(Belajar) Menghargai Keringat Orang Lain

0

 
, (Belajar) Menghargai Keringat Orang LainOleh: Esti Prastyani

“Assalamu’alaikum. Bu, mau beli roti?” tanya seorang wanita berkerudung rapi warna kuning yang memadu seragamnya yg berwarna kuning-merah.

Wanita itu muncul di balik pintu ruang kerjaku yang dia buka setelah sebelumnya dia mengetuk pintunya terlebih dahulu.

Ketikan berita klien salah satu dealer otomotif langsung aku hentikan. Setelah aku jawab salamnya, aku persilakan wanita itu utk masuk.

Tiga tas kotak berwarna kuning berisi aneka roti dia masukkan ke ruanganku. Dia wanita yg 4 hari lalu juga sudah datang ke kantorku menawarkan roti-roti salah satu toko roti di kawasan Mejasem, Tegal. Dan aku juga sempat membeli rotinya.

Dia letakkan 3 tas roti di dekat sofa ruangan kerjaku, lalu dia langsung duduk di lantai.

“Kok, duduknya di bawah mbak. Ayo duduk di atas. Itu tas-tas kuenya kan masih bisa ditaruh di sofa sebelahnya,” ujarku melarang si mbak roti duduk di lantai.

(Uppsss…ternyata sudah dua kali membeli roti-rotinya aku lupa berkenalan. Setidaknya sekedar mengenal namanya saja. Karena aku belum tau siapa namanya, jadi aku sebut dia “mbak roti”)

“Jadi semuanya….,” ucap mbak roti terhenti karena ia harus menghitung roti-roti yang aku pilih.

Dia keluarkan handphone dari saku roknya.

“Ini pake kalkulator saya aja mbak, gak apa-apa, biar gampang,” kataku ke si mbak roti yg sedang memencet keypad Hpnya.

Mbak roti pun memasukkan roti-rotiku ke kardus roti agar bisa terbungkus jadi satu, lalu dibungkusnya kembali dengan plastik.

Mungkin dia memegang ‘falsafah’ bahwa pembeli adalah raja. Dia bekerja sangat hati-hati supaya roti-rotiku tidak rusak. Aku cermati cara dia bekerja. Setidaknya, ini sebagai bukti dia menghargaiku sebagai “raja”.

Selain itu, mungkin ini juga karena dia ingin menghargai toko roti tempatnya bekerja. Sehingga dia bekerja dgn hati-hati melayani konsumen, agar nama baik toko roti tempatnya bekerja tidak tercoreng oleh ulah-ulah yang bisa saja timbul jika dia tidak baik melayani konsumen. Dan hal-hal seperti ini tentunya tidak bisa dilihat oleh bosnya atau sang pemilik roti tempatnya bekerja. Karena si mbak roti ini kan bekerja bukan di dalam toko, yang bisa setiap saat dipantau atau dilihat langsung kinerjanya oleh sang bos.

Tapi si mbak roti ini bekerja di lapangan alias dia harus berkeliling menjajakan roti-rotinya, merasakan panas dan hujan, berhadapan dengan konsumen atau calon konsumen yang kadang sikapnya kurang mengenakkan, merasakan pegalnya kedua kakinya karena menggejot sepeda, dan lainnya.

(Kebetulan pagi tadi -saat aku berangkat kerja- aku sempat melihat si mbak roti baru saja keluar dari salah satu kompleks perumahan dekat perumahan yang aku tempati)

Aku perhatikan dia dengan penuh keikhlasan menata roti-roti yg aku beli.

“Ini bu, semuanya Rp 67.500,” ucapnya sembari menunjukkan angka yang muncul di layar kalkulator.

“Alhamdulillah…,” katanya dengan wajah sumringah saat menerima uang dari tanganku.

“Uangnya uang pas ya bu?” lanjutnya sambil memasukkan uangnya ke dompet kain berwarna biru denim.

“Iya mbak, uangnya sengaja saya kasih uang pas, supaya gampang,” jawabku.

“Kalau gak uang pas juga gak apa-apa kok bu. Kembaliannya pasti ada. Karena tadi saya saya dibawain uang-uang pecahan juga kok bu,” ujarnya.

Aku gak tau apa yang membuat si mbak roti itu semakin tampak sumringah & bersemangat. Apakah karena rotinya saya beli? Apakah karena saya membayar dengan uang pas sehingga dia tidak perlu kesulitan untuk uang kembaliannya? Ataukah alasan yang lain? Aku gak tau apa penyebabnya. Yang pasti, si mbak roti itu jadi bersemangat. Dan aku pun ikut senang.

Dia pun segera merapikan barang dagangannya untuk dia masukkan ke 3 tas kotak. Aku perhatikan cara dia menatanya.

“Sini mbak, saya bantuin natanya,” ujarku saat melihat si mbak roti kebingungan.

“Ini kan roti-roti & kerdusnya sudah mulai berkurang, jadi kayaknya bisa dengan 2 tas aja. Dan tas yang satunya bisa mbak lipat. Jadi mbak gak perlu kebanyakan menenteng tas lagi,” terangku.

Aku menata roti-rotinya dan si mbak roti melipat 1 tas kotak yang sudah kosong.

“Tapi, nanti kalo dilipat rusak gak ya bu?” tanya dia.

“Insya Alloh gak mbak, asalkan melipatnya pelan-pelan. Kan itu tas kotak plastik & kayaknya plastiknya bisa ditekuk-tekuk kok mbak,” jelasku.

