Arti Canda Rasul terhadap Istrinya (1)

, Arti Canda Rasul terhadap Istrinya (1)Rasul adalah seorang manusia yang memiliki kesibukan luar biasa untuk berbagai keperluan, sejak dari melayani masyarakat sampai dengan mencari ma’isyah (penghidupan keluarga). Tetapi beliau masih sempat bercanda dengan istri-istrinya dengan canda yang mungkin tidak akan dilakukan oleh seorang pemimpin tingkat kabupaten.

Pernah Rasulullah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba lari dengannya. Rasulullah kalah. Lain kali Rasulullah kembali mengajak Aisyah berlomba lari dan Rasulullah memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata, “Ini pembalasan yang dulu.” Begitu Imam Ahmad dan Abu Dawud menceritakan dalam hadisnya. Kata Muhammad Abdul Halim Hamid, hadis ini shahih.

Rasulullah juga menunjukkan perhatian dan kemesraan kepada Aisyah ketika meminum. Rasulullah meminum dari gelas yang sama dengan Aisyah dan meminum di bekas tempat Aisyah meminum. Begitu yang diceritakan Imam Muslim dalam hadisnya.

Begitu juga ketika mandi bersama, kadang Rasulullah menunjukkan candanya. Bercanda dengan istri atau suami insya-Allah membawa kepada kebaikan dan langgengnya perasaan cinta antara keduanya. Agama ini bahkan menilai canda suami- istri sebagai tindakan di luar dzikrullah yang tidak termasuk kesia-siaan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Begitu dekatnya hubungan Rasulullah dengan istrinya, sehingga beliau dapat mengenali kapan Aisyah marah dan kapan Aisyah ridha hanya dari perbedaan diksi ketika berbicara kepada Rasulullah. Padahal Aisyah tidak menampak-nampakkan emosinya.

Ketika rumah diwarnai dengan kehangatan, penerimaan, perhatian, dan kasih- sayang, maka ia menjadi surga bagi penghuninya. Rumah tidak sekedar bangunan kokoh dari batu bata dan semen. Rumah memberi arti kedamaian dan keteduhan psikis. Dan ini lebih indah dari sekadar kenikmatan hubungan seks berhenti sebagai peristiwa biologis semata-semata. Jika hubungan seks tidak berhenti sebagai peristiwa biologis semata-semata, ada keindahan yang lebih dari itu.

HABIS

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.