Awas, Ancaman Psikosomatis! (1)

, Awas, Ancaman Psikosomatis! (1)Praktisi kesehatan yang memeriksa pasiennya biasanya menganut paradigma lama dalam dunia kedokteran yang senantiasa melihat suatu penyakit semata-mata dari aspek fisiknya saja.

Memang, ada sebagian dokter yang selama bertahun-tahun telah dididik untuk memisahkan emosi dari penyakit fisik. Mereka mengabaikan peran pikiran dan emosi dalam menimbulkan dan menyembuhkan penyakit. Ilmu kedokteran konvensional hanya berfokus untuk menyembuhkan gejala fisiknya.

Padahal, banyak sekali penyakit yang berkaitan dengan emosi. Menurut penelitian American Institute of Stress, antara 75-90% dari semua kunjungan pasien ke dokter untuk mendapatkan perawatan pertama merupakan akibat dari masalah yang berhubungan dengan stress. Namun, dari sudut pandang medis penanganan untuk stress biasanya sangat dangkal.

Ada sebagian dokter yang melihat pasien sebagai serangkaian bagian yang akan disembuhkan dan bukan sebagai manusia yang utuh. Di sinilah letak masalahnya. Ketika kita mengidentifikasikan bagian-bagian tubuh berdasarkan fungsinya – jantung hanyalah sebuah pompa, perut adalah kantong, pendengaran adalah akibat dari beberapa tulang yang bergetar di kepala, dan otot adalah katrol. Kita gagal memahami manusia secara utuh, yaitu manusia yang lebih besar daripada sekedar jumlah bagian-bagiannya. Kita hanya memahami bagaimana setiap bagian tubuh itu bekerja. Ini membuat kita kehilangan perspektif yang lebih besar. Kita melupakan proses yang terjadi secara keseluruhan. Kita tidak melihat hubungan antara pikiran dan semua penyakit fisik. Padahal,  keduanya memiliki korelasi yang sangat erat.

Perkembangan dalam ilmu kedokteran kini telah berangsur-angsur beralih kepada cara pandang yang lebih holistik kalau kita bandingkan lebih mendekati thibbunnabawi ‘pengobatan cara Nabi, yaitu mengobati pasien dengan sebuah pandangan yang utuh. Dalam hal ini, pasien dilihat dari perspektif yang menyeluruh, yaitu tubuh, pikiran, dan ruh (body, mind, and soul).

Untuk melakukan penyembuhan yang sempurna, tidak ada bagian yang bisa diabaikan. Ilmu kedokteran holistik tidak mengabaikan bakteri, virus, atau penyebab penyakit apapun yang bersifat fisik. Namun pendekatan holistik menggabungkan hal ini dengan pengetahuan mengenai pengaruh pikiran dan emosi.

Jadi, hal ini merupakan penggabungan antara pendekatan tradisional dan nontradisional yang disebut oleh Dr. Robert Atkins—dalam bukunya Health Revolution—sebagai ilmu kedokteran komplementer. bila kita lihat dalam sejarah dunia Islam pengobatan yang sifatnya holistik bukan barang baru lagi bahkan Rasululloh Saw sebagai contoh nyata manusia yang sehat yang tercatat dalam sejarah dan bila dihitung dalam literatur Hadis Rasululloh itu dalam hidupnya hanya mengalami sakit hanya 3 kali.”

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.