Semua roti, plastik, & kerdus roti sudah aku rapikan di 2 tas kotak. Aku perhatikan si mbak roti sepertinya kebingungan untuk melipat tas kotak.

“Begini mbak caranya. Sletingnya dibuka, jadi tasnya bisa dilipat dengan baik. Dompet mbaknya biar aman ditaruh di sini aja, jangan di saku. Nanti jatuh,” kataku sambil mencontohkan melipat tas kotak itu.

“Ih iya ya bu, tasnya bisa dilipat dan gak bikin rusak. Jadi gampang saya nanti bawanya,” ucapnya dengan senyum.

Setelah semua “barang bawaannya” beres, si mbak roti itu pamit. Dari jendela kaca kantor aku perhatikan dia dapat dengan mudah menata 2 tas kotak rotinya di sepeda. Tidak lagi kesulitan seperti ketika pagi tadi dia liat saat menyeberang jalan di kompleks perumahan.

— ✽ ✽ ✽ —

Setelah si mbak roti pergi, aku foto beberapa roti lalu aku kirim via BBM ke keponakanku. Rupanya keponakanku suka dengan rotinya. Jadi roti-roti itu bisa untuk keponakanku. Roti tawar tabur kejunya untuk aku, sedangkan 1 kotak bolu mesis untuk tukang sampah yang biasa mengambil sampah di kompleks perumahanku.

Sebenarnya, aku bukanlah type yang doyan ngemil. Kadang aku beli roti tawar pun baru habis 4 hari atau seminggu setelah membelinya. Dan roti yang aku beli di si mbak roti 4 hari lalu sebenarnya masih ada di beberapa bungkus di rumah.

Atau aku bisa saja membeli roti di toko tempat si mbak itu bekerja, karena letaknya dekat dengan kompleks perumahanku. Bahkan, (mungkin) aku bisa dapat diskon atau tambahan roti jika aku membeli langsung di toko itu, seperti biasanya.

Tapi, bukan itu tujuan aku membeli roti di si mbak roti itu.

Aku membeli lagi roti si mbak itu (insya Alloh) bukan untuk kemubadziran. Karena roti-roti yang aku beli pasti akan ada yang memakannya.

Aku hanya ingin menghargai keringat orang lain. Si mbak roti itu sudah berkeliling dan berusaha keras menjajakan roti-rotinya. Dia juga santun. Yang utama: keikhlasan yang muncul di raut wajahnya dan semangatnya untuk melayani semua konsumen dengan baik.

Lagi pula, roti-roti yang aku beli kan tidak harus aku yang memakannya. Kadang aku membeli rotinya untuk aku berikan ke ibu, adik, keponakan, temen kantor, office boy di kantor, satpam di komplek perumahan, tukang sampah yang biasa mengambil sampah di rumahku, dan lainnya. Supaya mereka bisa merasakan roti yang juga aku makan.

Saat aku berada di dalam mobil yang membawaku untuk kunjungan ke klien-klien, kadang aku lebih senang membawa koran atau majalah yang bisa aku baca di dalam mobil atau aku baca-baca berita di internet melalui BB atau tablet yang aku bawa, dari pada aku melihat anak-anak & orang-orang sepuh (tua) yang harus berpanas-panasan menjajakan dagangan mereka. Ada perasaan gak tega, namun apa daya “kemampuanku” pun terbatas.

Kadang terbesit dalam benakku, pengen rasanya aku memiliki banyaaaaaaaaakkkkkk uang. Supaya aku bisa beli semua yang dijual orang-orang di pinggir jalan itu.

(Semoga aku gak termasuk kaum yang kufur ni’mat, dan selalu dianugerahkan syukur ni’mat.. Aamiin..).

Aku juga orang yang lebih banyak bekerja di lapangan, berhadapan klien-klien dengan beragam karakter sifat, yang kadang bisa bikin aku dongkol.

Lelah…sudah pasti aku rasakan. (Namanya orang bekerja ya pastinya dong merasakan lelah).

Tapi, saat “keringat” kita dihargai orang lain, tentunya itu adalah rasa yang gak pernah bisa digambarkan dengan apapun.

Karena itu, kadang aku membeli sesuatu (sebenarnya) bukan karena aku membutuhkannya. Tapi karena aku pengen mereka (termasuk si mbak roti itu) pulang ke rumah dengan membawa uang. Karena “hasil keringatnya” bekerja seharian sangat ditunggu keluarga.

— ✽ ✽ ✽ —

(Ya Alloh, semoga kami semua selalu Engkau anugerahkan syukur ni’mat, dijauhi dari kufur ni’mat, dimudahkan segala urusan & pekerjaan kami, dilapangkan rizqi kami, dan semoga apa yang kami miliki dapat berkah, dan hidup kami (usia kami) dapat bermanfaat untuk sesama. Aamiin…).

…..Syukur & ikhlas itu ternyata sama. Maksudnya: sama-sama mudah diucapkan, & sama-sama sulit dipraktikkan. Sehingga perlu ‘ilmu khusus’ untuk itu. Dan ‘ilmu khusus’ wajib dipelajari. Sampai kapan belajarnya? Sepanjang usia kita di dunia….. (✽)
Tegal, 1 Juni 2013
Di Ruang Kerjaku….
(Untuk: Si Mbak Roti, terima kasih sudah menambahkan aku ‘ilmu’: ilmu melayani konsumen, ilmu ikhlas, ilmu syukur)

 Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline