Dua Ibu di Toko Pakaian

 

, Dua Ibu di Toko PakaianTahun ajaran baru segera dimulai, para Ibu yang memiliki putra yang baru saja masuk sekolah tentunya pun ikut mengerubungi toko kain dan toko baju seragam. Begitu juga dengan dua orang ibu ini. Tersebutlah bu Diana dan bu Raisa, keduanya memasuki toko pakaian yang sama. Tentunya untuk membeli baju seragam anaknya.

Saat memasuki toko dengan pendingin udara yang membuat kegerahan lenyap  sesaat. Ternyata tidak sama halnya dengan sang pemilik toko. Mungkin lelah dengan rutinitas yang jauh lebih dahsyat dari biasanya. Sang pemilik itu sedang bad mood, sehingga tidak melayani dengan baik. Malah terkesan buruk, tidak sopan dengan muka cemberut.

Bu Diana jelas jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Namun, yang mengherankan, bu Raisa tetap enjoy, bahkan bersikap sopan kepada pemilik toko itu.

Bu Diana yang terheran-heran pun lekas bertanya, “Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pada penjual menyebalkan itu?”

Bu Raisa pun malah menjawab, “Mengapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Padahal kitalah sang penentu atas hidup kita, bukan orang lain.”

“Tapi ia melayani dengan cara yang buruk sekali,” bantah bu Diana.

“Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk atau apapun itu. Toh tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur dan menentukan hidup kita. Padahal kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri,” jelas bu Raisa.

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau orang melakukan hal buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Dan sebaliknya.

Kalau orang tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah, tiba-tiba menjadi sangat pelit jika harus berurusan dengan orang tersebut. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan orang lain.

Jika direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita. Mengapa untuk berbuat baik saja, harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu?

Jagalah suasana hati sendiri, jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak! Kitalah sang penentu yang sesungguhnya!

I’m an ACTOR, not reactor. []

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat

Ruangan komen telah ditutup.