Antara Murabbi dan Orang Tua, Mesti Pilih Mana?

, Antara Murabbi dan Orang Tua, Mesti Pilih Mana?Assalamu’alaikum wr.wb.
Bunda, kakak ana (akhwat) yang bekerja di perusahaan swasta merupakan tulang punggung keluarga. Kakak sedang menjalani proses menikah sampai tingkat ta’aruf. Tapi, orangtua, terutama ibu, tak menyetujuinya karena calon suaminya masih kuliah semester 6 di sebuah institut agama Islam dan menjadi guru honorer di SLTP. Ibu sangat khawatir karena calon suami tidak sekufu’ pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan dengan kakak.
Murobbiyah kakak sendiri mendesak untuk terus berlanjut hingga ke pelaminan, dan apabila dibatalkan haruslah dengan alasan syar’i. Ibu juga menolak ketika kakak berniat mengundang calonnya ta’aruf dengannya. Karena terus bersikeras menolak hingga tak sengaja terlontar ucapan kakak yang membuat ibu menjadi sakit hati.Siapa yang berhak didahulukan, ibu atau murabbiyah? Lantas bagaimana kami harus menyelesaikan masalah ini dengan bijak?

Firda, Bandung

Wa’alaikum salam Warahmatullah Wabarakatuh

Semoga Allah swt. menjaga semangat kita semua untuk komitmen dengan agama Islam yang kita anut ini.

Saudara/i Firda di Bandung yang dimuliakan Allah swt., begitu juga pembaca budiman semuanya. Ada empat hal yang ingin saya bicarakan pada kesempatan kali ini, yaitu: kufu, alasan syar’i, hubungan kakak antum dengan ibu (baca: orang tua dan wali) dalam masalah pernikahan dan masalah yang terkait murabbiyah.

Untuk membahas tiga hal ini secara detail, diperlukan satu buku khusus, namun saya akan berusaha meringkasnya seringkas mungkin, karena terbatasnya ruang konsultasi ini.

Pertama, masalah kufu atau kafa-ah

• Yang dimaksud dengan kufu atau kafa-ah di sini adalah kesepadanan antara suami dan istri dalam hal-hal khusus atau tertentu.

• Masalah kufu atau kafa-ah ini adalah hak wanita (calon istri) dan walinya. Hak artinya ia bisa memintanya sebagai syarath, namun juga bisa mengabaikannya (tidak menjadikannya sebagai syarat), kecuali dalam masalah diin (agama). Sebab, yang mensyaratkan ada kufu atau kafa-ah dalam agama adalah Allah swt, dan siapapun tidak bisa membatalkan syarat yang telah ditetapkan Allah swt.

• Para ulama menetapkan bahwa kufu atau kafa-ah ini masuk dalam kategori syarath luzum, dan bukan syarath sah. Maksudnya, kufu atau kafa-ah ini bukanlah penentu sah atau tidaknya akad nikah. Lebih jelasnya, akad nikah tetap sah, walaupun tidak ada kufu atau kafa-ah, kecuali kufu atau kafa-ah dalam masalah diin (agama).

Sedangkan yang dimaksud dengan syarath luzum adalah akad yang sudah dilangsungkan tidak bisa dibatalkan kecuali atas kesepakatan kedua belah pihak. Dan jika kufu atau kafa-ah dikatakan syarath luzum, maksudnya adalah jika aspek-aspek kufu atau kafa’ah tidak terpenuhi, pihak perempuan secara sepihak bisa membatalkan akad nikah tersebut.

• Kufu atau kafa-ah yang dituntut itu dalam hal apa saja? Dalam hal ini, para ulama hanya sepakat dalam mensyaratkan kufu atau kafa-ah dalam diin (agama), sementara dalam hal-hal lainnya, seperti: status merdeka, nasab, harta dan penghasilan, kesucian (bersih dari penyakit moral), tidak ada cacat fisik dan kekayaan, mereka tidak menyepakatinya.

• Jika dalam hal-hal yang tidak disepakati oleh para ulama ini, (1) pihak wanita menjadikannya sebagai syarat, dan (2) pihak laki-laki menerima syarat ini, maka, syarat-syarat ini harus dipenuhi oleh pihak laki-laki. Jika tidak dipenuhi, maka pihak perempuan mempunyai hak khiyar, yaitu hak untuk tetap melangsungkan akad nikah atau hak untuk membatalkannya.

Terkait dengan hal ini, saya ingin menyampaikan irsyad (bimbingan, dan bukan pemaksaan) syari’ah kepada pihak wanita:

1. Allah swt berfirman: Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu … jika mereka miskin, Allah swt akan menjadikannya mampu dengan karunia-Nya. Dan Allah swt Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS An-Nur: 32).

