Belajar Tegar & Tangguh Dari Zainab Al-Ghazali

Dibanding dengan nama Ibu Teresa, nama Zainab Al-Ghazali mungkin kurang begitu terkenal. Namun, jangan salah, Zainab Al-Ghazali adalah seorang pejuang Muslimah yang tegar dan tangguh di abad 20.

Ia adalah wanita yang sangat luar biasa. Tokoh perempuan asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Dia tidak setuju dengan ide-ide sekuler tentang gerakan pembebasan perempuan.

Perhimpunan yang didirikannya pun mampu melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam. Mereka meyakini dan mampu meyakinkan masyarakat bahwa agama Islam memberikan peluang sebesar-besarnya bagi perempuan untuk memainkan peranan penting di masyarakat, baik itu memiliki pekerjaan, terjun di dunia politik, dan bebas dalam mengeluarkan, namun tetap tidak mengesampingkan fungsi utama perempuan dalam mengurus rumah tangga dan sebagai ibu.

Suatu ketika ia melihat kondisi pemerintahan Mesir melakukan kezhaliman yang luar biasa. Dilandasi semangatnya yang mendalam, Zainab mengirimkan tulisan ke media massa nasional yang isinya mengkritisi kebijakan pemerintah Mesir. Tulisan Zainab serta-merta mendapat respons negatif dari pemerintah Mesir.

 Maka, pada suatu malam diculiklah Zainab oleh aparat pemerintah Mesir. Zainab lalu dimasukkan ke kamar sempit yang gelap gulita dalam kondisi terikat. Beberapa menit kemudian lampu kamar dinyalakan. Dan ternyata di dalam kamar tersebut telah berkumpul puluhan ekor anjing yang disiapkan untuk menyiksa Zainab. Dengan dibalut pakaian putih, Zainab tak henti-hentinya berdoa.

“Ya Allah, sibukkanlah aku dengan mengingati-Mu, sehingga hal yang lain tak terasakan olehku.”
Anjing-anjing tadi pun menyerang Zainab. Menggigit sekujur tubuh Zainab. Ia hanya mampu memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan puluhan anjing tadi menggerogoti tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar dibuka kembali dan lampu dinyalakan. Subhanallah, dengan izin Allah, Zainab tak mendapati sedikit pun luka di sekujur tubuhnya. Allah Azza wa Jalla telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan Zainab sebagai juru dakwah tulisan telah melakukan hal yang patut menjadi renungan untuk para aktivis dakwah tulisan pada hari ini.”  (Dalam “Tinta-Tinta Dakwah”, Dwi Suwiknyo dkk)

Zainab Al-Ghazali meninggalkan jejak perjuangannya,  ia wafat pada 3 Agustus 2005 di usia 88 tahun.  Zainab telah mengajarkan banyak hal, dari kekuatan aqidahnya, perjuangan kewanitaannya hingga goresan-goresan penanya. Bahkan saat bebas dari tahanan ia mampu melahirkan karya berjudul Ayyamun min Hayati (Hari-Hari dari Hidupku). Di dalamnya, ia melukiskan bagaimana ia menerima siksaan yang melampaui kekuatan kebanyakan laki-laki saat berada dalam tahanan. Salah satunya adalah saat ia dimasukkan ke dalam ruangan gelap yang dipenuhi anjing-anjing lapar. Dalam buku itu, Zainab menegaskan bahwa hanya pertolongan Allah dan keyakinanlah yang membuatnya tabah dan membuatnya dapat bertahan hidup.

Ya, hanya kekuatan aqidah yang menghujam dari hati seorang muslim yang mampu mengantarkan kita pada ridha-Nya, meskipun pengorbanan yang ada datang bertubi-tubi.  Saya jadi teringat dengan kisah Sayyid Quthb saat menjelang eksekusi kematiannya. Saat itu Sayyid Quthb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukkan atau menyerah kepada rezim thawaghut….” []

 

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.