Begini Islam Mengatur soal Cemburu

Cemburu. Sifat apakah itu? Cemburu adalah salah satu sikap yang lahir dari seseorang karena adanya perasaan cinta dan sayang. Cemburu ini berupa kebencian dan ketidaksukaan seseorang pada orang lain yang ingin ikut serta dalam haknya. Ternyata cemburu termasuk salah satu sifat terpuji baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Namun yang lebih sering menampakkan rasa cemburunya itu adalah wanita. Biasanya laki-laki memendam rasa cemburunya karena lebih mementingkan gengsinya. Maka dari itu tak heran jika suami menyinggung masalah poligami, istrinya akan marah dan tidak terima. Hal ini sangat lumrah dan fitrah terjadi. Karena di dunia ini sejatinya tidak ada perempuan yang rela untuk dimadu. Mereka menginginkan bahwa suaminya adalah sepenuhnya hak milik ia sendiri, tidak boleh ada yang memilikinya lagi selain dirinya sendiri. Ini merupakan bentuk dari rasa cinta wanita pada suaminya. Wanita yang tidak mencintai suaminya tidak akan mempermasalahkan suaminya akan menikah lagi dan akan bersikap bodo amat. Namun wanita yang seperti ini sedikit jumlahnya.

Terdapat himbauan pula untuk para wanita muslimat berkaitan dengan “bidadari” yang disiapkan untuk laki-laki beriman di surga. Mereka tidak boleh cemburu pada bidadari di surga dengan alasan sebagai berikut:

– Seorang istri tidak mengetahui apakah ia akan bersama suaminya di surga atau tidak.

– Di surga nanti tidak akan ada lagi sifat cemburu

– Allah SWT juga menyediakan untuk kaum wanita muslimat kenikmatan khusus yang menyenangkan, sekalipun kita tidak mengetahui perinciannya, oleh karena di surga terdapat hal-hal yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan tidak pernah terbesit dalam hati manusia.

Adapula teruntuk laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istri dan keluarganya, telah Rasulullah SAW sabdakan, “Dari Ammar bin Yasir RA dari Rasulullah SAW : Sesungguhnya ada tiga golongan yang tidak bakal masuk surga : Peminum (pecandu) khamar (miras), orang yang durhaka kepada orang tuanya dan dayyuts (ditafsirkan oleh Rasulullah SAW yaitu : orang yang mentolerir kebejatan, kemaksiatan, kerusakan yang terjadi di tengah-tengah keluarganya,)” (HR. Thabrani, Ahmad, Hakim dan Baihaqi).

Sumber: Menikmati hubungan intim suami – istri menggapai pernikahan berkah/Muhammad Ahmad Kan’an/Pustaka Nawaitu/Mei 2003/Jakarta Timur.

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.