Eksistensi ADK Pasca Pernikahan

 

 

, Eksistensi ADK Pasca PernikahanOleh: Eca Fauziyah

Pernikahan… Hemmm… sesuatu yang selalu dinantikan setiap orang. H2C (Harap-harap Cemas) menunggu mempelai datang. Malu, ragu, dan cemas, semua bercampur aduk, mengoyak rasa yang mampu meluluhkan hati. Ya, siapa yang tidak ingin menikah? Bersanding mesra dengan belahan jiwa, yang dipertemukan dalam sebuah ikatan suci dan ikrar sakral di hadapan-Nya. Apalagi, Allah telah menjanjikan suatu kenikmatan dan kemudahan bagi hamba yang menyegerakan pernikahan, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An-Nuur:32)”. Lantas, apa lagi yang menjadi keraguan setiap insan yang enggan untuk menyempurnakan setengah dien itu? Karena setinggi-tingginya ilmu orang yang masih bujang, sebaik-baik amalan orang yang masih bujang, masih lebih tinggi dan lebih baik orang yang sudah menikah.

Apalagi, jika dikalangan ADK (Agen Dakwah Kampus), pernikahan selalu menjadi hot news dan top score topic bahasan. Maklum, guncangan dan godaan terbesar ADK adalah lawan jenis. Syetan selalu bisa mencari celah disetiap kesempatan untuk membelokkan hati-hati yang suci. Meskipun waktu syuro’ sudah menggunakan tabir, selalu saja ada cara syetan untuk menyuguhkan godaan, bisa saja lewat suara yang tiba-tiba terdengar merdu atau gagah. Pun, bisa melalui jari-jari lentik yang tidak sengaja terlihat saat menyerahkan absensi syuro’. Hadeh… semuanya mengandung umpan.

Menurut pemikiran yang berkembang, menikah dapat memperkokoh dakwah, karena lebih terjaga. Ada yang mensupport ketika futur, ada yang menghibur ketika lelah, ada tempat berbagi untuk berkeluh kesah, ada tempat bersandar dikala letih menyergap, dan berbagai argumen muncul. Memang benar, tak ada keraguan, meskipun saya toh belum juga ikut mengalaminya. Berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah mendahului, seperti ini. Bahagia sekali tentunya, bisa menyaksikan saudara kita telah menemukan muara hatinya. Dan berbagai doa terucap mengiringkan kedua mempelai.

Ironisnya, ketika pernikahan justru menjadi penghalang untuk berdakwah. Ketika di ajak untuk berjalan, terbelenggu oleh seabrek urusan rumah tangga. belum lagi ketika suami yang protective, membatasi gerak istri untuk beraktivitas (bagi akhwat), dengan dalih,”afwan, saya tidak bisa datang syuro’, suami belum pulang, saya tidak bisa keluar tanpa izin beliau”. Ada sekali, pengalaman seorang teman, saat ada pertemuan ADK, beliau tidak bisa hadir, ketika di SMS, inilah jawabannya, “afwan, ini di rumah lagi repot banget dengan si kecil”, atau ketika seorang pemimpin kemudian meninggalkan amanahnya di sebuah wajihah dakwah, persis setelah menikah. Saya tahu, istrinya adalah aktivis yang sudah tidak perlu diragukan lagi kompetensi dan kapasitasnya, pun ikut menghilang.

Ada pula cerita dari seorang teman di lain kota, yang gemes dengan perubahan sikap ro’isnya yang tiba-tiba menghilang. Setelah dikonfirmasi, ternyata,“afwan, ane sekarang lagi sibuk mengurus keperluan rumah tangga”. Dan masih banyak lagi cerita-cerita serupa yang membuat saya benar-benar gemas. Hadeh… manusiawi memang. Lantas, bagaimana dengan amanah yang ditinggalkan? Ada banyak yang “tersakiti” ketika fenomena seperti ini muncul. Ada goresan yang mungkin agak sulit untuk dihapus, ada hal-hal yang terbengkalai, walau bisa segara diatasi. Inilah dilema tak berujung. Ujung-ujungnya, selalu ada pembelaan, “lho, memang sudah begini siklusnya. Dan harus ada kader yang meneruskan dong”. Memang harus selalu ada regenerasi, tapi bukan berarti hilang sama sekali. Bersikap seolah tak peduli dan hanya sibuk dengan urusan sendiri.

At least, saya hanya ingin bertanya pada antum yang sudah berkeluarga, masihkah semangat dakwah itu menyala, ditengah keribetan dan kebutuhan rumah tangga yang menggunung? Masihkah eksistensi antum bisa dipertahankan, atau bahkan diperkuat ditengah peliknya urusan rumah tangga? Saya menunggu jawaban dan pembuktian.

#mohon maaf jika ada kesamaan cerita. ini berdasarkan data empiris di lapangan.

Artikel Terkait
Anda mungkin juga berminat
2 Komen
  1. Clara Cleopatra berkata

    da’wah tetap harus jalan, walau bentuk kontribusi tidak bisa disamakan dengan mereka yang masih lajang, karena lahan da’wah di rumah, terutama buat ummahat yang berbayi dan berbalita berbeda fokus..tapi buat ikhwannya mah TETAP…GAK BOLEH ADA YANG BERKURANG KUANTITAS MAUPUN KUALITASNYA….ALLOHU AKBAR!

  2. Aida berkata

    Baca artikel ini seolah-olah dakwah cuma di kampus.

Ruangan komen telah ditutup.