Bersahabat dengan Al-Quran

, Bersahabat dengan Al-Quran

Oleh: Savitry “Icha” Khairunnisa

Beberapa hari ini saya merasa tergugah sekaligus terinspirasi setelah membaca newsfeed dari beberapa teman muslim Indonesia. Ternyata gerakan “One Day One Juz” (ODOJ) sedang marak saat ini di tanah air. Intinya, ODOJ merupakan kegiatan pengajian sekelompok muslim yang beranggotakan 30 orang yang tujuannya adalah khatam membaca 30 juz Alquran secara estafet, dan 1 juz secara pribadi setiap hari (di tempat masing-masing). Komitmen dan kejujuran tiap anggota sangat digalakkan karena mereka harus “menyetorkan” bacaannya kepada penanggung jawab kelompok sesuai giliran.

Fenomena ini menarik sekali dan tentunya patut disambut dengan kebahagiaan. Bukankah sudah seharusnya kita rajin mengaji kitab suci tanpa ada paksaan atau suruhan siapapun kecuali Allah Pencipta Qalam? Bukankah Alquran merupakan syarat keimanan kita sebagai muslim? Lalu apakah kita sudah merasa cukup sekedar mengimaninya tanpa mengetahui isinya apalagi sering membaca firman-Nya?

Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri. Seberapa sering kita membuka facebook, twitter, sms, mailing list, berbincang di telepon atau menonton TV setiap hari? Coba bandingkan semua kegiatan itu dengan seberapa sering kita menyentuh, membuka, membaca dan memahami Alquran? Seberapa sering kita bercakap-cakap dengan Allah? Saya yakin pasti sebagian besar kita akan tertunduk malu. Saya termasuk salah satunya.

Tapi seharusnya kita jangan berhenti di situ. Rasa malu itu sepatutnya membuat kita semakin terpacu. Saya sendiri sudah memulainya selama beberapa waktu ini, meski belum sampai pada tahap ODOJ. Terus terang, buat saya pribadi membaca Alquran itu adalah penyeimbang ritme kehidupan. Saya bisa duduk bersimpuh dengan tenang sambil melantunkan ayat-ayat Allah Yang Maha Indah. Sungguh menenangkan dan menyejukkan. Meski saya tak paham keseluruhan artinya, itu tak membuat saya jadi berhenti membaca. Semakin sering kita membaca, meskipun dalam porsi yang sedikit, akan semakin dalam keinginan untuk memahami makna setiap bacaan. Percayalah.

Saya menulis status (yang cukup panjang) ini bukan karena saya merasa sudah lebih baik dari Anda semua. Saya justru ingin menyebarkan semangat membaca Alquran untuk diri kita. Syukur-syukur virus semangat itu bisa kita sebarkan juga ke keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Mengajak kepada perbuatan baik tidak harus menunggu sampai kebaikan kita sempurna tanpa cela bukan? Kesempurnaan itu hanya milik Allah, bukan milik manusia.

Jadi, marilah kita mulai sama-sama semangat dan rajin membaca kitab suci. Bersahabat dengan Alquran. Memahami isinya. Menguatkan keimanan kita. Memperbaiki kualitas diri secara hakiki. Tak ada kata terlambat untuk memulai.

Saya merasa seperti kuda yang dipecut untuk berlari lebih kencang setelah membaca sindiran ini: “Quran is for yourself, not for your shelf” – Alquran adalah untuk bekal diri, bukan sekedar pajangan di lemari.

Awali dari yang sedikit. Karena yang sedikit itu lama-lama akan menjadi bukit. Perbuatan yang baik itu sangat disukai Allah meskipun sedikit, asalkan dikerjakan secara kontinyu.

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata membacanya, mengalami kesulitan melakukan hal itu, maka baginya DUA pahala.” (HR Muslim) []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.