Apa Hubungannya Puasa dan Sakit? (2-Habis)

, Apa Hubungannya Puasa dan Sakit? (2-Habis)Sakit bisa disebabkan berbagai macam hal, karena terlalu letih atau bisa jadi karena “terlalu banyak pikiran” atau penyebab lainnya. Bagaimana jika kita sakit saat bulan Ramadhan ? Jangan khawatir, Ibnu Sina (980-1037 M) seorang dokter muslim mengatakan “puasa sangat baik untuk mengobati berbagai macam penyakit kronis. “ Bahkan Ibnu Sina menerapkan terapi puasa kepada para pasiennya. Ia mewajibkan pasiennya puasa selama tiga minggu (:tentunya dengan pola yang sama dengan muslim berpuasa didahului dengan sahur dan berbuka pada waktu yang telah ditentukan).

Tak hanya Ibnu Sina, sejumlah dokter kenamaan lainnya, seperti Dr. Bernard Macpadan dari Amerika yang juga pakar biologi menyakini bahwa puasa merupakan cara jitu dalam memberantas penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi lainnya. Dr. Edward Devin, seorang dokter ternama di Germanwotown, marryland mengatakan “Makan kala sakit seperti kita memberi makan agar penyakit semakin kuat.”

Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni) (catatan : meski ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).

Lantas bagaimana jika sakit tersebut cukup membuat tubuh “menyerah” untuk berpuasa ? Jangan khawatir, Allah SWT Maha Mengetahui atas diri hambaNya, dalam Al Quran telah dinyatakan :  “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Bagaimana jika sakit tersebut bersifat menahun dan sulit disembuhkan seperti stroke dan lainnya ? maka dia boleh menggantinya dengan memberi makan setiap hari seorang miskin. Cara memberinya; yaitu dengan membagikan beras kepada mereka dan lebih baik jika diikuti dengan lauk pauknya sekalian, atau mengundang orang-orang miskin untuk makan siang atau makan malam. Begitulah cara orang sakit yang sulit disembuhkan mengganti puasanya.
Demikian pula dengan orang tua yang tidak mampu berpuasa atau sangat berat baginya, berkewajiban untuk menggantinya dengan membayar fidyah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam atsar yang diriwayatkan dari beliau oleh Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih Al-Bukhari pada Kitabut Tafsir. Dan diqiyaskan dengannya adalah seorang yang menderita penyakit yang tidak ada harapan untuk sembuh. Hal ini yang difatwakan oleh Al-’Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/333-334, 347-349), Al-Wadi’i, Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4/22), dan Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/160-161).

Fidyah harus dibayarkan dalam bentuk makanan pokok sesuai dengan yang kita makan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:  “Dan atas orang-orang yang mampu berpuasa ada pilihan untuk tidak berpuasa dengan membayar fidyah berupa makanan yang diberikan kepada fakir/miskin sebagai penggantinya.” (Al-Baqarah: 184)

Oleh karena itu Al-Lajnah Ad-Da’imah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/163-164) dan Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Ar-Rasa’il (19/116-117) menegaskan tidak sah menggantinya dengan uang. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan fidyah berupa makanan dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakannya sebagai fidyah (memberi makan), maka wajib dibayarkan sesuai yang diperintahkan. Namun tidak mengapa mewakilkannya kepada seseorang yang kita percaya dengan memberinya uang senilai fidyah yang hendak dibayarkan, lalu dia membelikannya makanan untuk diberikan kepada yang berhak, atau mengajak orang fakir/miskin tersebut ke warung makan dan memakannya (sebagai fidyah) di tempat itu.

JANGAN MEMAKSAKAN DIRI BERPUASA JIKA TIDAK MEMILIKI KESANGGUPAN ATASNYA..

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini dalam sebuah konsultasi dengan seorang muslimah yang baru selesai menjalani operasi saluran pencernaan yang berusaha mengadha puasanya dengan obat dan disuruh minum setelah makan sahur. Akhirnya dia bisa puasa sampai lima hari. Namun setelah buka puasa hari kelima, bagian perutnya ke atas hingga kerongkongan bahkan kepala bagian belakang menderita sakit. Menanggapi permasalahan tersebut dijelaskan bahwa derlu diketahui mengqadha puasa bagi yang memiliki utang puasa karena sakit hukumnya adalah wajib apabila dia telah sembuh dari penyakitnya, sehat kembali, dan telah mampu untuk mengqadha puasanya. Adapun selama dia masih sakit dan belum sembuh dari sakitnya, maka selama itu pula belum terkena kewajiban untuk mengqadha. Inilah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka barangsiapa di antara kalian menderita sakit atau dalam safar ada rukhsah (keringanan) baginya untuk berbuka dan wajib atasnya untuk mengqadhanya di hari-hari lain (di luar bulan Ramadhan).” (Al-Baqarah: 184)

Ditegaskan oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad As-Sarbini bahwa kita dilarang memudharatkan diri kita dengan memaksakan diri berpuasa dalam keadaan belum mampu untuk itu, hingga menderita sakit (kembali). Sebab seseorang yang menderita sakit sampai pada tahap puasa memudharatkannya, maka haram atasnya untuk berpuasa dan bukan kebaikan baginya, melainkan maksiat dan dosa. Adapun apabila puasa memberatkannya dan tidak sampai memudharatkannya, maka puasa makruh atasnya. Hal ini ditegaskan oleh Al-Imam Al-’Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/352-353).

Menurut pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/352-353) haram atas seseorang yang menderita sakit untuk berpuasa jika puasa memudharatkannya, baik menambah parah penyakitnya atau memperlambat kesembuhannya. Berdasarkan pendapat ini, haram atas kita untuk memaksakan diri berpuasa, dan puasa bukanlah kebaikan bagi kita, melainkan maksiat yang tercela. Jika kita telah sembuh dan kuat berpuasa, maka kita berkewajiban mengqadha sekian puasa Ramadhan yang anda tinggalkan selama sakit.

Lantas bagaimana jika seseorang telah divonis tidak ada harapan sembuh dan dia pun membayar fidyah, lalu ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan sembuh: Apakah dia harus mengqadha kembali puasa yang telah dibayarnya dengan fidyah?

Jawabannya: Ibnu Qudamah rahimahullahu menyebutkan dua kemungkinan dalam Al-Mughni. Yang benar –insya Allah– dia tidak berkewajiban mengqadhanya kembali setelah sembuh, karena dia telah melaksanakan kewajiban sesuai dengan ajaran syariat, dan tanggung jawabnya telah lepas dengan itu. Sebagaimana halnya seseorang yang memiliki harta yang cukup untuk berhaji, namun dia menderita sakit yang tidak ada harapan sembuh, maka dia berkewajiban memperwakilkan hajinya kepada orang lain dengan biaya darinya dan dia (yang mewakili) pun melakukannya. Apabila setelahnya ternyata dia ditakdirkan sembuh, maka tanggung jawabnya telah lepas dengan itu dan tidak diwajibkan untuk berhaji sendiri setelahnya. Hal ini yang difatwakan oleh Al-’Utsaimin dalam Majmu’ Rasa’il (19/127) dan Al-Lajnah Ad-Daimah dalam Fatawa Al-Lajnah (10/195-196).

TIPS BERPUASA KALA SAKIT

Lantas bagaimana jika kita yakin memiliki kesanggupan untuk tetap berpuasa meski sedang sakit ? Pastikan kita tetap sahur dan berbuka dengan menu makanan yang seimbang syukur-syukur mendekati 4 sehat 5 sempurna plus minum multi vitamin dan air putih secukupnya.

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.