror dengan atas nama disiplin,” ujar Pak Wawan ke isterinya.

Ungkapan itu keluar ketika melihat gelagat yang kurang pas dari isteri Pak Wawan. Mungkin karena panik, isterinya bicara keras ke Dodo. “Awas kalau bohong lagi, ibu cubit kamu!” Buat Dodo, ucapan ibunya itu tak ia tangkap sempurna. Dodo hanya menyorot kata ‘cubit’. Dan, dicubit itu sakit. Hasilnya, sang anak cuma diam. Lalu, menangis dengan tertahan.

Sebenarnya, kepanikan isteri dan juga Pak Wawan sendiri berangkat dari sebuah kesadaran. Bahwa, bohong anak merupakan bahaya laten yang mesti dikikis habis. Kalau dianggap sepele, suatu saat pohon bohong itu akan tumbuh besar. Buahnya pun siap menghasilkan biji yang akan jadi benih bohong baru. Hiii, mengerikan!

Pak Wawan ingat betul dengan pelajaran dari Rasulullah saw melalui haditsnya. Seorang mukmin mungkin saja bermaksiat. Tapi, ia tak mungkin berbohong. Nah, gimana mungkin bisa sukses mendidik anak menjadi mukmin sejati, kalau sejak kecil sudah jago berbohong.

Lagi-lagi, Pak Wawan pusing tujuh keliling. Apa yang jadi penyebab masalah anaknya. Memang, tidak tertutup kemungkinan datang dari tivi. Tapi, isterinya sudah teramat ketat mengawasi. Kalau ada yang nggak beres, langsung dicuci bersih. Lalu, dari mana, dong?

Ada hal yang membuat risau Pak Wawan. Sebenarnya, ia lebih dekat dengan Dodo ketimbang isterinya. Isterinya terlalu kaku buat Dodo yang lincah dan supel. Dan yang paling tak diminati Dodo, ibunya gampang marah. Mudah emosi. Sebentar-sebentar cubit.

Justru, Pak Wawanlah tempat bermuara segala unek Dodo. Ia memang orang yang nggak tegaan. Lembut. Gampang bercanda. Hampir bisa dipastikan, sejak lahir hingga seusia Dodo itu, Pak Wawan tak pernah nyubit. Jangankan aksi kekerasan seperti itu, berwajah sangar saja belum pernah. Selalu riang gembira. Terutama, di depan Dodo.

Biasanya, Dodo sudah berdiri setia di depan pintu gerbang menjelang Pak Wawan pulang. Ia tak peduli berapa lama harus berdiri. Dan segala capek itu pun terbang bebas ketika sosok ayah kesayangannya muncul. Senyum Dodo sontak mengembang. Wajahnya menampakkan sinar kegembiraan. Ia pun merangkul tangan ayahnya. Peristiwa itu hampir berulang tiap hari.

“Ah, anakku,” kenang Pak Wawan. Ia hampir tak bisa tidur dengan masalah yang satu ini. Ya Allah, jangan Kau biarkan buah kesayangan hambaMu ini terjerumus dalam perilaku yang tak Kau ridhai. Seperti itulah doa yang kerap terucap dari hati tulus seorang ayah seperti Pak Wawan.

“Do, kok Dodo bohongin ibu. Mbok iyem juga. Memangnya kenapa, Do?” ujar Pak Wawan sambil membelai-belai rambut anaknya. Sesekali, bibirnya mengecup pipi Dodo. Kecupan itu pun membuat Dodo meringis, kegelian. Dodo pun tersenyum manja.

“Kenapa, Do?” ucap Pak Wawan tak kurang lembut. Dodo langsung terduduk. Ia menatap wajah ayahnya begitu lekat. Sesaat kemudian, Dodo berujar lantang, “Kan ayah yang ngajalin. Yeee…!” Dan, Dodo pun berloncat-loncat di atas ranjang. Ia seperti sedang membayangkan senam aerobik. “Satu…dua…tiga…!”

Deg. Pak Wawan bengong. Astaghfirullah, kapan ia mengajarkan bohong pada anak kesayangannya. Gimana mungkin? “Kapan, Do?” ucap Pak Wawan merayu. Sambil loncat-loncat, Dodo bicara enteng, “Kemalen. Kata ayah, Dodo mau dibeliin sepatu loda. Eh, taunya cuma dibohongin. Iya kan?”

Pak Wawan terkulai lemas. Ia ingat betul ucapan itu. Memang, ia pernah janji mau beli sepatu roda. Tapi, itu terlalu mahal. Masih banyak keperluan lain yang lebih penting. Sayangnya, itu tak tersalurkan dengan lancar ke Dodo. Dan Dodo cuma tahu kalau ayahnya pernah janji. Hingga kini, janji itu belum ditepati.

Tak ada cara lain buat Pak Wawan kecuali menetralisir janjinya ke Dodo. Baru setelah itu, ia menanamkan kejujuran kedalam hati Dodo. “Do, kita janjian, yuk!” ucap Pak Wawan sambil menggandeng permata hatinya. Dodo duduk bersila meniru ayahnya. “Mulai sekarang, Dodo sama ayah, nggak akan bohong,” ucap Dodo lagi-lagi meniru ayahnya.

Waktu pun berlalu. Pak Wawan puas dengan perkembangan anaknya. Nyaris, tak ada lagi berita bohong soal Dodo. Hingga suatu hari, ayah dan ibu mertua Pak Wawan datang dari kampung. Mereka tampak panik. “Gimana kabar isterimu? Katanya di rumah sakit?” tanya keduanya ke Pak Wawan. Yang ditanya cuma bingung. “Kata siapa, Pak?” tanya Pak Wawan penasaran. “Dodo. Kemarin, waktu Bapak telpon ke sini,” jawab bapak mertua Pak Wawan spontan. Hah?

Ayah dan anak kadang memang mirip dua sisi uang logam. Nilai sisi yang satu menunjukkan nilai sisi lainnya. Repotnya, kalau salah satunya punya nilai buruk. Boleh jadi, akan merembet ke sisi lainnya: bisa di anak, bisa juga ayahnya.[]

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.