2. Rasulullah saw bersabda: “Termasuk keberkahan seorang wanita adalah mudah urusan melamarnya, mudah mas kawinnya, dan mudah rahimnya (cepat melahirkan)”. (HR Ahmad, Al Baihaqi dan Ath-Thabarani dengan isnad jayyid).

Kedua, masalah alasan syar’i. Terkait dengan masalah ini, saya ingin berpesan, pertama kepada diri saya sendiri, dan kedua kepada antum semua para pembaca budiman, janganlah dengan mudah atau gampang mengatakan bahwa ini syar’i dan itu tidak syar’i, kecuali kalau kita memang mempunyai dalil yang kuat dalam masalah ini.

Seperti dalam pertanyaan yang saudara/i Firda ajukan ini, sebab, masalah pihak wanita menimbang ini dan itu, sebagaimana telah saya jelaskan di atas, telah lama dibicarakan oleh para ulama kita, dan sudah barang tentu ada landasan syar’inya saat mereka memperbincangkan hal itu. Tentang pendapat kita yang berbeda dengan pendapat ulama tertentu, janganlah kita katakan bahwa pendapat yang tidak kita setujui itu tidak syar’i.

Menjadi hak wanita untuk membuat syarat ini dan itu, walaupun anjuran (sekali lagi: anjuran, atau bimbingan) syar’i mengajak kita untuk tidak membuat syarat yang begini dan begitu. Tidak ingatkah kita kepada kisah Umar bin Al Khaththab yang hendak membuat intruksi pembatasan mahar agar tidak mahal, namun, karena dibantah oleh seorang wanita yang memperkuat argumentasinya dengan ayat Al Qur’an, maka rencana Umar itupun dibatalkan.
Ketiga, masalah hubungan orang tua dengan wanita (calon istri). Terkait dengan masalah ini saya ingin sebutkan satu peristiwa pada masa Rasulullah saw, dan bagaimana petunjuk beliau dalam hal ini:

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Seorang gadis datang kepada ‘Aisyah (Radhiyallahu ‘anha), lalu gadis itu berkata: “Ayahku menikahkan diriku dengan anak saudara lelakinya untuk menaikkan status sosial keponakannya itu, padahal saya tidak suka”. ‘Aisyah berkata: “Silahkan duduk dan menunggu sampai Rasulullah saw datang”. Aisyah berkata: “Lalu Rasulullah saw. datang, dan saya menceritakan masalah gadis itu kepada beliau saw. Maka Rasulullah saw. mengirim orang untuk memanggil ayah gadis itu, dan menjadikan hak itu (pilihan menikah) pada gadis itu. Lalu gadis itu berkata: “Saya telah menyetujui apa yang telah dilakukan oleh ayahku, hanya saja, saya ingin mengetahui adakah dalam masalah ini wanita memegang kendali”. (HR Ahmad, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Namun demikian, saya ingin katakan kepada kakak antum, dan juga kepada pembaca budiman semuanya, bahwa, saat Allah swt. menjelaskan masalah pernikahan (QS An-Nisa’ : 1), Allah swt. memerintahkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya (dua kali) dan menjaga shilatur-rahim.

Oleh karena ini, saya nasihatkan kepada kakak antum, dan juga kepada pembaca budiman lainnya, hendalah dalam masalah pernikahan ini dilakukan musyawarah dan dialog dalam suasana ketaqwaan dan shilatur-rahim serta kasih sayang, janganlah mempergunakan bahasa menang-menangan dan perdebatan, sebagaimana dianjurkan oleh QS An-Nisa’ : 1 tersebut.

Keempat, terkait dengan murabbiyah. Wahai para murabbi dan murabbiyah, tugas antum adalah membina, membimbing dan mengarahkan para mutarabbi dan mutarabbiyah agar komitmen dengan Islam. Terkait dengan masalah pernikahan, tugas antum adalah sebagai:

1. Pembimbing dan pengarah agar murabbi atau mutarabbi antum ihsan (baik) dalam memilih, sesuai dengan syari’at Islam
2. Pemberi rekomendasi atau masyurah (pendapat dan pertimbangan), sebagaimana rekomendasi Rasulullah saw. kepada Fathimah binti Qais, agar menikah dengan Usamah.
3. Sebagai Syafi’ (pelobi), sebagaimana saat beliau saw. melobi Bariroh agar tidak meminta cerai dari suaminya dan agar kembali serta agar tetap setia kepadanya.
4. Dan peran-peran lainnya, namun, tidak sampai kepada tingkat memberi perintah atau mengqarar. Sebab, dalam kisah Bariroh di atas, Bariroh bertanya kepada Rasulullah saw: “Apakah ini perintah wahai Rasulullah saw?”. Beliau saw menjawab: “Saya hanyalah seorang syafi’ atau pelobi saja”.

Wallahu a’lam, semoga masalah ini menjadi jelas. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.