Begini Caranya Kenalkan Anak pada Allah (1)

0

, Begini Caranya Kenalkan Anak pada Allah (1)Mengenal Allah merupakan aspek paling penting dalam akidah Islam. Ia menjadi ushuluddin (pondasi agama) yang seluruh keyakinan lainnya bermula dan berakhir kepadanya. Pengetahuan anak-anak tentang penciptanya ini juga merupakan hal terpenting, karena pengetahuan yang sejak dini biasanya terbawa hingga ke jenjang usia dewasa.

Anak umumnya bersifat teis, mengenal dan mempercayai Tuhan, dan umumnya kepercayaan itu dibawa sejak dari keluarga. Hanya saja ada terdapat perbedaan pengetahuan antara anak yang satu dengan lainnya, terutama yang berbeda usianya.

Anak-anak yang usia rata-ratanya enam, tujuh, dan delapan tahun, memperlihatkan bahwa pengetahuan mereka tentang Allah swt yang paling diingat adalah sosok Tuhan sebagai pencipta. Namun pada usia ini juga, ia mulai memahami bahwa Allah swt memiliki kekuatan dan kemampuan yang Maha Besar. Kekuatan Tuhan selalu dibandingkan anak dengan kekuatan lain yang ada disekitarnya atau yang pernah dia kenal seperti dalam film-film yang ditontonnya. Seorang guru agama bercerita bahwa salah seorang anak pernah bertanya mana yang lebih kuat antara Allah dengan power rangers?

Jika kita telusuri, salah satu yang menyebabkan anak-anak tersebut tertarik pada sosok Tuhan dikarenakan dalam benaknya Tuhan adalah sosok yang sangat kuat, dan penjelasan itulah yang ia dapat dari jawaban orang sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa anak sangat antusias mendengar cerita mengenai sosok atau tokoh-tokoh yang penuh dengan kehebatan dan kesaktian. Keadaan ini yang akan mendorongnya untuk lebih banyak mengetahui sosok Tuhan dengan berbagai atribut, kehendak, hukum dan perintah-perintah-Nya.

Hal yang paling menonjol juga, anak-anak usia enam sampai delapan tahun menggambarkan Tuhan dengan sangat positif, yakni penuh sanjungan, pujian, pengagungan, dan penghormatan yang sepenuhnya. Namun semua itu belum mengakar dan mendalam di benaknya, meskipun ia mulai berkeinginan melakukan hal-hal yang dianjurkan dalam agama seperti ritual-ritual peribadatan dan tidak ingin jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan sejauh yang dilakukannya.

Pada awalnya, ritual keagamaan diikuti anak melalui tindakan orang tuanya. Salat, misalnya, diikuti oleh anak tanpa diperintahkan orang tuanya, melainkan atas inisiatif pribadinya, disebabkan melihat perilaku orang tuanya yang selalu melaksanakan salat. Bahkan, sarana-sarana khas dalam salat, seperti sajadah, peci (lebai), kain sarung, selalu diingat anak, jika orang tuanya lupa atau saat ia ingin mengerjakan salat.

Ini menunjukkan perhatian besar anak terhadap dimensi keagamaan yang ada dalam keluarga, karenanya, orang tua dan seluruh anggota keluarga selayaknya memperhatikan seluruh perilakunya terutama yang berhubungan dengan etika dan ajaran agama.

BERSAMBUNG

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.