Bagaimana Menanamkan Aqidah pada Anak?

, Bagaimana Menanamkan Aqidah pada Anak?Spiritualitas memberi makna pada kehidupan. Spiritualitas adalah kepercayaan akan adanya kekuatan nonfisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita; sesuatu kesadaran yang menghubungkan kita langsung dengan Tuhan, atau apa pun yang kita namakan dengan sumber keberadaan kita.

Saat anak memulai kehidupan dengan rasa takjub bawaan tentang dunia mereka, maka mereka memiliki bawaan spiritualitas. Kita, sebagai orangtua, dapat memupuk sifat bawaan yang berharga ini dengan perkataan, tindakan dan perhatian kita pada anak. Dimana ada ketakjuban, di situ ada spiritualitas. Hal-hal biasa menjadi luar biasa jika kita menjalaninya sebagai yang bermakna.

Beberapa contoh untuk mengenalkan ini pada anak antara lain soal aqidah dengan rujukan Al-Qur’an Annisa : 136 bunyinya seperti ini

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Kita bisa implementasikan misalnya seperti beberapa contoh berikut ini:

“Papa mau tanya: telur sama ayam duluan hadir siapa?” Biar anak-anak menjawab, berpendapat. Biarkan mereka ‘berpetualang’ dengan pikirannya sendiri dan mengungkapkan pikirannya sendiri. Meski, mungkin kita tidak menyetujuinya.

“Telur keluar dari ayam kan anakku? Lalu ayam keluar dari mana? Dari telur kan? Nah kalo terus ditarik ke ujung…. pasti ada yang awalnya. Kita tidak tahu pasti siapa yang paling awalnya, tapi pasti sebagaimana telur dan ayam pasti hidup kita ada awalnya.”

“Sebelum kamu lahir, Kamu ada di rahim mama, mama dan papa lahirnya juga melalui rahim neneknya kamu. Lalu siapa yang melahirkan nenek? Siapa yang melahirkan nenek dari nenek dari nenek dari nenek? Panjaaaaaang banget, siapa yang hadir duluan ke dunia? “

“Adam Papa. Tapi Adam kan laki-laki, bukan ibu-ibu”.

“Betul, adam laki-laki tapi Rasulullah berkata, Adam lah yang diciptakan duluan: ‘Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah.’ (HR Bukhari)”

“Tapi apakah Adam atau istrinya Hawa pasti ada yang menciptakan kan? Tidak mungkin sesuatu hadir tanpa ada yang mencipta! Kecuali Maha Pencipta itu sendiri”. (Iman Kepada Allah: Al-Khalik).

“Setiap akibat pasti membutuhkan sebab. Ada panas karena ada api. Ada sinar karena ada cahaya, dll. Demikian juga alamat semesta, gunung, hutan, sungai, lembah adalah akibat, jejak.”

“Setiap akibat berasal dari sebab, setiap jejak berasal dari pembuat jejak. Ada Penyebab yang sangat besar kuasa-Nya yang mengadakan alam semesta.”

Contoh pembicaraan di atas adalah salah satu saja dari sekian banyak ‘topik’ untuk memancing anak untuk bertanya dan penasaran tentang Allah. Ini sangat bagus untuk terus menghadirkan Allah pada kehidupan anak.

Mungkin, pada awalnya sebagian pertanyaan itu jika tak terbiasa akan menyulitkan Anda. Mungkin anak akan bertanya tentang “Mengapa Allah menciptakan neraka? Mengapa Allah tidak punya ibu dan tidak punya bapak? Mengapa Allah tidak kelihatan? Kita berdoa kepada Allah, bagaimana Allah mendengar kita? Katanya kalau minta sama Allah, tapi mengapa Allah tidak mengabulkan semua doa manusia? Allah punya telinga tidak? Allah punya mata tidak? Allah bisa dipanggil ke rumah kita tidak?”

Mungkin ratusan pertanyaan lainnya yang akan menjadi ‘petualangan’ intelektual ,dan sekaligus, jika kita bisa menghubungkannya ke dalam pengalaman sehari-hari dan kejadian-kejadian bermakna setiap hari akan menjadi pengalaman spiritual tersendiri bagi anak. Ketika anak merasakan gelap, merasakan takut, sedih, merasakan sendiri, merasakan kedinginan, kepanasan, dalam keadaan hujan, terik, siang dan malam, Allah sungguh bisa dihadirkan dalam pikiran anak dengan bermakna.

Ketika anak bertanya tentang Allah, kunci selanjutnya adalah ajak anak untuk mengenal Tuhan-Nya dengan nama-nama Allah yang baik seperti yang termaktub dalam asmaul husna. Kaitkan selalu asmul husna itu dalam kehidupan sehari-hari. Kenalkan asmaul husna pada anak, bukan untuk dihafal tapi untuk dimaknai satu-satu namanya yang kemudian dapat diamalkan dalam keseharian. Misalnya, Allah punya nama Maha Rahman, maka Allah menyukai kita manusia berbuat rahman, dan seterusnya. [Sumber: Bagaimana Menanamkan Aqidah Pada Anak?. Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, Direktur Auladi Parenting School]

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.