Berubah, Berbenah

0

, Berubah, Berbenah

Tidak ada manusia yang tak memiliki kesalahan. Seperti halnya tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kekurangan. Namun demikian sempurna bentuk manusia menjadi jaminan dari Allah dalam surat At Tin ayat 5. Ya, itu janji Allah bahwa kita dicipta dengan kesempurnaan bentuk.

Baca Juga

Perlukah Bimbel Untuk Ujian Nasional ?

Hal yang menjadi kegagalan bagi manusia yakni jika ia tak mau ada perubahan dalam hidupnya. Statis. Diam.
Berubah adalah tanda adanya kesadaran akan kekurangan. Berproses dalam perubahan adalah sinyal bahwa kita menghendaki perubahan, menghendaki perbedaan yang tentu dalam koridor harap ke arah kebaikan. Jika ke arah sebaliknya, lalu untuk apa kita hidup? Bukankah seberuntungnya manusia adalah ianya yang hari ini naik tingkat daripada kemarin? Bukankah sebaiknya manusia yang esoknya lebih terang daripada kemarin?

Setiap langkah hidup kita sejengkal pun mengandung di dalamnya konsekuensi, katakanlah, jika tak ingin sebut dengan kata risiko. Bahkan diam pun bukan jaminan kita tak mendapat efek/akibat atasnya. Jika demikian, bukankah lebih baik bergerak, berubah, dan bergulat dengan segala konsekuensi di dalamnya?

Keputusan untuk berubah menjadi kita yang baru, kita yang lebih baik, bukanlah hal mudah. Dan ingat, jangan harap itu mudah. Pertama, tentu akan ada kontradiksi atas perubahan yang kita putuskan untuk diambil, sekecil apapun perubahan itu. Misalnya, ingin konsisten memakai rok (bagi musimah) atau jilbab syar’i. Sepele? Ya, bagi sebagian orang mungkin ini hal sepele. Tapi bagi sang lakon (pelaku), memutuskan itu bisa jadi adalah hal luar biasa berat. Belum lagi pandangan orang atas dirinya. Ia yang selama ini terkenal ‘gaul’ dengan teman-temannya mungkin menjadi dijauhi dengan perubahan itu. Dilabelkan dengan sok alim lah, aneh, dll. Teman laki-laki yang biasa bercanda haha hihi menjadi krik krik karena kita yang tengah berusaha menjaga interaksi yang berlebihan Hati pun menjadi bergemuruh lagi. Kontraversi terjadi dari luar dan dalam diri.

Kedua, menjaga konsistensi dan meningkatkan level perbaikan diri. Meningkatkan? Boro-boro meningkatkan. Menjaga konsistensinya pun sudah hal yang tak mudah dilakoni. Hal yang harus kita pastikan untuk menunjang visi menjaga konsistensi perubahan dan peningkatan di dalamnya adalah lingkungan (komunitas) yang baik. Ubah mindset jika kita itu single-fighter. Se-single-fighter apapun yang namanya manusia itu butuh back up, butuh partner yang saling menjaga satu sama lain. Jika telah ada di kantung kita komunitas dan partner itu maka terus melenggang dalam upaya kebaikan drai hari ke hari bukan menjadi mimpi semata.

Aduhai, sedemikian sulitkah untuk berubah?

Jika mau jujur, ya, sulit. Tapi apa iya kita mau menjadi manusia pecundang yang kalah dengan tantangan berubah? Apa iya kita mau selamanya diam tanpa ada dinamisasi dalam hidup kita? Bagaimana akhir hidup kita memang penting. Namun, menjaga agar proses setiap jenjang kehidupan kita lebih baik dalam kacamata Allah itu suatu hal yang mesti diupayakan loh.

Maka dari itu saya sangat suka sosok Umar bin Khathab. Ia yang pada masa jahiliyahnya sedemikian keras menentang Islam. Namun ketika hidayah Islam menyentuh, mengaliri tiap inchi nadinya, ia menjadi sosok yang paling keukeuh dalam kebaikan dan pembelaan terhadap Allah dan RasulNya. Ia telah mengalami fase perubahan pan pembenahan yang sedemikian dahsyat dalam sejarah hidupnya yang tertulis dengan tinta emas hingga kini.

So, mari berubah, mari berbenah.

PS. Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri sendiri dan seseorang yang tengah berjuang dalam perubahannya. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.