Antara Robin Williams dan Hj Azizah

0

, Antara Robin Williams dan Hj AzizahDi (hampir) semua filmnya,  Robin Williams adalah seorang lelaki, atau seorang ayah yang begitu dekat dengan anak-anak, lingkungan, dan dirinya sendiri. Dan atas “prestasinya” itu pula, dunia menjadi layak berkabung ketika bunuh diri.

Di balik film, bunuh dirinya mau tak mau membuka semua syak wasangka dan kengerian Barat atas lingkungan dan masa depannya: untuk apa hidup berlimpah materi dan apa yang terjadi pada mereka setelah hidupnya selesai? Apakah setelah mati, persoalan-persoalan hidup otomatis selesai? Baik bagi yang ditinggalkan di dunia, atau baginya sendiri.

Williams mengalami depresi dalam beberapa tahun terakhir. Jubir pihak keluarga, Mara Buxbaum, mengakui bahwa Williams senantiasa berjuang melawan depresi berat. “Ia bertarung melawan depresi parah akhir-akhir ini. Ini adalah sebuah kehilangan besar,” kata Buxbaum.

Suatu kali, Williams diwawancara oleh Guardian dan menceritakan pengalaman bekerjanya di Alaska pada 2003. Saat itu ia mengaku depresi karena merasa ‘kesepian dan ketakutan’. Satu-satunya jalan yang paling mungkin bagi Williams adalah mabuk-mabukan. Itu berjalan selama tiga tahun. Ia menjadi seorang alkoholik yang superberat hingga sampai akhirnya pihak keluarga membawanya ke pusat rehabilitasi.

Apa yang ditakutkan oleh Williams? Tak ada yang tahu, mungkin hanya dia dan keluarganya saja. Namun di usia 63 tahun, normal orang sudah berpikir akan akhir hidup di dunia.

RIP, Williams! Tapi apa betul Williams meninggal dengan tenang? Bahkan semasa hidupun ia tidak mendapatkan ketenangan itu. Jika ya, mengapa ia bunuh diri?

Kematian satu orang Williams—bunuh diri lagi!—membuat dunia begitu murung.

Sementara di Gaza,  kematian warganya terus terjadi setiap hari bak jamur di musim penghujan, dan ayolah, siapakah yang peduli? Tak ada yang membahas terlalu dalam dan massif tentang kematian di Gaza seperti halnya “sebegitu pentingnya” Williams.

Padahal, korban di Gaza—ini meninggal lho, karena dibantai oleh Israel, sudah mencapai lebih dari 2000 orang.

Salah satunya adalah Hj. Azizah, 73 tahun.

Apa yang istimewa dari Hj. Azizah? Banyak. Pertama, ia adalah salah seorang penghafal tertua di Gaza. Masya Allah—setua itu, ia masih saja berinteraksi dengan Al-Quran. Kedua, ia nyata tidak takut akan kematian. Kematian, dengan satu dan lain cara, akan datang menghampiri. Hj Azizah menghadapinya dengan ketenangan yang luar biasa. Mungkin itu karena ia sudah menjalani hidup yang luar biasa dan menyadari betul kepada siapa ia akan kembali.

Antara Gaza dan Amerika. Yang satu mencari kehidupan, namun depresi. Yang satunya lagi berani menghadapi kematian, namun bahagia. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.