Arti Bulan Muharram

, Arti Bulan Muharram

Besok kita akan memasuki lembaran baru dalam hitungan tahun. Ya, 1434 hijriah akan berakhir hari ini. 1435 Hijriah dengan 1 Muharram pun menjelang. Bulan Muharram, seperti bulan-bulan lainnya dalam Islam, mempunyai keistimewaan tersendiri. Apa arti dari bulan Muharram?

Bulan Muharram dikenang sebagai momen bersejarah akan hijrahnya Rasul beserta kaum Muhajirin Mekah ke Madinah, sebagaimana dikisahkan dalam alQuran : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah.

(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.

Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (Al-Anfal: 72-75).

Keempat ayat ini merupakan satu-satunya rangkaian ayat-ayat hijrah yang paling lengkap dan tersusun secara berurutan dari sekitar dua puluh ayat yang berbicara tentang hijrah.

Adapun bulan muharam di kenal juga dengan sebutan ‘asyuro (hari kesepuluh), merupakan warisan dari tradisi Yahudi yg menyunahkan berpuasa di tanggal 10 Muharram, mereka lebih memprioritaskan hanya asyuro bukan Muharram (tanggal 10 saja) karena keyakinan mereka dimana hari itu keselamatan bani israil zaman nabi Musa dari Firaun sehingga sunah mereka puasa asyuro, sebagaimana Ibnu Abbas mengkisahkan dalam sebuah hadits :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura’ ( tanggal 10 Muharram), maka beliau bertanya: “Hari apakah ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari itu karena syukur kepada Allah. Dan kami berpuasa pada hari itu untuk mengagungkannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian”, maka Nabi berpuasa Asyura’ dan memerintah-kan puasanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, Rasul memutuskan tradisi keberlangsungan istilah’ asyuro versi yahudi dan menggantinya dengan sunah puasa Muharram 9, 10 dan 11 Muharram…Sebagaimana beberapa periwayatan menceritakan ketegasan sikap Rasul untuk tampil beda dengan para yahudi bani israil. Ketika Para sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah, sesungguhnya Asyura’ itu hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahun depan insya Allah kita akan puasa (juga) pada hari yang kesembilan.”(HR. Muslim (1134) dari Ibnu Abbas).

Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur lain, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (Fathul Bari, 4/245).Adapun bulan Muharram dikenal dengan istilah Bulan Suro, asal usulnya berasal dari tradisi primbon Jawa. Konon kata suro diadopsi dari ‘asyuro ( hari kesepuluh menurut tradisi Yahudi). Bulan suro juga dikenal sebagai bulan keramat, keramat diambil dari kata karomah (kemuliaan ) akan tetapi ternyata diterjemahkan berbeda. Bulan karomah (yang dimuliakan) menjadi istilah keramat, akhirnya muncul ketakutan sebagai bulan sial dan petaka. Dengan demikian berpotensi dibuatnya banyak hadits palsu mengiringi bacaan doa awal/akhir tahun agar terhindar dari petaka di bulan tsb.

Jadi cukup bagi kita mengambil istilah Muharram sebagai bulan yang dimuliakan sebagai momentum reformasi Rasulullah untuk selalu hijrah dari kejahiliyahan modern menuju cahaya kebenaran Islam dengan mensyiarkan doa dan amalan pasti dari Rasulullah saw. Wallohu a’lam. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.