Ayah Terkeren dalam Al-Qur’an (1)

, Ayah Terkeren dalam Al-Qur’an (1)Kita mengetahui bahwa pada tanggal 22 Desember merupakan Hari Ibu. Namun, apakah Anda tahu kapan Hari Ayah? Ya, Hari Ayah tepat pada tanggal 12 November. Mengapa Hari Ayah selalu diabadikan setiap tahunnya? Tidak lain, karena ayah memiliki peran yang sangat penting. Ayah merupakan sosok pemimpin dalam keluarga. Nah, berbicara tentang ayah, di sini ada sederetan ayah terkeren yang ada dalam Al-Qur’an, diantanya yaitu:

1. Nabi Muhammad SAW
Siapa yang tidak kenal beliau? Rasulullah dikenali oleh semua orang, baik musuh ataupun kawan. Beliau dinobatkan sebagai orang paling berpangaruh di dunia versi buku ‘The 100’ ini memiliki 4 putra dan 4 putri, walaupun keempat putranya meninggal saat masih kecil, tetaplah beliau ayah terbaik. Jiwa penyayangnya kepada anak-anak tidak diragukan lagi. Nabi Muhammad menyayangi semua anak kecil meskipun tak memiliki hubungan darah dengannya.

Beliau menciumi anak kecil saat berjumpa, mengajak balap lari, dan membuat lelucon jenaka merupakan keahliannya, dalam menghibur anak dan cucunya. Beliau juga merupakan sosok yang sabar dan tidak suka memarahi anak kecil.

Walaupun sabar dan tidak suka marah kepada anak kecil, bukan berarti menghilangkan sifat tegas beliau dalam mendidik anak. Rasulullah tidak segan menegur anaknya apabila menyalahi adab yang dibenarkan Islam. Beliau pernah menegur Umar bin Abu Salma “Hai nak! Bacalah basmalah, menyuaplah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada didekatmu!” dari Aisyah HR. Bukhari dan Muslim.

Beliau bahkan pernah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, tentu Muhammad akan memotong tangannya,” HR. Bukhari. Melalui contoh di atas kita mengetahui sebagai seorang ayah kita patuh dekat dengan anak akan tetapi tidak menghilang ketegasan dan objektivitas tetang kebenaran.

2. Nabi Ibrahim AS
Nabi Ibrahim menjadi sosok ayah terkeren berikutnya karena keberhasilannya membina suatu keluarga. Prestasinya di antaranya Sarah yang sholehah, Hajar yang tegar, dan Ismail anak yang sholeh dan mampu menguatkan dan mengokohkan keimanan bapaknya. Nabi Ibrahim telah berhasil mendidik keluarganya menjadi keluarga yang senantiasa mentauhidkan Allah SWT.

Fase Dua yang sangat sulit dalam hidup sebagai seorang ayah telah Beliau lalui dengan baik. Dua fase itu adalah ketika turun perintah dari Allah meninggalkan Hajar yang baru melahirkan Ismail di bukit gersang tak berpenghuni dan saat turun perintah menyembelih anaknya Ismail. Walaupun berat Ibrahim menjalankan perintah Allah tersebut. Rasa cintanya kepada keluarga tidak pernah mengalahkan rasa cintanya kepada Allah. Bahkan Ibrahim sebagai seorang ayah mampu meyakinkan keluarganya tentang arti ketaatan kepada perintah Allah. Memalui kisah ini kita menyadari bahwa seorang ayah tidak sepantasnya menjadikan rasa cinta kepada keluarga sebagai alasan untuk berbuat negatif. Seberat apapun kondisi yang ayah terima kita harus tetap yakin bahwa Allah akan senantiasa menolong dan memberikan jalan.

3. Nabi Ya’qub AS (Ayahnya Nabi Yusuf AS).
Nabi yang juga dikenal sebagai Nabi Isroil dan menjadi nenek moyang Bani Israil ini menjadi ayah terkeren bukan karena memiliki anak Nabi Yusuf yang super tampan. Akan tetapi, hal yang tidak kalah keren darinya adalah kesabaran beliau dalam mengenalkan baik dan buruk kepada anaknya.

Sifat iri yang kerap dimikili oleh anak terhadap perhatian orang tua mereka kepada saudaranya juga dialami oleh anak Yaqub. Rasa iri ini yang menjerumuskan anak-anak Yaqub untuk berbuat jahat kepada Yusuf. Meskipun mengetahui anak-anaknya telah berbuat jahat kepada anak kesayangannya, Yusuf, Yaqub tidak serta-merta membuang dan mengusir anaknya dari rumah. Akan tetapi Yaqub justru mendoakan ampunan kepada Allah untuk anak-anaknya. Beliau juga menasehati dan mendoakan semoga anak-anaknya dapat berubah menjadi lebih baik. Sikap kesabaran ini yang seharusnya dimiliki oleh seorang ayah yang memiliki anak nakal atau bermasalah. Kekurangan anak bukan berarti menjadi alasan seorang ayah untuk mengusirnya. Akan tetapi menjadi tanggung jawab orang tua lah untuk meluruskan jalannya.

Beliau juga masih memberikan harapan anak-anaknya untuk berubah dan berbuat baik saat meminta Bunyamin untuk ikut ke Mesir. Rasa percaya ayah kepada anak inilah yang beliau terapkan. Orang tua harus bersikap tegas tetapi tidak menghakimi dan melebel negatif anak. Orang tua seharusnya menjadi seorang yang paling dekat dan paling percaya kepada anak bahwa ia akan berubah di saat posisi tersebut.
BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.