Ayahku Seorang Petani

, Ayahku Seorang Petani

Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Ayahku seorang petani
tanaman jadi teman sehari-hari
dari padi hingga palawija di kebun sendiri
ya, Ayahku benar-benar petani

Ayahku seorang petani
beli pupuk masih tersengal sana-sini
tanah terpepet tak jadi diolah sendiri
mau tak mau jadi kuli, kuli tani

Ayahku seorang petani
setiap hari siangi dan awasi benih dari biji
tak taunya setelah panen harga anjlok di pasar kami
eh, ada impor dari sana sini

Beras pun impor
padahal yang kutau negeriku lumbung padi
Kedelai juga impor
padahal tempe tahu jadi menu kami tiap hari
Buah-buah pun tak kalah, impor jua

Lalu kami petani tanam apa, wahai Bapak Negeri?
Janjimu membela kami hingga berbusa di hadapan awak televisi, dulu
Janjimu dulu bersahabat dengan kami saat kau hendak maju ke kursi
Ah, iya, aku lupa kalau itu cuma janji

Maka jangan salahkan jika petani tak lagi percaya negeri
Jangan katakan kami pengkhianat kalau kaupun cederai amanat kami
Jangan pula salahkan kalau ekonomi negeri ini mati, dan kami pun mati, mati rasa akanmu
Ya, kaulah yang membunuh kami para petani..

Kau jual tanah negeri pada mereka yang berdasi
Kau gadaikan nasib kami, anak kandung bangsa sendiri
Benih kami membeli, pupuk melangit tinggi, tanah tak lagi terjangkau diri
Lalu harus bagaimana kami, wahai Bapak Negeri?

Gedung kian menjulang di seantero negeri
Mana tanah untuk kami?
Harga kami terpecundangi di pasaran sana sini
Bagaimana nasib kami, wahai Bapak Negeri?

Ayah, bersabarlah
Hari ini hari tani, harimu dan hari ribuan pahlawan di negeri ini
Ya, kalian pahlawan sejati negeri ini,
alangkah layaknya kalian menyandang demikian

Wahai pahlawanku, bersabarlah..
Ayahku, kau seorang petani.. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.