Catatan Cinta Seorang Mutarobbi (1)

0

tangan menulisOleh: Anisa Prasteyo Ningsih

Cinta, tak ada yang tahu pasti kapan ia hadir dan bersemai indah. Hingga kerap dikatakan membutakan, ya cinta itu buta, entah pepatah darimana. Tapi semoga tidak sampai menulikan dan membisukan. Hingga, dengan kebutaan cinta, kita masih mendengar untuk mau menelaah ke palung hati dan mampu mengutarakan dalam ketegasan. Baik itu adalah baik dan benar itu adalah benar, pun begitu sebaliknya.

Cinta, ia yang akan membuatmu bertahan dan berkorban. Dengan segala daya dan kemampuan. Meski perih dan luka menggores tajam di hati. Perih karena harus menahan diri dari apa yang kau inginkan. Luka karena semua tak sejalan dengan apa yang kau harapkan.

Ya.. Ini lagi dan lagi tentang cinta. Yang mungkin sudah bosan kau mendengar aneka rupa olahan aksara tentangnya. Tak hingga narasi indah bermain dengannya. Tapi, tak jua engkau jemu membaca tentang cinta. Begitukah?

Hela nafas panjang mewarnai literasi yang coba kubangun kali ini. Karena bagiku, ini termasuk tulisan sakral. Tentang cinta yang tak biasa. Adakah kau tahu, cinta macam apa yang inginku tuangkan kali ini?

Ya, mungkin ada satu diantara kalian yang menerka dengan tepat. Ya, ini tentang cinta pada tarbiyah.. Cinta pada tarbiyah..

Kutemukan cinta didalamnya. Pemikiran sang pendiri, membuatku terkesima dan jatuh hati.

Di-tarbiyah, kami punya pertemuan rutin. Sebuah keluarga yang diharapkan dapat saling mengisi satu sama lain. Juga tempat kami mendapatkan ilmu dari ‘guru ngaji’, berbagi qodhoya dan bertakaful. Semua diharapkan berjalan selaras dan seimbang.

Teringat saat mentoring dulu, sang mentor begitu lembut dan perhatian. Menuntun kami dengan penuh sabar dan kerap memberikan kami solusi dari setiap masalah yang dihadapi. Kami pun kerap dapat materi atau ilmu baru. Mentoring menjadi hal yang dirindui. Cipika-cipiki bukan sekedar basa-basi. Tapi, ia benar-benar mencium pipi-pipi kami dengan lembut.. Hingga akhirnya, datanglah suatu masa yang mengharuskan kami ‘pindahan’.

Seiring berjalannya tarbiyah. Mulai kau mengenal tingkatan-tingkatan. Bahasa kerennya, marhalah.

Lalu, bagaimana kabar (yang katanya) naik tingkatan? Apakah makin hangat atau terasa hambar? Masihkan kau rasa mendapatkan ‘sesuatu’ paska pertemuan? Adakah ilmu baru sebagai bekal yang kau kantongi dalam ingatan dan abadikan dengan qolam?

Atau hanya rutinitas pekanan yang kau paksakan? Itu pun dengan malas-malasan, ogah-ogahan bahkan telat-telatan?

BERSAMBUNG

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline