Bekam Untuk Wanita

0

 

alat-bekamSelama ini kita mungkin lebih sering mendengar soal bekam untuk laki-laki. Bagaimana dengan wanita?

Dari Jabir bin abdillah bahwa Ummu salamah pernah meminta izin kepada Rosulullah untuk berbekam, lalu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyuruh Abu Thayyibah agar membekam Ummu Salamah. Jabir bercerita,”Aku kira beliau bersabda:”Dia (Abu Thayyibah) adalah saudara sepersusuan Ummu Salamah atau dia masih kecil ( belum baligh) yang belum bermimpi (basah) -muslim (no 2206) dari Abu dawud( no 4105)

Dari ” Ubbad bin Manshur, dia bercerita :”Aku pernah mendengar”Ikrimah mengatakan:”Ibnu ‘Abbas pernah memiliki pembantu’tiga orang tukang bekam.”Dua di antaranya mendidihkan air untuknya dan untuk keluarganya, sementara satu dari mereka membekamnya dan membekam keluarganya.

Abu’ Abbas al-Qurthubi mengatakan: ”Permintaan izin Ummu Salamah kepada Nabi untuk berbekam adalah dalil bahwa wanita tidak sepatutnya melakukan suatu pengobatan terhadap dirinya sendiri atau yang semisalnya, kecuali atas izin suaminya karena adanya kemungkinan hal itu akan menjadi penghalang bagi haknya atau mengurangi tujuannya. Jika dalam amalan- amalan Sunnah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah TA’ala tidak boleh dikerjakan oleh seorang wanita kecuali seizin suaminya, maka akan lebih tepat baginya untuk tidak melakukan sarana pendekatan lainnya, kecuali dengan seizin darinya. Kecuali jika keadaaan sangat darurat, baik karena takut akan kematian atau sakit yang sangat parah. Yang terakhir ini tidak lagi memerlukan izin, karena ia telah termasuk kedalam hal yang wajib dilakukan.

Selain itu, bekam dan yang semakna dengannya yang memerlukan keterlibatan orang lain, maka harus ada izin dari suami, agar suaminya bisa melihat siapa yang boleh melakukan hal tersebut dan tindakan yang boleh untuk dilakukan.

Tidakkah engkau mengetahui bahwa Nabi pernah memerintahkan Abu Thayyibah untuk membekam Ummu Salamah ketika beliau mengetahui adanya persaudaraan yang menjadi jalinan sebab antara keduanya boleh melakukan hal tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh perawi:”aku kira dia(abu Thayyibah ) adalah saudara sepersusuan atau anak yang masih kecil yang belum bermimpi (basah/ baligh

Tidak diragukan lagi bahwa memperhatikan hal tersebut merupakan hal yang wajib saat terjadi kasus seperti itu. Jika tidak terjadi hal seperti itu lalu keadaan darurat memaksa untuk meminta bantuan orang lain yang sudah tua, maka hal tersebut diperbolehkan, karena(untuk) memilih mudharat yang lebih ringan.

Dari segi fiqih, didalam hadist tersebut terkandung makna yang menunjukkan bahwa seorang mahram diperbolehkan melihat beberapa bagian dari wanita mahramnya yang tidak boleh dilihat oleh laki- laki asing. Demikian juga anak- anak, karena seringnya, bekam pada wanita itu dilakukan pada bagian yang tidak boleh dilihat oleh laki2 asing, misalnya bagian tengkuk, kepala, dan kedua betis.

Al- Hafizh ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan : “Hukum mengobati wanita diambil dari hadist tersebut melalui qiyas. Hukum tersebut tidak berlaku sebelum berlakunya hukum hijab, atau seorang wanita melakukan bekam dengan dibantu oleh suami atau mahramnya. Sedangkan hukum meminta izin maka dibolehkan bagi laki-laki asing untuk melakukan pengobatan ketika dalam keadaan darurat, dengan hanya melakukan hal yang dibutuhkan saja, berkaitan dengan pandangan, sentuhan tangan, dan lain-lain.fathul baari X/136. [sumber: obat ajaib]

 

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline