Belajar dari Bapak

0

, Belajar dari Bapak

Oleh: Anisa Prasetyo Ningsih, Universitas Negeri Jakarta

Susah menemukan puisi karya sastrawan ternama yang menggoreskan tentangmu, bapak.. Yang banyak kutemui adalah puisi tentang ibu.. Apakah ini bertanda bahwa kau tak terlalu penting. Ataukah karena cap karakter ‘hebat’ yang menempel pada sosokmu, hingga tak patut dibuatkan narasi bernas macam puisi.

Meski kau berada diurutan keempat saat seseorang bertanya pada Rasul tercinta, tentang kepada siapa harus berbakti. Tapi tentunya keutamaanmu tidak diragukan lagi, karena syurga-neraka seorang istri ada padamu.

Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)

Mengamati Tanggung Jawabmu

Lebih dari seperempat abad sudah kebersamaan dengan ibu terjalin. Suka, duka, tawa, canda, nestapa ataupun bahagia terlalui bersama. Mulai dari kerja dan bergaji ‘enak’ hingga krisis ekonomi yang menjerat hingga terkena PHK. Namun semua kondisi ini tak menyurutkan langkah kakimu untuk berjuang, mencari nafkah. Besarnya tanggung jawabmu pada kami membuatmu tak peduli pada jenis pekerjaan yang kau geluti. Asal jujur dan halal.

Ku ingat dulu, sewaktu masih kecil, engkau kerap pulang dengan bau amis yang menyengat. Membuatku tutup hidung dan enggan mendekat. Kepulanganmu yang paling berkesan adalah saat engkau membawa ikan pari ukuran besar.. Juga ada ikan berkaki yang menurutku aneh sekaligus lucu.

Senang rasanya ketika menemani dirimu membersihkan ikan-ikan itu. Membuang sisik dan isi perutnya. Beberapa kali aku bertanya tentang nama-nama jenis ikan itu.. Kau menjawab dengan sabar sambi terus membersihkan.

Usai semua ikan dibersihkan, sebagian kecil ikan itu dimasak sebagai lauk. Nikmat sangat rasanya.. (jadi kangen makan ikan.. hehe) Sebagian besarnya dijual keliling ‘kampung kota’ oleh ibu ditemani aku. Teriakan khasnya, “Ikan, ikan..” (ya iyalah.. kan jualan ikan.. =D) Atau kadang kala kalau nasib baik tengah berpihak, tanpa perlu keliling untuk menjualnya, ikan itu sudah habis dibeli orang yang datang ke rumah.

Tak hanya ikan yang pernah didapat bapak. Kadang rajungan ataupun kerang hijau.. Semua kenangan itu terasa nikmat.. Juga saat kami diajak naik perahu saat bapak tak melaut.. Ikan-ikan berloncatan masuk ke parahu kecil yang kami tumpangi. Sungguh pengalaman yang menyenangkan..

Saat laut tak lagi menjadi milik kami, warga negara Indonesia. Karena jalur aksesnya ditutup oleh tempat hiburan ternama di Utara Jakarta itu. Lakon lain mulai dicari dan digarap olehmu.. Walaupun itu menyebabkan dirimu tak kerja berkepanjangan.. Ibu pun dengan senang hati membantu dengan berjualan gorengan.

Masih Tentangmu

Dilain tahun, setelah lama paska melaut tak bisa lagi diakses. Kau pulang dengan rambut seperti beruban karena terkena semprotan cat.. Bau cat sangat. Biasanya ibu segera membelikan susu kaleng untuk kau seduh dan minum. Untuk menetralisir racun yang mungkin terhirup saat kerja. Hingga kini, yang ku tahu, itulah pekerjaan yang kau geluti.. Di dunia cat dan mebel atau furnitur lepas dan panggilan.

Terlepas dari kewajibanmu mencari nafkah, kau pun tak segan membantu urusan rumah tangga.. Kau tak segan untuk membantu mencuci, mengepel bahkan untuk menyapu lantai.. Kewibawaanmu tak berkurang sedikitpun karena aktivitas ini.. Kecintaanmu pada ibu teruji kala kecelakaan itu. Sebuah insiden yang menyebabkan tulang lutut ibu patah dan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.. Kau dengan sabar mengurusinya..

Yang juga kubanggakan adalah, kaulah yang kerap kali mensupport pendidikan kami. Kau mendidik kami untuk berani dan jujur. Kau membesarkan hati kami untuk terus sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi.. Kau usahakan segala cara agar kami dapat terus bersekolah dan bermimpi..

Aku bangga padamu, Bapak.. Dengan segala lebih dan kurangmu.. Engkaulah bapak sekaligus guruku..

-Tiada kata terlambat-
Selamat hari Bapak, Guruku.. Selamat hari Guru, Bapakku.. Meskipun profesimu bukan guru.. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.