Fatimah Memberi Kalung pada Arab Badui (1)

0

 

kupu-kupu bungaDalam kitab Basyaratul Musthafa terdapat kisah nyata yang diketengahkan oleh Abu Ja’farth-Thabary dari Jabir bin Abdullah al-Anshary. Diceritakan pada kitab itu, pada suatu hari setelah Nabi Muhammad SAW selesai mengerjakan shalat, beliau tetap berada dalam masjid bersama para sahabatnya. Kemudian datanglah seorang Arab badui berusia renta dan berpakaian kumal.

“Ya Rasulullah, saya sangat lapar. Mohon saya diberi makanan sekadarnya. Lihatlah saya tidak mempunyai pakain selain yang saya pakai untuk menutup aurat seperlunya,” kata orang Arab badui itu lirih.

Lalu Rasulullah menanggapinya. “Sayang aku sendiri tidak mempunyai sesuatu yang pantas aku beri padamu. Namun, Cobalah egkau pergi menemui orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. ia lebih mengutamakan orang lain yang menderita daripada dirinya sendiri. Ia bernama Fatimah, putriku. Rumahnya dekat sekali dengan rumahku.”

Lalu pergilah Arab badui itu ke rumah Fatimah. Di rumah Fatimah, orang tua itu disambut dengan baik dan ramah.

“Bapak dari mana?” tanya Fatimah dengan lembut.

Ia menjawab, “Saya orang tua dari pegunungan yang jauh dari sini. Tadi saya bertemu dengan ayahmu, hai putri Rasulullah. Saya lapar sekali. Pakaian inipun sudah amat kumal. Tolong saya diberi makan dan pakaian seperlunya saja. Mudah-Mudahan Allah melimpahkan Rahmat-Nya kepadamu.”

Saat itu putri Rasulullah sangat bingung memikirkan sekiranya apa yang akan diberikan kepada orang tua itu. Ia dan keluarganya saja sudah berpuasa 3 hari karena tidak memiliki sesuatu apapun untuk dimakan.

Akan tetapi, melihat orang tua yang demikian sengsara, Fatimah tentu saja tidak bisa membiarkannya. Ia tak ingin orang tua itu pergi dengan tangan hampa. Lalu ia mencari-cari apa yang bisa diberikan dan pilihannya jatuh pada alas tidur yang terbuat dari kulit kambing, alas ini milik Al-Hasan.

Setelah menerima alas tidur tersebut, orang tua itu berkata, “Hai putri Rasulullah, apa yang saya bisa perbuat dengan kulit kambing ini? Saya sangat lapar dan membutuhkan pakaian secukupnya. Kulit kambing ini tak dapat menghilangakan lapar dan menutup aurat.”

Teguran itu tentu membuat Fatimah malu. Dalam keadaan malu itu ia teringat akan kalung pemberian bibinya. Lalu ia segera  menyerahkan kalung tersebut kepada sang orang Arab badui. “Ambilah ini. Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan karunia yang lebih baik,” kata Fatimah.

Tentu saja hal ini membuat hati orang tua itu gembira, lantas ia pergi ke masjid. Di sana Rasulullah masih dikelilingi sahabatnya. Lalu orang Arab ini memberitahu seraya menunjukkan kepada Rasulullah seuntai kalung yang diberi oleh Fatimah kepadanya. Melihat itu, tanpa sadar Rasulullah meneteskan air mata, menyaksikan kemurahan hatri putrinya.

Ammar bin Yasir yang menyaksikan adegan itu seraya berkata,“Ya Rasulullah, bolehkah aku membeli kalung itu?”

Sambil menyeka airmatanya beliau berkata, “Belilah jika engkau mau.”

BERSAMBUNG

  Artikel Terkait

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

you're currently offline