Anak yang Doyan Nonton Tayangan Setan Miliki Masalah Mental

, Anak yang Doyan Nonton Tayangan Setan Miliki Masalah Mental

Tayangan-tayangan mistis di televisi secara khusus seperti beberapa tahun yang lalu memang sudah jarang sekali sekarang ini. Tapi lihatlah, di film-film lepas remaja yang ditayangkan siang hari dan atau bada isya, dengan bungkus cerita fiksi, tayangan setan masih lekat. Dan tidak hanya remaja, anak-anakpun menontonnya.

Mau tidak mau, ada keingintahuan yang berubah menjadi kebutuhan untuk menyimak “dapur” makhluk gaib itu lewat tayangan televisi. Menariknya, tayangan itu ternyata mendapat rating cukup tinggi (Waspada Online, 2004). Sehingga, tayangan “dunia setan” itu pun menjadi komoditas bagi industri televisi sebagai contoh, misalnya “Dunia Lain” di Trans TV, “Percaya Nggak Percaya” di SCTV, “Gentayangan” di TPI dan beberapa tayangan lainnya di stasiun-stasiun Televisi yang lain, bahkan setan dan sejenisnya pun kini juga mulai merambah pada tayangan yang bersifat sinetron dan lainnya yang ada di Indonesia.

Menanggapi anaknya tayangan-tayangan berbau mistis tersebut, telah terjadi pro dan kotra ditengah-tengah masyarakat terhadap tayangan tersebut. Ada yang menyatakan bahwa tayangan tersebut merupakan realitas yang ada ditengah-tengah masyarakat, sehingga tinggal bagaimana penonton untuk memilahnya, adapula yang menyatakan bahwa keinginan menonton tersebut hanyalah sekedar keingintahuan terhadap hal-hal yang gaib.

Namun selain pendapat yang pro terhadap tayangan tersebut, adapula yang kontra terhadap tayangan-tayangan tersebut, misalkan pendapat yang menyatakan bahwa tayangan tersebut dapat menyesatkan pemirsanya dan membuat bodoh serta menyebakan pola pikirnya kembali ke zaman dulu, atau pendapat yang menyatakan bahwa tayangan tersebut dapat merusak akal penontonnya.

Seto Mulyadi, seorang pemerhati anak-anak dalam penelitiannya menyatakan bahwa anak-anak yang menonton tayangan misteri pada umumnya memiliki masalah mental (republika.co.id, 2004). Demikian juga dengan penelitian lainnya yang dilakukan terhadap anak-anak, menunjukkan keterpengaruhan maupun berdampak terhadap anak-anak yang mengemari tayangan-tayangan tersebut.

Sedangkan pada penelitian lainnya yang dilakukan terhadap orang dewasa, seperti studi yang dilakukan oleh Nina M Armando yang menyatakan bahwa banyak orang dewasa hanya menganggapnya sebagai hiburan, demikian juga dengan yang dinyatakan oleh Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sholeh Amini Yahman, dimana tayangan horor dipandang orang dewasa sebagai upaya berpetualang. Dan rasa takut kadang perlu sebagai katarsis.(suara merdeka. co.id, 2004).

Nah, jika buat Anda mungkin hiburan, tidak demikian dengan anak Anda rupanya ya? []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.