Anak Yang Kecanduan Televisi

0

 

, Anak Yang Kecanduan TelevisiSebagian orangtua mengeluh tentang anak-anak mereka yang suka menonton televisi hingga kecanduan. Di sisi lain, anak-anak bosan ketika mengulang pelajaran, enggan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, dan lebih memilih menghabiskan waktu di depan stasiun televisi tanpa ada manfaat yang didapat.

Marry Wain, seorang pakar dunia anak dan keluarga sekaligus penulis di majalah Times mengatakan: “Sesungguhnya, televisi sedikit pun tidak ada hubungannya dengan kebutuhan-kebutuhan dasar anak. Berarti dalam hal ini, televisi membawa bahaya terhadap kebutuhan-kebutuhan tersebut.”

Anak-anak biasanya menghabiskan sebagian waktunya untuk beraktivitas, bukan untuk tidur, bukan juga untuk bermain. Akan tetapi, kegiatan menonton televisi yang merupakan bentuk daya serap asing pada benda-benda mar’iyyah (layar kaca) dan media elektronik (seperti radio) mendorong anak-anak kecil berperilaku tidak biasa, seperti diam, lemah, dan melemahkan akal. Padahal, anak membutuhkan pengembangan potensi untuk diarahkan sehingga mereka bisa menunaikan tugas-tugasnya sebagai seorang makhluk sosial.

Ketika orang dewasa menonton televisi, mulailah semuanya hadir, hal-hal yang khusus, hubungannya dengan masa lalu, pengalaman, impian dan khayalannya dalam suatu pekerjaan, mengubah tema yang ia lihat, dari mana pun sumber-sumber dan tujuan-tujuannya sampai pada sesuatu yang bertolak belakang dengan kebutuhan-kebutuhan internalnya. Sementara, pengalaman hidup anak yang sangat terbatas menjadikan aktivitas kehidupan realita mereka berdasarkan pengalaman yang ada di televisi dan bukan kebalikannya seperti yang terjadi pada orang dewasa.

Menonton televisi juga bisa menghilangkan rasa sensitif terhadap berbagai peristiwa yang terjadi sehingga anak-anak (korban televisi) kehilangan kemampuan menempatkan diri mereka dengan orang lain. Sementara, anak-anak lain yang memiliki pemikiran dan khayalan tidak terbatas mampu berimajinasi seluas-luasnya dan pandai berkomunikasi dengan teman-temannya.

Televisi juga mempunyai potensi yang besar untuk mengarahkan orang sedangkan Anda sendiri tengah duduk di depannya dalam kondisi yang negatif. Potensi tersebut masuk ke dalam diri Anda. Dan ketika Anda matikan televisi, potensi tersebut akan muncul. Sebenarnya, perilaku setelah menonton televisi merupakan sebuah isyarat penting bagi orangtua. Sebagian anak ketika mematikan televisi terlihat condong ke berbagai arah atau melompat ke setiap arah tanpa tujuan. Atau menuju ke arah minuman, makanan, atau menimbulkan kegaduhan.

Anak yang terbiasa menonton TV akan banyak ketinggalan dalam bermain, membaca, menulis, dan melakukan hobi-hobi lainnya. Inilah aktivitas-aktivitas yang sering dilakukan anak, mendorong pertumbuhan dan kemampuannya. Untuk itulah, seorang guru pendidikan, Droze Kuhin mengatakan: ”Televisi telah mencuri kesempatan anak untuk berbicara, bermain, dan beraktivitas, serta mengekang kesempatan untuk tumbuh secara baik.”

Mengenai pengaruh tidak menonton televisi dengan hubungan sosial anak yang kadang bisa menyebabkan perbedaan di antara mereka, penulis mengingatkan anak-anak: “Teman-teman akan mengajak kalian dengan murah hati dan sayang dan bukan karena kalian menonton program televisi.”

Televisi sebaiknya tidak dijadikan sebagai sarana hukuman. Misalnya, anak diancam untuk tidak menonton dan tidak mendorongnya untuk menonton televisi dengan cara mengatakan: “Tidak ada permen buat kamu, ya.” Sebaliknya, penulis menyarankan agar orang tua bersikap tegas dalam membatasi anak menonton televisi. Berikut ini, penulis memberikan beberapa tips untuk menghindari godaan menonton televisi. []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.