Anak Pintar Tapi Tidak Cerdas, Maksudnya?

0

anakMungkin di benak sebagian besar pendidik di Indonesia– bahwa yang disebut dengan cerdas hanyalah mereka yang cerdas di bidang matematika dan bahasa. Padahal, matematika dan bahas hanyalah dua dari tujuh jenis kecerdasan yang dimiliki manusia. Nilai rapor, IPK, bahkan IQ hanya mengukur dua kecerdasan ini. Tentu, dilihat dari kecerdasan kinestetis, pastilah Tyson jauh lebih cerdas daripada Einstein dan Rudi Hartono jauh lebih cerdas daripada Habibie!

Ketika seseorang mengalami kecelakaan dengan cedera berat pada kepalanya, manakah yang lebih diperlukan: seorang perawat lulusan akademi perawat ataukah seorang guru besar ekonomi lulusan universitas luar negeri? Kebanyakan orang menjawab: perawat, sekalipun ia cuma lulusan akademi.

Kenyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa kecerdasan dapat bersifat kontekstual. Problem yang dihadapi ataupun konteks yang ada menjadi faktor penting ketika predikat cerdas harus diberikan. Hal inilah yang menjadi pertimbangan utama ketika kecerdasan majemuk atau multiple intelligencesakan diterapkan. Ketujuh kecerdasan majemuk itu bukan bagian-bagian yang terpisah dari kecerdasan manusia. Semuanya terintegrasi dan saling terkait satu sama lain.

Pada kasus si genius Ted, menurut Daniel Goleman, yang memperkenalkan konsep emotional intelligences (EI), Ted tidak cukup cerdas emosinya. IQ nya bagus, tetapi EQ nya jelek. “EQ dibangun oleh saraf-saraf emosi di otak manusia,” kata Goleman. Dan saraf emosi Ted tidak berkembang dengan baik. Akibatnya, Ted kehilangan daya empati dan daya sosialisasi diri. Sebagaimana MI nya Gardner, EQ (emotional quotient) merupakan indikator kunci bagi kesuksesan. “Zaman modern, dicirikan oleh manusia-manusia yang kehilangan emosi.” kata Goleman.

Tujuh jenis kecerdasan itu –linguistik, matematika, spasial, kinestetis, musik, antarpribadi, dan interpribadi– merupakan potensi-potensi yang dengan kadar berbeda-beda ada pada setiap orang. Seseorang mungkin saja memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol, tetapi dengan kadar kecerdasan musik yang rendah. Seorang artis seperti Cat stevens atau yang kita kenal Yusuf Islam mungkin saja memiliki kecerdasan kinestetis dan kecerdasan musik yang tinggi, tetapi dengan kecerdasan matematika yang rendah.

Penari Eko Supriyanto, yang pernah menari latar untuk penyanyi Madonna, memiliki kecerdasan kinestetis yang tinggi (bahkan dapat disebut genius), tetapi mungkin saja dengan kecerdasan linguistik yang rendah. Kecerdasan itu membuat Eko dapat “berbicara” dengan bahasa tubuh ketimbang bahasa mulut. Para politikus pasti memiliki kecerdasan antarpribadi (people smart) yang tinggi, tetapi bisa jadi dengan kecerdasan inter pribadi (self smart) yang rendah.

Mereka yang disebut terakhir ini bisa jadi sudah tahu bahwa yang dilakukannya adalah keliru, tetapi tidak bisa melihat pikiran keliru yang mereka miliki. Abah Anom, yang ahli mengobati kecanduan narkoba itu, pasti memiliki kecerdasan antarpribadi, interpribadi, bahkan kecerdasan linguistik yang tinggi, tetapi mungkin dengan kecerdasan kinestetis yang rendah.

Demikian halnya dengan Amien Rais. Ia pasti memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi (karena professor dan pandai berpidato) dan kecerdasan musik yang biasa-biasa saja (karena ia mulai menyanyi lagu campursari, seperti tembang Ojo Lamis, Ojo Diploroki, dan lain-lain), tetapi dengan kecerdasan spasial yang rendah. Jalaluddin Rahmat, yang ahli komunikasi, teolog, filosof, dan sufi kontemporer itu, pasti memiliki kecerdasan interpribadi, antarpribadi, linguistik, musik yang cukup tinggi, tetapi dengan kecerdasan matematika dan kecerdasan spasial yang biasa-biasa saja.

Masih banyak contoh yang dapat disebutkan. Yang jelas, setiap orang memiliki tujuh jenis kecerdasan itu. Masalahnya, pendidikan di Indonesia cenderung mengoptimalkan satu atau dua kecerdasan saja. Penghargaan pun masih untuk satu atau dua kecerdasan saja. Oleh karena itu, tugas yang paling berat adalah optimalisasi tujuh kecerdasan itu. Ini artinya, optimalisasi seluruh otak!

Walaupun bukan hal baru –karena MI telah diperkenalkan Gardner sekitar dua puluh tahun lalu– Konsep dan penerapan kecerdasan majemuk ini belum banyak diketahui. Namun, terutama yang patut disyukuri adalah adanya dukungan ilmiah bahwa otak manusia berperan penting dalam kecerdasan dan kesuksesan. Jika selama ini otak manusia belum dipakai secara utuh, kesuksesan harus dipandang sebagai pemakaian otak secara utuh (whole brain).

Di Indonesia, otak masih menjadi raksasa tidur yang belum dikelola. Yang betul-betul spektakuler adalah fakta bahwa otak menyediakan komponen anatomisnya untuk aspek rasional (IQ), emosional (EQ), dan spiritual. Ini artinya, secara kodrati, manusia telah disiapkan sedemikian rupa untuk merespons segala macam hal dengan tiga aspek tersebut. Dalam satu kepala, memang ada tiga pikiran: rasional, emosional-intuitif, dan spiritual.

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline