Bertahan

, Bertahan
Oleh: Sofistika Carevy Ediwindra

Punyakah Anda seorang atau lebih sahabat? Tidak punya? Hem, punyailah. Kau punya? Bersyukurlah. Menemukan dan membersamai sahabat hati bukan perkara mudah. Mungkin kita dipertemukan dengan aneka backround yang muncul. Bisa jadi lantaran kesamaan hobi, visi, atau passion. Mungkin juga justru karena perbedaan kita dipersatukan. Berbeda suku, berbeda kebiasaan, klik saja bertemu dan menjadi sahabat.

Dalam perjalanannya, tak jarang konflik memunculkan wajahnya di antara kita. Ya, jangan sampai sang konflik dihindari yang justru tujuan keberadaannya mendewasakan antarkita tak tercapai. Jangan pula menharapkan perjalanan persahabatan yang mulus tanpa aral. Ibarat masakan, ia akan hambar. Tanpa rasa. Senyum dan tawa memang hal yang kita suka untuk menjadi kawan kita dan sahabat. Tapi luka ada dengan segala yang diakibatkan olehnya untuk membuat kita semakin menghargai apa itu tawa dan bahagia bersama sahabat jiwa kita.

Sahabat sejati memang orang yang kita ekspektasikan menjadi pelipur lara dan pembwa bahagia. Namun jika kita hanya siap dengan bahagia tanpa siap bahwa di dunia ini ada banyak warna termasuk luka dan konflik maka kita sungguh rugi. Sahabat sejati, kata sahabat jiwa saya, bukan hanya mereka yang selalu ada saat kita bahagia tapi justru ia yang mengangkat saat kita terjatuh, mengingatkan saat kita keluar lintasan, menjadikan kita dekat pada Rabb kita dan mengisi ruang kosong di diri kita.

Semua hakikat itu adalah bentuk kesadaran atas diri kita yang tak sempurna. Setiap diri kita membutuhkan orang lain untuk berpartner dan menjadi katalisator dalam pencapaian visi hidup kita. Maka mari kita lapangkan diri atas setiap upaya pembenahan yang dilakukan sahabat kita dan kita lakukan atas mereka. Menganggap pembenahan sahabat atas kita sebagai bentuk teguran tak menyenangkan bukanlah hal bijak. Terkadang, peduli itu tidak selalu ditunjukkan dengan memberi hadiah atau semacamnya, namun dengan kritik justru sinyal yang lebih kuat atas kepedulian kita. Diam malah harus lebih kita waspadai. Diam lebih membahayakan karena ia bisa jadi tanda sudah tak ada lagi kekeinginan untuk terlibat dalam hidup sang sahabat.

Tetap bertahan bisa menjadi salah satu cara yang baik untuk mempertahankan jalinan persahabatan. Terus bertahanlah, jangan pernah mundur. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.