Apa yang Terjadi Pada Kasus Sitok Srengene, Pemerkosaan ataukah Perzinahan?

0

, Apa yang Terjadi Pada Kasus Sitok Srengene, Pemerkosaan ataukah Perzinahan?

Sastrawan Sitok Srengene ditduga melakukan perkosaan yang terhadap mahasiswi UI (RW). Kasus ini terus berkembang. Berbagai pihak turut melontarkan pernyataan maupun sikap.

 Istri Sitok, melalui media sosial, telah bersuara. Disusul kemudian oleh anak Sitok melalui blog pribadinya.

Di pihak lain, pihak BEM FIB Universitas Indonesia tidak mau kalah dengan mengeluarkan kronologi peristiwa seksual tersebut.

 Yang menarik, ada sebuah tulisan independen dari Katrin Bandel melalui blog www.boemipoetra.wordpress.com. Kasus itu, menurut Katrin, menyimpan beberapa pertanyaan dan keganjilan dalam kasus tersebut. Berikut adalah catatan Katrin di blog tersebut

Catatan Pinggir Seputar Kasus Sitok Srengenge



Tentu saja aku pun tidak tahu tepatnya apa yang terjadi antara Sitok Srengenge dan mahasiswi berinisial RW itu. Justru untuk memastikan hal itu dibutuhkan pengadilan.



Namun ada beberapa hal yang menurutku agak ganjil dalam respon terhadap kasus itu di fb, twitter, comment berita dsb.

Pertama, sebagian orang tampaknya cenderung tidak membedakan antara perselingkuhan dan pemerkosaan. Tiba-tiba urusan keluarga Sitok pun dibicarakan, seakan-akan ini urusan kesetiaan antara suami-istri. Seandainya Sitok cuma menyeleweng, ngapain kita ikut ribut! Itu urusan pribadinya. Tapi pemerkosaan atau pelecehan seksual adalah kekerasan, tindakan kriminal. Ini bukan sekadar urusan zinah atau pelanggaran moral, tapi tindakan kekerasan seksual!



Kedua, pada sebagian respon aku sama sekali tidak melihat ada sensitifitas terhadap kondisi psikologis seorang korban pemerkosaan atau pelecehan seksual. Misalnya, ada yang bertanya mengapa kasusnya baru sekarang diadukan, bukan langsung setelah kejadiannya. Tindakan kekerasan seksual seringkali membuat seorang perempuan merasa terhina, malu, dan seakan-akan kotor dan tidak berharga. Korban pemerkosaan mengalami trauma, bingung dan stres, kerapkali bahkan menyalahkan diri sendiri. Hal itu merupakan reaksi psikologis yang wajar dalam kondisi seperti itu, dan bukan tanda ketidaktegasan atau ketidakjujuran!

Di samping itu, bukankah memang pada kenyataannya justru korbannya yang sering disalahkan masyarakat? Perempuan yang diperkosa tidak jarang dibilang kurang pandai menjaga diri, berpakaian kelewat seksi, atau dituduh berbohong. Dalam kondisi semacam itu, bukankah wajar kalau korban bimbang, dan baru berani bersuara saat ada dukungan dan pendampingan? []

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline