Cinta dan Benci pada Jokowi

, Cinta dan Benci pada Jokowi

Oleh: Ratna Nera

Ini memang bicara soal kubu, mungkin banyak diantara kita tergiring atau menggiring untuk berprasangka buruk soal pencapresan RI, yang sangat jelas dengan dua kandidatnya.

Disadari atau tidak itulah, orang-orang yang tergiring tadi mungkin akan menguap rasa tidak suka dihatinya. Sindiran, ejekan, makian, dan hinaan tak pelak menjadi bombardir terhadap kubu lainnya.

Ada hal yang pantas untuk dibicarakan tentang ini, bukan soal apa-apa ini pula bicara soal konsep cinta dan benci. Ya, cinta dan benci pada tempatnya. Sekalipun kita tidak suka cobalah mengelola rasa benci itu pada tempatnya.

Dan sejak terdengar desas-desusnya sampai diumumkan menjadi capres hampir semua orang berpendapat dan ramai dibicarakan di media masa dan sosial media. Ya, Jokowi. Capres dari PDI P ini bisa jadi memiliki urat sabar yang cukup tebal, secara kasat mata memang seperti biasa dengan gaya khas nya, Jokowi tetap bergeming dan santai soal sindiran, ejekan, makian, dan hinaan. Hanya saja para pendukungnya itu yang seakan-akan menjadi geram. Lihatlah di sosial media—yang saya pikir hampir semua orang terlibat dan punya—apa mesti pemilu selalu ribut hanya karena mendukung habis-habisan kubu masing-masing?

Lebih jauh soal ini, entahlah saya merasa malu. Malu dengan tabiat orang-orang yang justru tergiring untuk kepentingannya hanya karena soal pencapresan ini, baik kepada Jokowi sendiri ataupun lawan dari Jokowi.

Sejujurnya pula saya bukanlah pendukung Jokowi kala ia menjadi gubernur Jakarta ataupun sekarang saat pencapresan RI. Hanya saja orang-orang sampai sebegitunya terhadap Jokowi. Saya tidak memuji dan memuja apalagi menjilat karena sekali lagi saya bukan pendukung Jokowi.

Sungguh kasihan Jokowi, perjalanan panjang memang dilalui Jokowi sampai ia menjadi salah satu kandidat capres, serangan habis-habisan seakan tidak pernah selesai terhadapnya. Memang kasihan, tapi pernahkah kita jauh berpikir, justru serangan-serangan itu akan melenggangkan Jokowi mengalahkan penyerang-penyerangnya sendiri?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 216).

Cinta dan bencilah pada tempatnya dan sekedarnya, bisa jadi kebencian yang membuncah itu dan kita tumpahkan sekarang sama sekali bukan pada tempatnya. Tak tertutup kemungkinan, yang kita benci itu adalah orang-orang atau sesuatu yang bermanfaat nantinya. Bukankah sesama muslim itu bersaudara? []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.